
Dan hari ini adalah hari terakhir Tami kedatangan tamu bulanan. Jadi, hari ini dia harus datang ke dokter untuk pemasangan kontrasepsi. Sebenarnya dia masih sedikit ragu karena Tami tidak ingin mencegah kehamilan yang diberikan Tuhan.
Namun, suaminya sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi. Semuanya karena taruma yang dia alami saat Tami mengalami koma pasca melahirkan kemarin. Dan Tami cukup mengerti dengan apa yang suaminya rasakan. Jadi, dia menuruti saja apa yang di inginkan suaminya, termasuk memasang kontrasepsi.
Alvaro mencium kening istrinya sebelum dia pergi bekerja. "Nanti siang aku jemput kamu ya, sekalian kita makan siang di luar"
Tami mengangguk, dia menatap suaminya dengan lekat. "Kamu beneran yakin?"
"Sayang, berapa kali pun kamu bertanya seperti itu. Jawabanku masih sama, aku yakin dengan keputusanku saat ini"
Tami hanya bisa menuruti keinginan suaminya ini. Tami mengecup bibir suaminya. "Yasudah, aku siap-siap nanti siang"
Alvaro tersenyum, dia senang ketika melihat istrinya menurut. Semuanya juga Alvaro lakukan adalah yang terbaik untuk Tami. Alvaro tidak mau ambil resiko untuk membuat istrinya hamil lagi. Kelahiran si kembar telah membuat Alvaro trauma. Istrinya tidak boleh sampai koma lagi setelah melahirkan. Hal itu membuatnya kacau dan hampir gila.
Dan siang ini Tami sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit bersama suaminya. Dan entah kenapa Tami merasa takut untuk melalukan pemasangan kontrasepsi. Tapi semuanya juga hanya sementara. Gumamnya.
Ketika Alvaro datang, dia sudah siap dan mereka segera berangkat ke rumah sakit. Di perjalanan Tami terus bertanya pada Alvaro, apakah dia yakin dengan keputusannya ini. Tapi jawaban Alvaro tetap sama.
Dan ketika mereka sampai di rumah sakit dan saat ini sedang berada di ruangan Dokter. TamiΒ dan Alvaro mendengarkan setiap penjelasan Dokter. Hingga mereka memutuskan untuk mengambil kontrasepsi yang berlaku selama 5 tahun. Jadi Tami tidak perlu sering memasang kontrasepsi jika seperti itu.
Dan saat pemasangannya, Tami merasa sedikit sakit di bagian bawahnya. Tentu saja, karena ini juga pengalaman pertama dalam hidupnya melakukan hal ini.
Selesai pemasangan dan dokter memberikan obat pereda nyeri pada Tami. Alvaro meringis pelan ketika dia melihat cara berjalan Tami yang sedikit berbeda. Istrinya juga meringis pelan.
Setelah semuanya selesai, Alvaro segera membawa istrinya pulang. Di dalam mobil Alvaro melihat Tami yang masih sedikit meringis. "Sayang, apa sesakit itu?"
"Ya, lumayan sakit"
Alvaro mengelus kepala istrinya, dia merasa bersalah karena telah membuat istrinya sakit. Namun, semuanya sudah terlanjur di lakukan. Jadi dia tidak bisa melakukan apapun.
"Sayang, maaf ya. Aku tidak tahu jika akan menyakitkan seperti ini. Kalau begitu nanti kedepannya kita pilih yang tidak menyakitimu saja"
Tami hanya mengangguk, dia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. "Tidak papa, asalkan kamu senang dan tenang. Maka aku akan melakukannya"
Alvaro mengecup puncak kepala istrinya yang berada di bahunya. Mobil berhenti di lampu merah. Dan hal ini membuat Alvaro mempunyai kesempatan untuk menggenggam istrinya.
"Sayang, mau makan apa hari ini?"
__ADS_1
Tami sedikit berpikir sebentar. "Emm. Apa ya? Bagaimana kalau kita makan di Slick Grind Resto saja"
"Yaudah ayo, kita punya menu baru. Kamu harus coba Sayang"
Tami mengangguk.
Dan mereka benar-benar datang ke Restaurant milik Alvaro untuk makan siang. Dan Tami mencoba menu baru yang ada di Restaurant ini.
"Bagaimana Sayang?"
"Enak, tapi aku kurang suka"
"Katanya enak, tapi kok gak suka?"
"Bukan tidak suka Sayang, tapi kurang suka. Ini terlalu banyak keju, dan kamu tahu sendiri kalau aku kurang suka keju. Sukanya coklat"
"Ya 'kan ini menu makan siang Sayang, masa pake coklat"
Tami terkekeh mendengarnya, memang dia tidak terlalu suka dengan makanan berbau keju. Entah kenapa, tapi dia tidak suka saja.
"Sayang, aku khawatir dengan si kembar. Apa kita tidak terlalu lama meninggalkan mereka ya"
Alvaro menoleh pada istrinya yang sedang duduk di atas sofa. "Tidak papa Sayang, kan ada Mbak juga yang menjaga mereka. Jadi pasti si kembar aman. Aku juga sebentar lagi selesai"
Tami berjalan mendekati suaminya, dia mulai merasa jenuh sekarang. Tami memeluk suaminya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Alvaro dengan nyaman. Alvaro tersenyum melihat sikap istrinya yang sedang ingin bermanja itu. Dia sedikit menggeser kursinya.
"Sini Sayang, duduk sini" Alvaro menepuk pahanya, meminta Tami untuk duduk diatas pangkuannya.
Tami melepaskan pelukannya dan duduk diatas pangkuan suaminya. Menyandarkan kepalanya di bahu Alvaro dengan tangan yang melingkar di lehernya.
"Sebentar lagi selesai ya"
Tami hanya bergumam, dia sedang ingin bermanja saja dengan suaminya. Jadi tidak banyak bicara, membiarkan suaminya fokus pada pekerjaannya. Dan Alvaro benar-benar selesai dengan pekerjaannya.
Alavro mengelus kepala istrinya, dia mengecup puncak kepala Tami dengan lembut. "Sayang, ayo pulang"
Tami bangun dari pangkuan suaminya, dia menatap Alvaro dengan lekat. "Sayang, sudah selesai dengan pekerjaannya?"
__ADS_1
"Iya Sayang, ayo kita pulang"
Tami mengangguk, dia berdiri dari pangkuan suaminya dan berjalan ke arah sofa untuk mengambim tasnya.
"Sayang, sebelum pulang belanja dulu ya. Aku lihat persediaan susu si kembar hampir habis"
"Siap Ibu Ratu, aku akan melakulan apa saja yang kau minta"
Tami tertawa kecil mendengar ucapan suaminya itu. Oh Tuhan, ternyata sebahagia ini ketika bisa bersama orang yang mencintai kita dan kita cintai.
Alvaro menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan. Berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah.
...π«π«π«π«π«π«π«π«...
Berjalan menyusuri lorong-lorong di pusat pembelanjaan dengan Alvaro yang mendoorong kereta belanja, dan Tami yang berjalan disampingnya. Mengambil beberapa barang dan makanan yang dia perlukan.
"Sayang, ini sudah sambal pedas. Kenapa mengambil cabe bubuk lagi?"
Tami menatap suaminya yang menyimpan kembali cabe bubuk yang dia ambil dan disimpan di kereta belanja. "Sayang ih, kan kalau bikin mie instan enak pakai cabe ini"
Alvaro menatap istrinya dengan mata menyipit tajam. "Kamu lupa? Aku melarang adanya mie instan di rumah, karena semua itu tidak sehat"
Tami mencebikan bibirnya, dia tahu setertib apa suaminya dalam hal kesehatan. Tentang makanan yang dia dan keluarganya makan, harus terjamin kesehatannya.
"Sedikit aja ya"
"No!"
Tami benar-benar tidak bisa membantah lagi, ketika suaminya sudah memberi ketegasan padanya. Akhirnya dia hanya membeli apa yang diizinkan oleh suaminya.
Setelah selesai berbelanja, Alvaro segera membawa istrinya pulang. Meski Tami masih sedikit cemberut karena apa yang ingin dia beli, tidak di turuti oleh Alvaro.
"Sayang, semuanya juga demi kebaikanmu. Kamu harus ingat kalau kamu ini baru saja sembuh"
"Iya, iya aku ngerti"
Bersambung
__ADS_1