
Beberapa bulan berlalu, waktu benar-benar terasa cepat. Usia kandungan Tami sudah menginjak 4 bulan. Dan hari ini adalah tepatnya hari pernikahannya dengan Alvaro yang genap satu tahun. Tami sudah menyiapkan beberapa masakan di atas meja makan. Tidak ada acara makan malam di luar, karena Alvaro hanya menginginkan waktu berdua di rumah. Menikmati masakan istrinya.
Hingga ketika dia pulang, Tami sudah menyambutnya dengan dress hitam yang panjang di bawah lutut. Dengan perut yang sedikit menonjol, membuat Alvaro semakin merasa gemas pada istrinya ini.
Cup...
Alvaro mencium kening istrinya, dengan tangan yang juga mengelus perut Tami yang sudah sangat membuncit untuk usia kandungan yang baru 4 bulan. "Sayangku cantik sekali"
Tami hanya tersenyum mendengar itu, dia membantu Alvaro membuka kemeja yang di pakainya. "Cepat mandi, nanti makanannya keburu dingin"
Alvaro mengangguk, dia mengecup bibir Tami yang berwarna pink itu sebelum berlalu ke ruang ganti. Tami turun ke lantai bawah untuk menyalakan beberapa lilin aroma terapi yang sudah dia siapkan. Duduk menunggu suaminya dengan sebuah kotak kecil di depannya. Sebuah hadiah yang akan dia berikan pada Alvaro sebagai hadiah anniversarry pernikahan mereka.
Beberapa saat kemudian, Alvaro datang dengan kemeja yang disiapkan oleh Tami. Kemeja berwarna senada dengan gaun yang di pakai oleh Tami.
"Wahh, banyak sekali kamu masak. Sayang, kamu pasti capek"
Tami menggeleng dengan senyuman manisnya. "Aku tidak capek, karena aku bahagia bisa merayakan hari ini bersamamu"
"Aku juga bahagia, tidak menyangka juga pernikahan kita bisa sampai saat ini. Setelah banyaknya rintangan yang kita lewati"
Tami meraih tangan suaminya yang berada diatas meja. Saling menggenggam satu sama lain dengan pancaran cinta yang besar di balik sorot mata mereka.
"Sayang, mulai saat ini aku minta untuk kamu tetap seperti ini. Meski mungkin 10 tahun ke depan, tubuh aku, wajah aku dan segala dalam diri aku akan berubah. Tapi, aku mohon untuk kamu tetap mencintaiku"
"Sayang ngomong apasi kamu ini? Aku akan tetap mencintaimu, apapun keadaanmu. Jika kedepannya akan banyak cobaan dan rintangan, maka kita harus tetap bersama dan kita hadapi bersama-sama"
Temi tersenyum, dia mengangguk menyetujui ucapan Alvaro. Dia merasa telah benar-benar menemukan teman hidup yang sebenarnya. Teman hidup yang siap menemaninya sampai kapanpun. Melewati dan menghadapi setiap rintangan dan cobaan dengan terus bersama.
"Oh ya, ini hadiah untuk kamu" Tami menyodorkan kotak kecil yang sejak tadi berada di depannya.
"Apa ini?" Alvaro meraih kotak kecil itu dan membukanya. Sebuah foto yang dia tahu jika itu adalah hasil dari USG istrinya. Namun Alvaro tidak mengerti, kenapa Tami memberikan ini.
"Dugaan kamu benar Sayang, calon bayi kita ada dua"
__ADS_1
Hah?
Alvaro terdiam beberapa saat, merasa tidak menyangka dengan apa yang barusan di ucapkan istrinya. "Sayang, maksud kamu bayi kita kembar?"
Tami mengangguk, dia mengelus perutnya yang buncit. "Aku juga kaget pas Dokter mengatakan itu. Pantas saja perut aku udah besar banget dari ukuran normal wanita hamil usia 4 bulan"
Alvaro berdiri, dia mengitari meja dan menghampiri istrinya. Mencium seluruh bagian wajah istrinya lalu memelukanya. Melihat kembali hasil USG di tangannya. Dan dia tersenyum penuh haru, tidak menyangka jika hadiah di hari anniversarry pernikahannya akan membuatnya sebahagia ini.
"Terima kasih Sayang, kamu sudah memberikan aku kebahagiaan ini"
Tami memegang lengan suaminya yang melingkar di dadanya. "Iya Sayang, aku juga merasa bahagia dengan ini"
Makan malam sederhana untuk merayakan satu tahun pernikahan mereka ini benar-benar terasa sangat indah. Kebahagiaan mereka semakin bertambah dengan dua calon bayi dalam perut Tami.
Selesai dengan makan malam, Alvaro menghampiri istrinya yang masih duduk di tempatnya. Mengeluarkan sesuatu dalam saku kemejanya. Sebuah liontin berbentuk bulan sabit debgan beberapa mutiara kecil yang menghiasinya, bergelayun indah di depan Tami.
"Sayang..."
"Sangat cantik, seperti orang yang memakainya"
Tami memegang liontin itu dengan perasaan haru yang menyeruak di dalam hatinya. "Terima kasih Sayang, ini sangat indah"
"Sama-sama, terima kasih juga karena sudah bertahan sampai saat ini. Sudah bersedia mengandung anak-anakku"
"Karena aku mencintaimu"
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Perayaan anniversarry ini tidak selesai hanya di meja makan saja. Saat Tami keluar dari ruang ganti dengan gaun tidur yang melekat di tubuhnya. Maka sudah pasti malam ini akan dia lalui dengan panjang.
Tami menghampiri suaminya yang sedang duduk menyandar di atas tempat tidur. Ketika Tami naik ke atas tempat tidur, maka Alvaro langsung memeluknya dengan erat. Mencium pipinya dengan gemas.
Perut buncit yang terlihat jelas dari gaun tidur transparan yang Tami gunakan. Semakin membuat Alvaro gemas. Entah kenapa sejak hamil, istrinya terlihat lebih ber-aura.
__ADS_1
"Sayang..." Tami menahan tangan Alvaro yang mulai merayap masuk ke dalam gaun tidur yang digunakannya. "...Ma-mau apa?"
"Mau apa lagi jika bukan menikmati malam ini bersama istriku. Sayang, anak-anak kita sudah ingin di jenguk oleh Papanya. Jadi, ayo kita jenguk mereka"
Tami menggeleng pelan, merasa tidak percaya jika Alvaro yang dia kenal baik akan berubah menjadi sosok pria yang mesum seperti ini. Beruntungnya dia hanya mesum pada istrinya saja. Gumamnya.
Dan malam ini semuanya dimulai dengan kecupan-kecupan yang Alvaro berikan di tubuh istrinya. Saling mengerang dan mende*sah kenikmatan dari keduanya hingga larut malam.
Dan pagi ini Tami terbangun dengan tubuh yang terasa lelah, bahkan dia seolah tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya terasa remuk karena ulah suaminya semalam.
"Sayang..." Alvaro duduk di pinggir tempat tidur, dia sudah mandi dan rapi dengan kemeja yang di pakainya. Mengelus kepala Tami dan mengecupnya. "...Aku berangkat ke Resto dulu ya, ada pertemuan penting dengan investor hari ini. Kamu istirahat saja"
"Iya, hati-hati di jalannya"
Alvaro tersenyum melihat istrinya yang bahkan berbicara, tapi dengan mata yang masih terpejam. Alvaro mengelus kepala istrinya dengan rasa bersalah. Semalam dia terlalu bersemangat sampai membuat Tami lelah pagi ini.
"Istirahatlah, nanti siang aku pulang"
Tami tidak menjawab lagi, dia hanya bergumam pelan. Alvaro mencium kembali kepala istrinya sebelum pergi. Dan Tami benar-benar kembali terlelap setelah suaminya pergi bekerja. Namun, entah pukul berapa dia terbangun saat perutnya terasa kram.
"Aduh, kenapa perutku kram ya. Baru kali ini perutku terasa kram"
Tami mengelus pelan perutnya, lalu dia meraih ponsel di atas nakas, ingin menghubungi suaminya agar cepat pulang.
"Sayang, cepat pulang ya. Perutku tiba-tiba kram"
"Iya Sayang, aku pulang sekarang"
Jelas mendengar hal itu membuat Alvaro panik. Dia takut terjadi apa-apa dengan istri dan anaknya. Alvaro segera pulang dari Resto. Melajukan mobilnya dengan cepat agar bisa segera sampai di rumah.
Ya Tuhan semoga istri dan anak-anakku baik-baik saja.
Bersambung
__ADS_1