
Tami sampai di Resto, ketika dia masuk ke dalam Slick Grind Resto. Semua karyawan begitu terkejut melihat kedatangannya. Prita pun langsung menghampiri Tami dan memeluknya. Pria yang terkadang terlihat sangat dingin dan tegas, tapi nyatanya dia tetap seorang wanita yang mempunyai sisi lemahnya juga.
"Mi, syukurlah karena kamu sudah benar-benar sembuh. Aku senang melihat kamu kembali"
"Iya Mi, kami semua senang melihat kamu kembali"
"Kamu tidak tahu si, bagaimana Tuan Alvaro yang begitu frustasi ketika kamu koma"
Para karyawan Restaurant ini begitu merindukan sosok Tami yang begitu ramah pada siapa pun. Apalagi dia juga pernah bekerja sebagai pelayan di Resto ini sebelum dia menikah dengan Alvaro.
"Terima kasih ya semuanya, berkat do'a dari kalian semua. Akhirnya aku bisa kembali bertemu dengan kalian semuanya. Sehat selalu untuk kalian"
"Iya Mi, terima kasih"
Tami melanjutkan langkahnya menuju lift, namun dia melihat Kak Kemal yang berdiri di dekat lift dengan nampan kosong di tangannya. "Kak, apa kabar?"
Kemal mematung ketika dia menoleh dan melihat Tami. Istri dari Tuannya yang di kabarkan koma selama satu tahun. Dan sekarang Kemal kembali melihat sosok ceria itu.
"Mi, ini beneran kamu?" Kemal menghampiri Tami dan langsung memeluk gadis itu. Dia begitu bahagia melihat Tami yang sudah kembali sehat. "...Syukurlah kalau kamu sudah baik-baik saja. Aku senang melihat kamu yang sudah lebih baik sekarang"
Tami menepuk punggung Kemal. "Iya KakĀ terima kasih sudah mendo'akan aku"
"Iya Mi, sama-sama"
Ting..
Ketika pintu lift terbuka dan Alvaro keluar dari dalam kotak besi itu. Melihat pemandangan yang membuatnya marah. Alvaro langsung berjalan menghampiri Tami dan Kemal yang sedang berpelukan itu.
"Apa-apan kalian ini?!"
Seketika Tami dan Kendra langsung melepaskan pelukan mereka. Tami menatap suaminya yang menatapnya dengan tajam padanya. Membuat Tami merinding melihat tatapannya.
"Sa-sayang"
__ADS_1
Kemal menbungkukan tubuhnya sebagai permintaan maaf. "Maafkan saya Tuan, saya tidak bermaksud apa-apa pada Nona. Saya hanya merasa senang karena melihat Nona yang sudah sembuh"
Tami berlari ke arah suaminya, merangkul tangan Alvaro. "Sayang, ayo ke ruanganmu. Aku akan jelaskan ya, sudah ayo"
Tami sedikit memaksa suaminya untuk kembali masuk ke dalam lift. Dia menarik tangan suaminya itu. Di dalam lift, Tami merasakan suasana yang sangat dingin dan mencekam. Sampai pintu lift terbuka, Alvaro berjalan lebih dulu dari Tami.
"Sayang..." Tami segera menyusul suaminya. Menyeimbangkan langkahhya dengan langkah lebar suaminya. "...Aku tidak ada apa-apa dengan Kak Kemal. Dia memeluk aku hanya karena rasa senang ketika dia melihat aku yang telah sembuh"
Alvaro masuk ke dalam ruangannya, dan Tami hanya terus mengikuti langkah suaminya itu. "Ayolah Sayang, aku benar-benar tidak ada apapun dengan Kak Kemal. Kamu jangan salah faham kayak gini"
Alvaro duduk di atas sofa, menatap istrinya dengan sangat kesal. Dia membanting bantal sofa ke atas lantai membuat Tami terkejut dengan itu.
"Ada hubungan atau tidak, yang jelas aku tidak suka kau dekat dengan pria lain! Apalagi sampai berpelukan seperti tadi. Kau anggap aku ini apa Hah?!"
Tami melangkah pelan mendekati suaminya, dia menyimpan tempat makan yang dia bawa di atas meja depan sofa. Lalu Tami duduk di atas lantai dan memegang kaki suaminya.
"Sayang maaf, sudah dong jangan marah terus. Aku juga tidak bisa menghindari saat Kak Kemal yang tiba-tiba memelukku. Semuanya terjadi dengan sangat tiba-tiba"
Alvaro tidak menghiraukan ucapan istrinya. Dia mengambil ponselnya di atas meja dan menghubungi seseorang.
Tami langsung mendongak dan menatap Alvaro dengan terkejut. "Sayang, kamu gak niat pecat Kak Kemal 'kan? Kasihan dia kalau sampai harus kehilangan pekerjaannya karena aku"
"Berhenti menyebut namanya dengan mulutmu itu! Faham!"
Tami langsung membungkam mulutnya, dia menyandarkan kepalanya dia atas pangkuan Alvaro. "Iya, tapi Sayang jangan memecatnya juga. Kasihan dia kalau harus kehilangan pekerjaan karena aku"
"Ck. Kau tidak dengar jika aku hanya akan memindahkannya ke Resto cabang. Aku juga tidak bisa memecatnya, karena selama ini kerjanya baik-baik saja"
Tami menghela nafas lega mendengarnya. Tentu dia tidak mau menjadi penyebab seseorang menjadi pengangguran. "Yaudah, sekarang kamu maafin aku 'kan?"
"Cih. Jangan harap...."
"Sayang..." Tami langsung mendongak dan menatap Alvaro dengan bibir cemberut. "...Kenapa tidak mau memaafkan aku? Kan aku sudah minta maaf"
__ADS_1
Cup..
Alvaro tidak tahan juga dengan bibir istrinya. Membuat dia ingin menciumnya. Menahan tengkuk leher Tami dan semakin memberikan luma*tan lembut di bibirnya. Beberapa detik mereka hanya saling menikmati kecupan di bibir masing-masing. Tami tersenyum tipis, karena jika sudah seperti ini dapat dipastikan jika suaminya memang telah memaafkannya.
"Jangan harap aku bisa marah terlalu lama padamu! Aku belum selesai bicara, tapi kamu sudah memotongnya. Tapi, jika sekali lagi aku melihat kau berpelukan dengan pria lain. Atau bersentuhan apapun dengan pria lain. Maka jangan pernah tanyakan lagi kabar pria itu akan seperti apa. Karena aku tidak akan membiarkannya hidup!"
Tami merinding sendiri dengan ucapan suaminya barusan. Dia berdiri dan duduk di pangkuan Alvaro. Menangkup wajah suaminya, lalu memberikan kecupan di bibir Alvaro dengan lembut.
"Iya Sayang, lagian siapa lagi yang akan memeluk aku? Kan kamu tahu sendiri jika aku tidak memiliki banyak teman"
Alvaro mencubit gemas hidung mungil istrinya itu. "Pokokny aku tidak akan pernah rela melihat tubuhmu di sentuh oleh pria lain"
"Iya tidak akan"
Tami turun dari atas pangkuan suaminya. Dia duduk disamping Alvaro dan mulai membuka kotak makanan yang dia bawa. "Ayo makan siang, aku sengaja membawakan kamu makan siang. Karena selama ini aku tidak memasakan makanan untukmu"
Memang benar, Alvaro cukup merindukan masakan istrinya ini. Karena selama satu tahun terakhir, Alvaro benar-benar merasa hidup sendiri. Tanpa Tami di samlingnya.
Alvaro menatap makanan di atas meja yang sedang di tata oleh Tami. Semuanya adalah makanan rumahan yang disukai Alvaro. "Sayang, kamu gak kecapean masak sebanyak ini"
"Tidak papa, aku juga dibantu Mbak pelayan. Gak masak sendiri"
Alvaro mengecup pipi istrinya dengan gemas. "Terima kasih ya karena sudah memberiku kebahagiaan ini. Melihatmu kembali sehat, dan dua anak yang sangat pintar dan menggemaskan"
"Iya Sayang, sekarang ayo makan" Tami sengaja ingin memanjakan suaminya. Menyuapi Alvaro dengan lembut.
Tentu saja Alvaro dengan senang hati menerima suapan dari istrinya. Dia begitu merindukan masa-masa ini setelah satu tahun istrinya tidak sadarkan diri dan mengabaikan dirinya.
"Enak gak?"
Alvaro mengangguk. "Masakan kamu memang selalu yang paling enak. Terima kasih Sayang"
Tami tersenyum, dia merasa senang saat suaminya begitu menyukai masakan yang dia buat.
__ADS_1
Bersambung