
Tami berlari mengejar suaminya keluar dari gedung tempat acara. Entahlah, kenapa Alvaro semarah itu saat Tami mengungkit tentang alasan kenapa pernikahan ini terjadi. Padahal apa yang Tami ucapkan adalah kenyataan. Tapi, kenapa suaminya malah marah.
"Sayang tunggu, kenapa kamu marah?"
Alvaro mengabaikan teriakan istrinya, mendengar ucapan Tami barusan membuat Alvaro sadar jika sampai sekarang istrinya tidak pernah mencoba membuka hati untuknya.
Brukk..
"Aww.."
Mendengar suara orang terjatuh dan teriakan istrinya, Alvaro langsung menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dimana istrinya terjatuh di antas lentai dengan seorang wanita berambut pirang di depannya.
"Sorry, aku benar-benar tidak sengaja"
Tami mendongak dan menatap wajah orang yang menabraknya barusan. Keningnya sedikit berkerut, merasa jika dia pernah melihat wanita itu. Dia 'kan orang yang aku temui di restaurant, yang keluar dari ruangan Tuan Alvaro. Kenapa dia ada disini?
"Hello, kau tidak papa 'kan?"
Tami mengerjap ketika orang itu melambaikan tangan di depan wajahnya. "Iya tidak papa"
"Sayang.." Alvaro langsung menghampiri Tami dan membantu istrinya berdiri. Mengecek tubuh istrinya, takutnya ada yang terluka. "...Kau tidak papa? Mana yang sakit?"
Tami menggelang pelan, dia masih menatap pada wanita yang menabraknya baruan. "Tidak papa, aku baik-baik saja"
Alvaro menyadari arah pandang istrinya, dia ikut menoleh dan terdiam saat tahu siapa wanita yang menabrak istrinya. Tangan Alvaro langsung mengepal erat, merasa jika Evelin sedang mengibarkan bendera perang padanya. Dengan cara mengusik istrinya, Alvaro tahu jika Evelin pasti sengaja melakukan ini.
"Hai Al, ternyata dia istrimu? Pantas saja aku pernah bertemu dengannya saat di Slick Grind Resto"
Mendengar itu, Tami langsung menoleh dan menatap kedua orang itu dengan bergantian. Mereka saling mengenal ya. Gumamnya.
"Ya, ini istriku!" Alvaro merangkul bahu Tami. Dia menatap Evelin dengan tajam, seolah mengisyaratkan jika dirinya tidak akan membiarkan Evelin mengganggu Tami. "...Sayang, ayo kita pergi"
__ADS_1
"Tapi acaranya belum selesai, apa kamu tidak akan berpamitan dulu pada pemilik pesta"
"Tidak usah, aku sudah tidak mood berada disini..." kata Alvaro sambil menatap tajam pada Evelin. "...Banyak serangga mengganggu"
Avaro segera pergi membawa istrinya darisana. Meninggalkan Evelin yang masih berdiri diam, menatap kepergian mereka.
"Sial, dia menganggapku serangga pengganggu" Evelin menghentakan kakinya dengan kesal.
Tami berjalan mengikuti suaminya yang menggandeng tangannya dengan sedikit kewalahan karena Alvaro yang berjalan begitu cepat. Sampai di depan mobilnya, Alvaro segera membukakan pintu mobil untuk Tami. Tanpa berkata apapun dia pun masuk ke dalam mobilnya. Melihat itu Tami ikut masuk.
Mobil yang melaju meninggalkan tempat acara pesta itu. Di dalam mobil hanya ada sebuah keheningan. Sesekali Tami melirik Alvaro yang fokus pada kemudinya, namun urat rahangnya terlihat begitu menonjol. Menandakan jika pria itu sedang menahan amarahnya.
Kenapa dia semarah itu?
Tami merasa tidak nyaman saat suaminya mendiamkan dirinya seperti ini. Tami sudah terbiasa dengan Alvaro yang perhatian dan selalu banyak bercerita padanya. Alvaro yang selalu menunjukan perhatian yang lebih padanya. Tami mulai terbiasa dengan sikap hangat Alvaro. Tanpa dia ketahui ternyata suaminya ini, memiliki sisi dingin juga.
Hingga mobil telah terparkir di garasi rumahnya, Alvaro tetap mendiamkan Tami. Dia turun dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Meninggalkan istrinya yang masih terlalu bingung dengan sikapnya kali ini.
Tami menghembuskan nafas kasar melihat sikap suaminya. Dia turun dari mobil dan segera menyusul suaminya masuk ke dalam rumah. Masuk ke dalam kamar, Tami melihat suaminya tidak ada disana. Mungkin dia di kamar mandi. Gumamnya. Tami segera masuk ke dalam ruang ganti, menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Meski begitu dia masih memikirkan tentang kejadian di pesta tadi.
...💫💫💫💫💫💫💫💫...
Siapa wanita tadi ya, kok dia mengenal Tuan Alvaro dan juga kenapa Tuan Alvaro terlihat begitu tidak suka pada wanita itu. Apa mereka mempunyai hubungan di masa lalu? Ahh.. Entahlah, kenapa aku merasa tidak suka ketika mengingat jika suamiku memiliki masa lalu dengan beberapa wanita. Apalagi wanita yang tadi juga sangat cantik. Nona Weny juga begitu cantik.
Tami sedang berperang dengan pikiran dan perasaannya sendiri. Ada rasa tidak suka ketika dia memikirkan jika suaminya mempunyai masa lalu dengan beberapa wanita.
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Tami menyudahi segala pemikirkan negatif tentang suaminya. Dia menoleh dan melihat suaminya keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Dada bidang yang terlihat jelas dan perutnya yang jelas sangat terawat karena Alvaro yang rajin berolah raga. Tetesan air dari rambutnya membuat penampilan Alvaro semakin terlihat tampan.
Tuhan, kenapa dia tampan sekali.
Entah kenapa Tami sampai menelan air liurnya sendiri. Sampai dia tidak sadar jika suaminya telah berada di dekatnya. Mengukung tubuhnya, dengan kedua tangan berada di sisi tubuh Tami yang bersandar pada lemari pakaian.
__ADS_1
"Kenapa? Apa aku setampan itu sampai kau tidak berkedip melihatku"
Tami menunduk malu dengan ucapan Alvaro. Memang benar apa yang di katakan suaminya. Dia memang setampan itu hingga membuat Tami tidak dapat berkedip.
Alvaro semakin mendekatkan wajahnya pada Tami, meraih dagu istrinya dan mengangkat wajahnya yang menunduk. Cup.. Di mulai dari kecupan di bibirnya, berlanjut pada luma*tan lembut. Awalnya Tami terkejut dengan apa yang di lakukan suaminya. Namun beberapa saat kemudian dia mulai memejamkan matanya, tangannya memegang handuk yang di pakai Alvaro.
Dengan mata yang saling terpejam, keduanya menikmati kecupan demi kecupan di bibir yang saling bertaut itu. Hingga beberapa saat, Alvaro menyudahi ciuman itu. Dia menyatukan keningnya dan kening Tami, hembusan nafas yang sedikit terengah-engah terasa di kulit wajah Tami.
"Kenapa kau mengatakan itu tadi?"
Tami mengerti apa yang di maksud suaminya. Tentang ucapannya tadi, sepertinya masih menjadi masalah. Tami harus menyelesaikannya sekarang. Menjelaskan semuanya.
"Ak-aku..."
"Dengar ya, apapun yang terjadi kau tetap akan menjadi istriku!"
Ultimatum pertama yang Alvaro berikan pada Tami. Dia tidak akan membiarkan istrinya pergi darinya, bahkan memikirkannya pun Alvaro tidak akan mengizinkan. Dia hanya ingin selalu bersama istrinya, tidak peduli jika Tami masih belum membuka hati untuknya.
Tami menghela nafas, dia memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di dada Alvaro. "Iya, aku tidak akan mengungkitnya lagi. Aku tidak akan membicarakan hal seperti itu lagi. Maaf ya, jangan marah lagi"
Rasanya aku tidak suka saat kau marah seperti itu. Ada rasa yang sakit di hatiku ketika melihat kau mendiamkanku. Entahlah apa yang aku rasakan ini.
Alvaro membalas pelukan istrinya, dia mencium puncak kepala istrinya. Tami menghela nafas lega ketika Alvaro sudah memberikan kecupan padanya. Dia merasa jika Alvaro sudah tidak marah lagi padanya.
"Yaudah, sekarang pakai bajumu. Aku mau mandi dulu"
Alvaro mengangguk, sebelum membiarkan istrinya berlalu ke kamar mandi, dia memberikan kecupan di bibir istrinya itu. Menatap pintu kamar mandi yang tertutup, Alvaro berdiri dengan tatapan yang sulit di artikan.
Aku akan membuatmu percaya padaku dan tidak lagi memikirkan tentang pernikahan kita yang menikah karena pinjaman uang.
Bersambung
__ADS_1
Like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya.. berikan bintang rate 5