My Sweet Girl

My Sweet Girl
Beruntung Memiliki Alvaro


__ADS_3

Tami benar-benar sudah bisa kembali berjalan. Meski masih belum di izinkan untuk berjalan terlalu lama atau terlalu jauh.


"Sayang, aku sudah siapkan baju ganti dan air untuk kamu mandi" Tami keluar dari ruang ganti dan berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk di atas sofa.


Alvaro tersenyum melihat istrinya itu, dia menarik tangan Tami dan mendudukan tubuh Medina di atas pangkuannya. "Sayang, kamu jangan terlalu kecapean. Kamu 'kan baru sembuh"


Tami tersenyum, dia mengelus pipi suaminya dengan lembut. "Tidak papa, lagian sekarang aku sudah sembuh"


"Iya, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Aku 'kan sudah mengerjakan pelayan di rumah ini. Pengasuh untuk si kembar juga ada"


Sempat ada pedebatan yang sengit ketika Alvaro memutuskan untuk mempekerjakan seorang pelayan dan pengasuh untuk si kembar. Tami memaksa untuk mengurus Alma dan Alqi seorang diri. Tapi Alvaro tidak mengizinkannya, karena memang dia tidak mau membuat istrinya kecapean. Apalagi saat Tante yang sudah kembali tinggal di rumahnya, dan Ibu pun sudah jarang datang karena dia juga harus membantu Ayah berjualan.


"Kan kalau aku tidak bisa mengurus anakku seorang diri, maka aku bis mengurus suamiku saja"


Alvaro tersenyum mendengar itu, di mengecup pipi istrinya dengan lembut. "Terima kasih Sayang"


"Oh ya, Dokter Clarissa benar-benar akan pergi dari rumah ini besok?"


Alvaro mengangguk, Clarissa sudah terlalu lama tinggal disini. Jadi dia saat ini sudah saatnya dia untuk pergi, dia melihat bagaimana keadaan Tami yang sudah membaik.


"Iya, tapi dia harus kembali ke luar negara. Aku hanya meminjamnya saja untuk merawatmu saat itu. Dan sekarang aku Clarissa harus pergi kembali keluar negara. Tempat dimana dia bekerja"


Tami mengangguk mengerti mendengar itu. "Dia baik ya, tapi kenapa belum menikah ya?"


Cup..


Alvaro mengecup bibir istrinya yang selalu terlihat gemas ketika Tami bicara. Entalah, apapun yang Tami lakukan pasti selalu terlihat gemas di mata Alvaro.


"Aku tidak tahu, tapi bodohnya kamu pernah menyangka kalau aku menikah dengannya. Bagaimana bisa kau berfikir seperti itu?"


Tami cengengesan mendengar itu, memang dia berfikir terlalu jauh saat itu. "Ya, abisnya kamu sendiri yang bilang kalau kamu akan menikah lagi. Jadinya saat aku sadar dan melihat Dokter Clarissa, ya aku mengira dia adalah wanita yang kamu nikahi itu"

__ADS_1


"Ya ampun Sayang, aku mengatakan itu hanya karena aku ingin kamu segera bangun. Lagian jika kamu memang mendengar ucapanku itu, kenapa kamu tidak segera bangun?"


"Aku juga ingin bangun, tapi entah kenapa mataku rasanya tidak bisa dibuka. Sangat berat"


Alvaro menatap lekat wajah istrinya, merasa sangat beruntung karena istrinya bisa kembali bangun dan bersamanya kembali. Meski terlalu banyak rintangan yang dia hadapi untuk bisa kembali bersama istrinya ini.


"Sayang..."Alvaro merapikan anak rambut Tami yang menuntupi wajahnya. Menyelipkan rambutnya itu ke belakang telinga istrinya. "...Terima kasih karena sudah bertahan untuk aku"


Tami hanya tersenyum, di juga sangat bersykur karena masih di beri kesempatan hidup bersama suaminya lagi. Bahkan dia tidak pernah menyangka jika dirinya bisa melihat kedua anaknya dan menggendongnya. Ketika Dokter mengatakan permasalahan dengan kehamilannya waktu itu. Fikiran Tami hanya dipenuhi dengan keselamatan bayinya. Tidak peduli jika dia harus mengorbankan nyawanya, asalkan kedua bayinya selamat dan sehat.


Tapi lagi-lagi Tuhan begitu baik padanya, dia bisa kembali bangun dan melihat kedua anaknya tumbuh.  "Yaudah sekarang cepat kamu mandi, bukannya mau ke Resto ya?"


"Iya Sayang"


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


Tami asyik bermain dengan kedua anaknya di dalam kamar. Dia begitu bahagia ketika melihat kedua anaknya yang tumbuh dengan sehat.


"Alma, sini nak jangan terlalu ke pinggir" Tami mengangkat tubuh Alma yang merangkak ke pinggir tempat tidur.


Tami benar-benar cukup kewalahan dengan keaktifan kedua anaknya ini. "Mungkin memang benar kata Mas Alvaro, memang harus mempunyai pengasuh. Aku kewalahan dengan kedua anakku ini"


Akhirnya Tami merasa bersyukur dengan keputusan suaminya itu. Karena dia benar-benar tidak bisa menjaga kedua anaknya seorang diri.


"Nona, biar saya saja. Sekarang sudah waktunya si kembar untuk tidur siang"


Tami menoleh pada pengasuh kedua anaknya ini. "Yasudah, biar Alma saya yang tidurkan. Mbak tidurkan Alqi saja"


"Baik Nona"


Tami mengambil botol susu dari pengasuh anaknya. Menggendong Alma dan memberinya susu itu. Tami menatap anaknya yang menyedot air susu dalam botol dengan begitu rakus. Hal itu membuat Tami merasa bersalah. Karena dia tidak bisa memberikan asi untuk kedua anaknya. Koma selama satu tahun telah menghambat pengeluaran asi di tubuhnya. Dan sekarang Tami benar-benar tidak lagi memproduksi asi.

__ADS_1


"Maafkan Mama ya Nak, Mama tidak bisz memberikan yang terbaik untuk kalian. Mama tidak bisa memberikan asi pada kalian"


Tami tersenyum ketika melihat anaknya yang terlelap setelah menghabiskan satu botol susu. Tami turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah box bayi, menidurkan Alma di dalam box bayi dengan perlahan.


"Mbak, apa Alqi sudah tidur?"


"Belum Nona, sepertinya masih belum benar-benar terlelap. Jadi kalau di pindahkan ke dalam box bayi, pasti akan menangis"


Tami mengangguk mengerti, dia menghampiri pengasuh itu dan menatap Alqi yang berada di dalam gendongannya. Mata Alqi sudah mulai sayu dan tertutup. Namun, bibirnya masih belum berhenti menyedot susu di dalam botol susunya.


"Mbak, kalau gitu titip anak-anak ya. Aku mau siapkan makan siang, ingin pergi ke Resto dan membawakan makan siang untuk suamiku"


"Baik Nona"


Tami mulai berkutat di dapur dengan di bantu pelayan. Ketika Clarissa datang setelah setangah hari ini dia mengurus segalanya untuk kepulangannya ke luar negara dan pekerjaannya juga. Clarissa duduk di kursi meja makan, lalu dia mengambil gelas dan menuangkan air minum ke dalam gelas itu. Meminumnya sampai tandas.


"Makan dulu Dok, baru datang 'kan. Pasti sangat lelah"


Clarissa tersenyum pada Tami, dia bersykur karena keadaan Tami yang sudah membaik. Merasa jika usahanya selama ini untuk menjadi seorang Dokter, tidak sia-sia karena dia telah menyembuhkan Tami. Dan membuat sepasang suami istri itu kembali bersama.


"Iya Mi, makasih ya. Bagaimana dengan kakimu?"


Tami memasukkan beberapa makanan ke dalam tempat makanan untuk suaminya. "Lebih baik, tapi masih sedikit sakit dan pegal kalau berjalan cukup lama"


"Ya, makanya kamu tidak boleh berjalan terlalu lama. Harus masih banyak istirahat, dan obatnya juga harus rutin diminum"


Tami mengangguk, dia tersenyum tipis melihat ketulusan Clarissa. "Terima kasih ya sudah merawatku selama ini, sampai aku benar-benar sembuh sekarang"


"Iya Mi, sama-sama. Lagian aku senang bisa membantu kamu dan Al. Banyak yang aku temui selama aku tinggal di rumah ini. Aku melihat bagaimana suamimu begitu mencintaimu dan begitu memperjuangkanmu untuk bisa sembuh. Kamu begitu beruntung bisa mendapatkan pria seperti Alvaro, Mi"


Tami mengangguk, dia memang begitu beruntung mendapatkan Alvaro. "Iya Dok, aku memang sangat beruntung mendapatkannya. Semoga saja Dokter juga akan mendapatkan pria yang baik suatu saat nanti"

__ADS_1


"Iya Mi, semoga"


Bersambung


__ADS_2