My Sweet Girl

My Sweet Girl
Alma Dan Alqi?


__ADS_3

Clarissa melihat kedua bayi mungil di dalam box bayi itu. Keduanya terlihat sangat menggemaskan dengan kulit putih dan pipi yang mulai gembil.


"Mereka berdua benar-benar belum merasakan gendongan seorang Ibu"


Clarissa menoleh, menatap Tante yang tiba-tiba datang disana dan berdiri di sampingnya. "Iya Tan, kasihan mereka. Apa aku boleh mencoba menggendongnya?"


"Silahkan"


Clarissa menggendong bayi perempuan dari Alvaro dan Tami. Dia melihat bayi itu dengan bibir yang mengemut lucu.


"Siapa namanya Tan?"


"Alvaro bahkan belum memberi mereka nama. Dia masih di sibukan dengan kesembuhan istrinya sampai dia tidak sempat memikirkan anaknya"


"Kasihan sekali, nanti biar Aunty marahin Papa kamu ya. Sampai tidak memperdulikan kalian"


Tante tersenyum, dia melihat putri Alvaro yang begitu nyaman di dalam gendongan Clarissa. "Dia sepertinya dia senang bersamamu"


Clarissa tersenyum, dia mencium lembut kening bayi mungil dalam gendongannya itu. "Jangan sedih Sayang, Aunty akan menjaga kalian. Do'akan semoga Mama kalian segera sembuh"


"Nak, apa kamu sudah menikah?"


"Belum Tante"


"Kenapa? Padahal kamu cantik, bahkan karier kamu juga bagus"


Clarissa menoleh pada Tante, lalu dia kembali menatap pada bayi mungil dalam gendongannya. "Belum ada yang cocok saja Tante"


"Emm. Begitu ya, semoga cepat mendapatkan yang cocok ya"


"Iya Tante"


Melihat bagaimana Clarissa begitu baik dan ramah pada setiap orang. Tante merasa nyaman dengan keberadaan gadis itu disini. Dia jadi tidak terlalu kesepian saat Ibu Tami harus pulang dulu ke rumahnya.


"Emm. Al belum pulang dari Resto ya Tan?"


"Belum, mungkin sebentar lagi. Biasanya dia akan pulang sekitaran jam 7 atau jam 8 malam"


Clarissa menidurkan kembali bayi mungil dalam gendongannya ke dalam box. "Rissa pergi ke kamar Tami dulu ya Tan, mau ngecek keadaan dia"


Tante mengangguk.

__ADS_1


Clarissa berlalu ke kamar yang ditempati Tami dan Alvaro. Dia mengecek tekanan darah Tami dan beberapa hal lain. Lalu duduk di pinggir tempat tidur, menatap gadis manis yang sudah satu bulan lebih tertidur panjang. Tubuhnya terlihat sangat kurus. Clarissa meraih tangan Tami, mengenggamnya dengan lembut.


"Kamu sangat beruntung bisa mendapatkan pria baik seperti Alvaro. Jadi, cepatlah bangun dan lihat anak-anak kalian. Aku memang belum mengenalmu, tapi aku tahu jika kamu adalah orang baik"


Terkadang Clarissa suka merasa iri dengan hidup Tami. Ketika dia mendapat cobaan seperti ini,  keluarganya dan suaminya selalu berada di sampingnya. Mendo'akan kesembuhan Tami. Selalu mendapatkan dukungan dari semua orang-orang terdekatnya.


"Cepatlah bangun, kasihan orang-orang yang menunggu kamu bangun dari tidur panjangmu"


Suara pintu terbuka, membuat Clarissa menoleh dan mendapati Alvaro yang masuk ke dalam kamar dengan wajah lelah.


"Al, sudah pulang"


"Iya Cla, bagaimana keadaan istriku?"


Clarissa menghela nafas pelan, memang belum ada perubahan apapun dari Tami. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin, namun sepertinya Tuhan belum berkehendak.


"Masih sama, kita banyak-banyak berdo'a saja. Semoga tubuh Tami cepat merespon obat yang aku berikan"


Alvaro mengangguk pelan, dia menatap sendu istrinya yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. "Yaudah, aku mau mandi dulu"


Clarissa berdiri, dia berjalan mendekat pada Alvaro. "Biar aku bantu menyiapkan airnya. Kasihan kamu pasti lelah setelah kerja seharian"


"Terima kasih Cla"


Clarissa mengganti tugas Tami, membantu Alvaro menyiapkan perlengkapan mandi dan juga baju ganti untuknya. Setelah semuanya siap, Clarissa segera keluar dari ruang ganti.


"Semuanya sudah siap, Al. Aku juga sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu"


"Iya Cla, terima kasih"


Clarissa hanya mengangguk, dia kembali memeriksa keadaan Tami. Menyuntikan obat di infusan Tami, obat yang harus dia suntikan setiap dua jam sekali. Untuk merangsang saraf-saraf dalam diri Tami. Semoga saja, Tami bisa segera merespon dengan menggerakkan anggota tubuhnya. Maka, setelah itu ingatannya pun akan mulai sadar dari alam bawah sadarnya.


"Semoga kamu segera sadar ya, kasihan Alvaro tidak ada yang mengurusi kalau kamu terus tertidur seperti ini"


Clarissa membenarkan selimut yang di pakai Tami. Lalu dia keluar dari kamar Tami.


Dan saat itu Alvaro keluar dari ruang ganti dan melihat istrinya yang masih saja terbaring lemah di atas tempat tidur. Menghela nafas pelan, Alvaro berjalan mendekati tempat tidur. Naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping istrinya. Tidur miring dengan satu tangan yang menyangga kepalanya. Menatap wajah istrinya yang semakin kurus saja. Pipi chubby yang dulu sering Alvaro cium, kini mulai terlihat tirus.


Alvaro mengelus pipi istrinya dengan lembut. "Sayang, kapan kita pergi jalan-jalan bersama anak-anak kita. Oh ya, aku belum memberi mereka nama. Kira-kira nama apa yang bagus untuk mereka? Ayo bangunlah, aku butuh saran darimu"


Setetes air mata mengalir di sudut matanya, ketika Alvaro melihat istrinya yang masih saja diam dan tidak memberikan respon apapun.

__ADS_1


"Sayang..." Alvaro menjatuhkan kepalanya di atas bantal. Menggeser tubuhnya dan memeluk Tami. Mencium pipi istrinya dengan lembut. "... Aku akan memberikan mereka nama, Alma dan Alqi. Bagaimana? Apa itu bagus? Kau suka tidak nama itu?"


Tetap tidak ada respon apapun sampai Alvaro benar-benar terlelap dengan memeluk istrinya.


...💫💫💫💫💫💫💫💫...


"Wah kamu bisa masak juga ya, Nak"


Clarissa yang sedang menata makanan di atas meja terkejut dengan kehadiran Tante disana. Dia tersenyum pada Tante.


"Hanya sedikit bisa Tan, gak benar-benar bisa. Jadi maaf ya kalau rasanya tidak terlalu enak"


"Iya Nak, tidak papa"


Pada saat itu Alvaro datang dengan pakaian yang sudah rapi. Dia melihat menu sarapan hari ini adalah menu makanan yang ala ke barat.


"Kamu yang masak ini, Cla?"


Clarissa mengangguk, dia memang bisa memasak. Namun hanya beberapa masakan luar, karena untuk masakan rumahan dia benar-benar tidak bisa.


"Iya Al, semoga kamu suka ya. Ayo sarapan dulu sebelum berangkat bekerja"


Alvaro mengangguk, dia mulai kembali memperhatikan kesehatannya. Karena jika dia sakit, siapa yang akan memperhatikan istrinya yang sedang koma.


"Oh ya Tan, aku sudah menemukan nama untuk kedua anakku"


"Syukurlah, siapa nama mereka Al?"


"Untuk yang perempuan aku kasih nama, Almaira dan untuk yang laki-laki aku berinama Alqindra"


"Nama yang bagus Al, Alma dan Alqi. Begitukah panggilannya?" Kata Clarissa yang ikut tersenyum mendengar nama yang diberikan Alvaro untuk kedua anaknya.


"Iya, begitu panggilannya"


"Baiklah, sekarang Tante bisa lebih gampang untuk memanggil mereka"


Alvaro mengangguk, dia mulai memakan sarapannya yang dibuatkan oleh Clarissa. "Oh ya, apa Ibu akan datang hari ini?"


"Dia bilang begitu, dia akan datang hari ini"


Ibu selalu datang di pagi hingga sore hari, karena jika sore hari dia pasti harus pulang. Tidak mungkin terus meninggalkan Ayah yang sendirian di rumah.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2