Nafkah Batin Sang Ibu Mertua

Nafkah Batin Sang Ibu Mertua
Bab 34 ~ Memberinya pelajaran ~


__ADS_3

Andre dan Alicia menoleh ke arah suara itu,Andre sangat kaget saat melihat Hanna sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan dingin kepadanya dan juga Alicia.


" Tanggal? jadian aku tidak mengingat itu lagi,memangnya kamu anak remaja yang harus merayakan semua momen yang tidak penting." Ucap Andre dengan senyum merendahkan membuat Hanna semakin marah.


"Oohh...Tentu saja itu sangat penting bagiku,lagian bukan kah kita sudah menikah dan wanita tidak tau malu ini kenapa harus selalu mengikuti mu,apa dia tidak punya otak hingga harus menjadi duri di hubungan orang lain?" Jawab Hanna dengan mimik wajah yang tenang tapi dalam hati sudah menahan amarah yang sangat dalam.


"Hei....Nenek tua...Bukan kah kamu juga tau kalau mas Andre sudah punya istri dan kamu juga sudah punya suami tapi kenapa kamu masih mau menjalin hubungan dengan mas Andre berarti kamu dan aku sama saja sama-sama murahan." Jawab Alicia.Dia berdiri dan menatap Hanna dengan tatapan tajam.


"Sepertinya kamu sudah melewati batas,kamu belom tau siapa aku dan kenapa aku dan mas Andre bisa bersama sampai detik ini.Andre...


Tanyakan kepada kekasihmu apa dia ingin mati...Aku sudah menghilangkan nyawa orang lain,mengambil nyawamu bukan hal yang sulit bagiku."


"Braakk..." Hanna mendekati mereka lalu menusukkan dengan kasar pisau ke atas meja hingga membuat Andre takut setengah mati dan wajahnya berubah pucat.


" Hanna...Buang pisau mu,kita bisa bicarakan ini baik-baik,kamu mau masuk penjara,sudahlah...Jangan terlalu naif nanti kamu menyesal sendiri." Ucap Andre dengan wajah pucat.


Alicia tampak heran melihat perubahan wajah Andrian,dia menatap Andrian penuh aneh,karena Andrian belum pernah menceritakan apa pun tentang masalahnya dengan Hanna.


"Aku tidak takut masuk penjara....Kalau aku berani melakukan sesuatu yang jahat itu artinya aku sudah berani menanggung resiko apa pun." Jawab Hanna.Dia cukup puas melihat perubahan wajah Andre walau sebenarnya hatinya benar-benar panas melihat Andre yang selalu menyakitinya.


" Sudahlah orang tua...Lebih baik kamu pergi dari hadapan kami,kamu hannya mengganggu kegiatan kam_


"Plak..._

__ADS_1


"Ka_..


"Plak....


"Mas...


"Plak..."


Hanna mendekati Alicia lalu melayangkan pukulan ke wajah Alicia beberapa kali hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.


"Sekali lagi kamu berani meremehkan ku,aku tidak segan-segan membunuhmu."Ancam Hanna dia menarik kerah baju Alicia lalu mendekatkan wajah Alicia ke wajahnya dan menatapnya dengan sinis.


"Atau kamu ingin pisau ini merobek wajah murahan mu ini,aku diam selama ini bukan karena aku tidak bisa melawan mu tapi aku ingin melihat bagaimana kamu bersikap ternyata kamu wanita murah." Ucap Hanna lalu melempar tubuh Alicia ke atas sopa.


Andre tidak mencegahnya pergi sama sekali, dia duduk di sopa dengan tenang sambil menghisap rokok yang sudah di nyalakan dan mereka kembali santai seperti tidak terjadi sesuatu.


"Jangan pernah bawa wanita itu kemari lagi,aku sudah muak menjalani hubungan ini,dan kamu sengaja menyiksaku seperti ini agar aku mundur tidak sama sekali mas." Ucap Hanna lalu pergi begitu saja dari hadapan Andre.


Andre beberapa kali menghela napas berat,terlihat kalau dia sedang menyimpan banyak beban pikiran.Dia duduk di atas sopa sudah lumayan lama tiba-tiba saja dia teringat dengan apa yang dia lakukan terhadap orang tuanya beberapa bulan yang lalu.


Dia memang menikmati harta orang taunya beberapa bulan ini, dia bebas melakukan apa saja tanpa memikirkan biaya bahkan sampai saat ini dia hannya memakai uang dari toko yang mereka transfer ke rekeningnya dia sama sekali belum membuka brankas milik papanya,memang dia tidak pernah memberikan apa pun untuk Hanna selain biaya rumah tangga yang dia keluarkan setiap minggunya.


Andre memang menikmati semuanya dengan bebas tapi beberapa Minggu belakangan ini Andre sering bermimpi bertemu papanya dia melihat wajah sedih dari papanya membuatnya kadang takut.

__ADS_1


"Kamu masih disini tanpa melakukan apa pun? kenapa...Kamu menyesal aku sudah mengusir dan mengancam pacarmu? berapa wanita lagi yang kamu bawa ke rumah ini? kamu memang biadap berani sekali kamu mencoba untuk mempermainkan perasaan ku,ingat kalau membunuh papamu saja aku mampu itu artinya melenyapkan mu saja aku bias."


"Stop...Mengancam ******....Aku juga bisa melayangkan nyawamu hannya sekali pukulan tapi aku tidak mau mengotori tangan ku untuk melakukan hal rendah seperti itu." Jawab Andre lalu dia beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.


Hanna duduk di atas sopa..Beberapa kali dia membuang napasnya dengan kasar...Menyesal tentu saja dia sangat menyesal seandainya dia tidak membunuh dan mengkhianati suaminya Handoko mungkin dia akan tetap menjadi nyonya dengan uang yang banyak.


Sekarang hidupnya tidak lebih dari seorang babu tanpa bayaran tapi dia selalu melakukan itu berharap Andre bisa berubah dan mau menikahinya.


****


Tasya baru saja sampai di dalam rumah,dia mencari keberadaan Handoko yang tidak dia temukan di ruang tamu lalu dia beranjak menuju kamarnya dan benar saja pria itu sedang duduk termenung di dalam kamarnya.


"Papa...Apa yang papa lakukan disini? kenapa tidak belajar jalan biar papa cepat pulih dan kakinya juga semakin biasa." Ucap Tasya.


"Udah tadi aku kelelahan." Jawab Handoko.


"Pa..Aku bawa cemilan papa makan dulu ya.." Tasya membuka pusing yang baru saja dia beli lalu dia berikan kepada Handoko.Handoko mulai menikmati puding yang baru saja di bawa Tasya dan kebetulan dia menyukainya.Tasya menatap Handoko meskipun pria itu sudah lumayan tua ketampanan wajahnya belum memudar sama sekali dan bahkan pria itu terlihat semakin awet muda mungkin karena selama bersama Tasya dia selalu mendapat makanan yang bergizi.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu,apa kamu mulai mempertimbangkan tawaranku untuk menikah denganku,Tasya...Menikah lah dengan ku,perasaan di hatiku semakin lama semakin dalam kepada mu,aku mencintaimu Tasya." Handoko meletakkan sisa puding yang ada di tangannya lalu dia meraih tangan Tasya dan menggenggamnya dengan erat.


" Aku juga tidak tahu papa...Aku belum bisa memberi jawaban yang pasti...Aku ragu dan malu pa.." Jawab Tasya dia menunduk menahan malu di hadapan mertuanya.


"Aku ingin kamu berikan Jawaban secepatnya kalau aku sudah sembuh kita akan kembali ke Surabaya dan mengusir kedua iblis itu dari rumah." Ucap Handoko.

__ADS_1


🌺🌺🌺 bersambung 🌺🌺 🌺


__ADS_2