
Handoko membawa mobilnya dengan kecepatan rendah,dia belum mampu membawa mobil dengan kecepatan tinggi karena kakinya masih sangat lemah tapi dia sangat bahagia akhirnya dia bisa hidup normal kembali dan sehat seperti sedia kala.
Handoko sangat berhutang Budi kepada Tasya karena wanita polos itu sudah merawat dan menjaganya selama ini dan bahkan ketulusan Tasya telah menumbuhkan cinta yang begitu dalam di hatinya.
Sepanjang ****** Tasya terus menangis sesenggukan Handoko sangat tidak tega melihat Tasya menagis seperti itu,dia menepikan mobilnya lalu menoleh ke arah Tasya.
"Tasya kamu jangan menangis lagi,hatiku sangat sakit saat melihatmu menangis seperti itu,aku akan melakukan apa pun untuk membuat papamu kembali sehat." Ucap Handoko lalu memeluk Tasya dan menyeka air mata yang jatuh di wajah cantik Tasya.
Setelah Tasya mulai tenang Handoko kembali menyetir,hingga akhirnya mobil mereka sampai di rumah sakit.Tasya keluar dari dalam mobil lalu dia segera berlari menemui ibunya yang ada di IGD,disana ibunya berdiri sambil menangis melihat suaminya yang tidak sadarkan diri sampai saat ini.
Dia sama sekali belum mendapat penanganan karena mereka tidak punya apa pun,selama sebulan ini memang Handoko sudah bolak-balik rumah sakit hingga uang pemberian Tasya sebulan yang lalu habis dan tidak tersisa.
"Ibu...Bagaimana keadaan bapak...Kenapa dia belom di tangani sama dokter Bu..." Tanya Tasya hatinya sangat terluka melihat bapaknya yang di abaikan para tim medis hannya karena mereka orang yang tidak mampu.
"Ibu tidak punya uang dan kamu tau orang yang sakit tidak akan di obati kalau tidak memberikan apa pun kepada mereka." Jawab Ibunya dengan nada gemetaran.Disini Tasya berfikir ternyata negara ini hannya milik orang-orang beruang dan dia orang seperti mereka hannya bisa menagis dan sedih.
"Persetan dengan rasa enggan yang ada di hatiku ,aku akan menikah dengan mas Handoko agar aku bisa hidup lebih layak dan menjadi orang kaya." Ucapnya dalam hati lalu dia pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Hatinya sangat sakit melihat papanya yang hampir mati tapi tidak ada satu pun tenaga medis yang mau memeriksa papanya hannya karena mereka tidak punya apa pun.Tasya berlari kecil mencari keberadaan Handoko perasaanya semakin gelisah karena tidak menemui pria itu di sepanjang koridor rumah sakit,akhirhya dia pergi ke parkiran ternyata Handoko baru memarkirkan mobilnya entah dari mana dia.
Tasya tanpa pikir panjang berlari menghampiri Handoko yang masih berada di dalam mobil setelah itu dia membuka pintu dan kembali masuk ke dalam mobil.
Tanpa aba-aba Tasya memeluk Handoko lalu mencium bibir Handoko sangat lama,dia akan menjual dirinya untuk pria itu asal dia mau membiayai perobatan bapaknya.
Handoko melepaskan tubuhnya dari Tasya,dia sangat kaget saat Tasya melakukanya dengan sangat tiba-tiba.
" Apa yang terjadi,kenapa kamu seperti ini?"
"Tasya kamu jangan bicara seperti itu,sekali pun kamu tidak mau menikah denganku,aku akan membiayai pengobatan orang tua mu,ayo kita pergi aku sudah mengambil uang barusan." Ucap handoko lalu dia mereka turun dari mobil dan berjalan menuju ruang gawat darurat.
Handoko mengurus semuanya,lalu membayar dan menjamin semua biaya calon mertuanya haru ini,benar saja uang sangat berpengaruh di negara ini,secepat kilat Sardi langsung di bawa ke ruang operasi.
Mereka bertiga menunggu di luar,ibunya sama sekali tidak berani bertanya siapa pria itu,dia tidak pokus sama sekali dan bibirnya selalu terlihat berdoa yang panjang untuk suaminya.
Setelah tiga jam akhirnya Sardi selesai di operasi,dia sudah di bawa ke ruang pemulihan walaupun dia masih harus di rawat intensif.
__ADS_1
" Terima kasih tuan karena telah membantu kami,aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi kepada kami kalau tuan tidak ada." Ucap ibunya saat Sardi akhirnya sadar kembali.
"Bu...Ini mas Handoko,dia calon suami ku dan mungkin kalau bapak sudah sehat kami akan menikah,dia sekaligus majikan ku Bu."Ucap Tasya.Ibunya tampak kaget tapi dia tidak bisa berbuat apa pun lagi karena pria itu telah membantunya begitu banyak.
"Ibu tau kamu anak yang baik dan pintar nak,ibu menyerahkan semuanya kepada mu,dan kamu pastinya sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk untukmu,ibu hannya meminta agar kamu lebih hati-hati dan tidak ada lagi yang namanya kegagalan." Ucap ibunya lalu mereka berpelukan dengan penuh haru.
" Aku akan membahagiakannya semampu ku." Ucap Handoko.Ingin sekali dia memanggil wanita itu dengan sebutan ibu tapi karena umur mereka hampir sama ada rasa janggal di bibirnya.
Setelah berbicara begitu banyak akhirnya Tasya dan Handoko meninggalkan rumah sakit,Handoko tampak sangat bahagia senyuman selalu terukir di bibirnya.
"Terima kasih ya sayang...Akhirnya kamu menerima cintaku,aku sangat bahagia ternyata doaku selama ini terkabul sudah." Ucap Handoko sambil menggenggam tangan Tasya.
"Sama-sama mas aku juga berterima kasih kepada mu karena kamu sudah sabar menunggu kepastian dariku." Ucapnya.
Keduanya sangat bahagia,Handoko membawa mobilnya menuju proyek pembangunan mall yang sudah beberapa bulan tidak dia kunjungi walaupun sebenarnya dia selalu mengontrol para pemborongnya dan dia sangat bersyukur setelah sampai di sana pembangunan gedung itu hampir delapan puluh persen.
πΊπΊπΊ bersambung πΊπΊπΊ
__ADS_1