
Mereka bertiga pergi menuju rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari komplek perumahan mereka.Tidak butuh waktu satu jam untuk sampai ke rumah sakit apalagi kalau sudah siang seperti sekarang ini jalanan akan semakin sepi.
Sepanjang jalan Handoko tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Tasya dia benar-benar tidak menyangka mendapat kepercayaan lagi untuk bisa memiliki keturunan di usianya yang sudah tidak muda lagi.
Sesampainya di rumah sakit mereka langsung masuk ke ruangan dokter spesialis kandungan ada rasa gelisah di hati Tasya dia takut dokter yang memeriksanya tadi pagi melakukan kesalahan.
Tanpa banyak bicara wanita paruh baya itu mulai memeriksa Tasya,setelah melakukan serangkaian tes akhirnya dia turun dari ranjang periksa dan kemabli duduk di samping suaminya.Ekspersi sang dokter yang terlihat wajah serius membuatnya semakin takut.
" Tasya.."
" Iya dokter!!" Jawab Tasya dengan nada gugup membuat sang dokter tersenyum melihat sikap Tasya dia cukup mengerti dengan orang-orang yang sudah lama menunggu atau disebut pejuang garis dua.
" Selamat ya kamu sedang hamil dan usianya sudah mencapai lima Minggu,kamu harus bahagia tidak bisa stres dan satu lagi jangan terlalu lelah sekali lagi selamat." Ucap wanita itu hingga membuat Tasya menghela napas lega mendengar kabar baik itu.
Mereka keluar dari ruangan dokter,setelah mereka saling bersalaman Tasya tidak bisa mengungkapkan rasa bahagianya dengan kata-kata yang jelas hari ini dia sangat bahagia.
Begitu juga dengan Handoko,dia bahkan sampai lupa kalau dia sudah pernah memiliki anak,tapi perbedaannya dulu dia pernah meragukan Andre sebagai anak biologisnya karena sebulan dia menikah dengan istrinya dia langsung hamil lebih dari satu bulan.
Handoko tidak pernah mencari tau tentang Andre, karena dia tidak mau almarhum istrinya tersinggung dia memang pria yang baik dan sangat baik bahkan saking baiknya dialah makanya Hanna menyelingkuhi ya beberapa kali tapi dia tetap mencoba untuk memaafkan wanita itu dulu.
Andre membawa mobilnya masuk ke sebuah restoran,sebenarnya Tasya malas dan ingin cepat-cepat sampai di rumah agar bisa istrahat tapi dia tidak mau menjadi orang yang egois.
__ADS_1
" Kita makan dulu ya sayang,Marni kamu juga ikut sama kami kita makan siang disini saja." Ucap Handoko dia keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Marni lalu membuka pintu untuk Tasya.
Handoko memesan banyak makanan,sebenarnya Tasya tidak selera makan tapi apalagi saat melihat begitu banyak makanan di depannya perutnya sudah mulai mual.
" Sayang kamu harus makan yang banyak dan satu lagi katakan apa yang ingin kamu makan,aku tidak ingin anakku kelaparan di dalam perut mu, dia juga harus makan." Ucap Handoko lalu dia mulai menyuapi Tasya.
" Pa..Aku hannya hamil,aku bisa makan sendiri dan juga bisa melakukan semua hal." Tasya protes dengan sikap suaminya.
" Aku hannya ingin dekat saja dengan anakku sejak dia di dalam kandungan." Jawab Handoko Tasya sangat malu atas sikap suaminya apalagi ada Marni bersama mereka.
Setelah mereka selesai makan mereka kembali ke rumah,disana mereka disambut kedua pelayan yang tinggal di rumah tapi bukan Hanna wanita itu tidak terlihat sama sekali sejak tadi pagi.
"Selamat datang tuan dan nyonya,apa hari ini kita mendengar kabar bahagia?" Tanya salah satu pelayan.Handoko tersenyum Handoko membawa Tasya duduk di sopa lalu dia memanggil ketiganya ke ruang tamu.
" Bonus....Terima kasih tuan,kami sangat bahagia kalau tuan memberikan kami bonus semoga tuan terus bahagia dan nyonya sehat sampai lahiran." Ucap Salah satu pelayan ketiganya begitu bahagia saat majikan mereka memberikan mereka bonus tambahan.
" Maunya tuan setiap hari menerima kabar bahagia agar kita selalu dapat bonus,aku benar-benar tidak menyangka nyonya bisa hamil."Mereka mengobrol saat Handoko dan Tasya masuk ke dalam kamar sementara Marni juga mengantar Tasya ke belakang karena sebentar lagi Handoko akan pergi ke tempat kerjanya.
Setelah majikannya kembali dari rumah sakit sesuai perintah Handoko putra berjaga di depan pintu kamar majikannya dia juga heran kenapa majikan lelakinya seakan takut tinggal di rumahnya sendiri.
Belum setengah jam Handoko keluar rumah,Andre sudah keluar dari dalam kamarnya,lalu dia berjalan menuju kamar yang di tempati Tasya.
__ADS_1
" Maaf tuan,anda dilarang masuk ke dalam kamar,tolong anda pergi dari tempat ini." Putra langsung mencegat Andre yang ingin menerobos pintu kamar.
Andre menatapnya dengan tatapan sinis, dia sangat kesal dengan orang-orang suruhan papanya bahkan dia merasa tidak bebas dirumahnya sendiri,orang lain seakan lebih berkuasa dari pada dirinya sendiri.
" Bangsat,kamu tahu kan aku ini siapa,aku pemilik rumah ini berani sekali kamu melarang ku masuk ke dalam,kamu tau anak yang di kandung wanita itu adalah anakku." Ucap Andre membuka semua rahasianya.
Pria itu sedikit kaget mendengar ucapan Andre,tapi berhubung yang memberinya gaji adalah Handoko jadi dia tidak peduli dengan semua ancaman Andre.
" Aku tidak peduli, intinya aku hannya disuruh berjaga disini,aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ini,tolong mengerti tuan." Ucap pria itu tegas dan hal itu membuat Andre semakin kesal akhirnya dia ingin melayangkan pukulan ke wajah putra tapi dia dengan gesit langsung mengelak.
"Jangan coba-coba untuk melawanku tuan kalau anda tidak ingin menyesal aku bisa menghajar mu kalau aku mau,itu perintah dari tuan."
"Dasar bangsat,berani sekali kamu main-main dengan ku,
"Pergilah,aku tidak ingin berbuat lebih jauh lagi." Ucap pria itu lalu dia mendorong tubuh Andre hingga terpental ke lantai.
Andre langsung berdiri dia masih mencoba untuk menghajar putra tapi pria itu menatapnya dengan tatapan tajam membuat nyali Andre menciut akhirnya dengan rasa kesal yang dalam dia kembali masuk ke dalam kamarnya dengan rasa dongkol yang sangat besar.
Sementara itu Tasya yang ada di dalam kamar tiba-tiba dia turun dari ranjangnya dia merasa bosan di dalam kamar,akhirnya dia memutuskan keluar dari dalam kamarnya.
" Nyonya mau kemana aku akan antar."
__ADS_1
"Kalian jangan berlebihan,aku hannya hamil bukan sakit biasa saja,aku hannya ingin keliling di pekarangan rumah ini sudah lama tinggal disini aku belum pernah jalan-jalan di pekarangan rumah." Ucapnya lalu dia keluar dari dalam kamar.
πΊπΊπΊ Bersambung πΊπΊπΊ