Nafkah Batin Sang Ibu Mertua

Nafkah Batin Sang Ibu Mertua
Bab 51 ~ Harga diri ~


__ADS_3

Marni menghela napas berat,dia masih berdiri di depan kamar Andre dia ingin pergi tapi dia takut majikan yang memberinya gaji malah makin marah dengannya.


" Sial serba salah kalau begini?" Ucap Marni dalam hati.Dia mengangkat tangan sekali lagi lalu kembali mengetuk pintu kamar.


" Bangsat....Berapa kali aku bilang,aku tidak mau keluar jangan sampai aku benar-benar marah ya,aku bisa melempar mu dari rumah ini." Teriak Andre dari dalam kamar membuat Marni semakin ketakutan.


Marni akhirnya mengalah dia tidak mau sampai pria arogan itu membuka pintu dan menghajarnya dia merinding hannya membayangkan itu saja akhirnya dia kembali ke ruang tamu.


" Tuan,maafkan aku,tuan Andre menolak untuk datang kesini,dia memarahiku tuan,dia juga mengancam akan memukulku kalau sampai aku memaksanya." Ucap Marni gugup.


" Aahh payah,biar aku saja,dia memang anak kurang ajar." Ucap Handoko dia segera pergi menuju kamar Andre.Handoko mengetuk kamar Andre dengan kasar mendengar pintu kamar di ketuk dengan kasar Andre tersinggung dia segera beranjak dari tempat tidurnya lalu dia membuka pintu kamarnya Andre hampir melayangkan pukulan untungnya dia segera sadar bahwa itu bukan asisten rumah tangga.


" Apa...Pukul! kamu mau pukul papa ayo pukul,dasar anak tidak berguna lihat dirimu,kamu persis seperti orang yang tidak punya harapan hidup kenapa kamu tidak mati saja apa yang kamu lakukan di kamar ini,mabuk-mabukan dasar anak tidak berguna kamu!!" Maki Handoko.Dia begitu marah saat melihat keadaan Andre kamarnya di penuhi botol minuman dan tubuhnya begitu lemah membuat Handoko emosi.


" Keluar kamu,bukan kah Marni sudah memanggilmu,aku tidak peduli dengan keadaan mu sekarang,kamu mau mati juga aku tidak peduli,kamu sudah dewasa sudah tau membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik,sekarang kamu ke ruang tamu." Ucap papanya membuat Andre tidak berkutik.

__ADS_1


Andre menutup pintu lalu melempar botol ke dinding,dia merasa benar-benar seperti orang yang tidak punya harga diri papanya memperlakukan dia seperti sampah yang tidak ada harganya.


Andre keluar dari kamarnya dengan langkah terseok-seok sudah beberapa hari ini dia tidak mau makan dia hannya minum dan minum dan satu pun tidak ada yang peduli dengan keadaannya hal itu membuatnya merasa tidak berharga.


Sesampainya di ruang tamu,dia sedikit kaget melihat semua orang sudah berkumpul termasuk Hanna yang berdiri bersama para asisten rumah tangga dan dua orang pria bertubuh tegap dan berkulit hitam.


" Baiklah kalian semua sudah berkumpul di ruangan ini,berhubung keadaan ku sudah benar-benar sembuh mulai besok aku sudah bisa bekerja seperti biasa kamu Riski bekerja sebagai penjaga pintu depan dan kamu putra berjaga di depan kamar nyonya kamu Marni menjaga nyonya setiap waktu." Ucap Handoko seketika itu Andre membelalakkan matanya dia tidak percaya papanya begitu protektif hingga sampai memperlakukan Tasya seperti itu.


Tasya juga merasa tidak nyaman seperti itu,rasanya dia seperti terikat dan tidak ada kebebasan.


" Tidak sayang,aku tidak berlebihan,aku akan mulai sibuk bahkan mungkin aku akan keluar kota sesekali,aku tidak mungkin meninggalkan kamu di rumah yang ada orang yang pernah hampir membunuh kita_


" Apa maksud semua ini,apa kamu curiga aku melakukan hal buruk di rumah ini,segitunya kamu memperlakukan aku,kamu lupa kalau aku ini putramu satu-satunya,kamu lupa semua harta ini tidak murni milikmu ada milik mama juga disini,kenapa kamu begitu serakah ingin menguasai segalanya_


" Putra kamu bilang,kalau kamu merasa aku ini papamu,kenapa kamu sampai tega ingin membunuhku dan bahkan kamu tega membuang ku,apa kamu sadar apa yang kamu lakukan,jika dulu kamu ingin aku memberikan bagian mu kenapa kamu tidak minta kenapa harus merencanakan pembunuhan. Ucap Handoko penuh emosi dia memotong ucapan Andre yang tidak pernah sekali pun merasa bersalah akan perbuatannya.

__ADS_1


Untuk sesaat Andre terdiam dengan semua ucapan papanya,Handoko mengira kalau dia telah menyadari semua kesalahannya,kalau bukan karena dia sadar kalau dia putra satu-satunya mungkin sudah lama dia menendang anak itu ke kantor polisi tapi dia tidak mau almarhum istri pertamanya sedih dengan semua ini dan dengan terpaksa dia menyuruh orang untuk menjaga rumahnya agar tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan.


" Wanita itu telah menguasai pikiranmu, dia telah mempengaruhi mu,agar melakukan semua ini dia lupa dari mana asalnya dia memperalat mu." Ucap Andre sambil menatap Tasya dengan tatapan penuh kebencian.


" Tutup mulutmu,dia wanita yang begitu baik,disaat kamu sebagai putraku,darah daging ku kamu malah membuang ku dia yang telah merusak menolongku hingga bisa sembuh seperti sekarang ini kalau tidak ada dia aku yakin aku sudah mati." Ucap Handoko.Andre terus menatap Tasya hingga Tasya tidak berani menatap Andre dia menunduk karena takut melihat wajah Andre.


" Semuanya bubar,mulai hari ini semua tugas yang aku perintahkan sudah bisa di lakukan dan kamu Hanna jika kamu tetap bertahan di rumah ini,kamu harus bekerja sebagai asisten rumah tangga kamu bagian kebersihan rumah,aku tidak ingin kamu membantah kalau kamu tidak terima silahkan pergi." Ucapnya penuh tekanan.


Hanna tidak bisa membantah apa pun yang diperintahkan Handoko saat ini,karena dia tidak punya uang dan tempat tujuan kemana dia akan pergi.


Semua orang sudah membubarkan diri,tapi Andre tidak beranjak sama sekali,dia masih berdiri di ruang tamu dengan wajah yang masih belum puas mengeluarkan rasa kesal di hatinya.


" Pa aku mohon ceraikan Tasya dia tidak pantas untukmu,dia hannya memanfaatkan mu,dia sudah tau kamu tua dan hidupmu tidak akan lama lagi sementara kamu banyak harta dia mengingkan harta warisan." Andre menatap papanya dan mulai merendahkan nada bicaranya Handoko yang mendengar kata-kata Andre hannya tersenyum dia tidak terpengaruh sedikit pun dengan kata-kata anaknya.


" Kalau dia tidak pantas untukku,terus siapa yang pantas,kamu...Bukan kah kamu sudah pernah menikahinya kenapa kamu menghianatinya,sekarang disaat kami sudah bahagia kamu malah bilang dia tidak pantas." Jawab Handoko dengan senyum getir.Tasya yang sudah menahan rasa pusing dari tadi berusaha beranjak dari tempat duduknya tapi kedua kakinya gemetaran hingga dia terjatuh ke sopa kembali.

__ADS_1


🌺🌺🌺 Bersambung 🌺🌺🌺


__ADS_2