
Tasya memeluk tubuh suaminya dia juga merasa sedih atas apa yang menimpa mantan suaminya itu,sebesar apa pun kebenciannya terhadap Andre dia tidak bisa memungkiri kalau dia juga merasa bersalah terhadap dirinya karena selama ini dia selalu menghindari pria itu,tapi dia sebagian melakukan itu karena ingin menghindari fitnah.
"Aku tau pa,tapi apa kamu harus menghukum dirimu sendiri terus seperti ini,kalau kamu sakit nanti semua orang makin sibuk lebih baik sekarang kita makan dulu karena dari pagi kamu belum makan sama sekali." Ajak Tasya.Dia memang prihatin dengan mereka berdua hubungan mereka tidak pernah akur tapi bukan berarti harus menghukum dirinya seperti itu.
Tasya memaksa Handoko keluar dari rumah sakit lalu mereka Pergi ke arah penjual makanan pinggir jalan lalu Tasya memesan makanan untuk mereka berdua.Sebenarnya Handoko tidak ingin makan di tempat seperti itu karena memang dia jarang makan di pinggir jalan tapi karena malas berbicara dia hannya bisa menuruti keinginan istrinya itu.
"Makanlah pa,aku sengaja membawa mu makan di tempat seperti ini agar kamu sedikit terhibur,jangan larut dalam pikiran yang menyakitkan." Ucap Tasya lalu dia mulai menyantap makanan yang baru saja dia pesan.
Dia begitu lahap makan,karena makanan seperti itu adalah makanan yang paling pas di lidahnya sudah lama sekali dia tidak makan makanan pinggir jalan.Dia memperhatikan Handoko yang cuma mengaduk makanannya melihat suaminya suntuk seperti itu dia juga merasa tidak enak.
"Pa,makan lah walau cuma sedikit,sampai kapan kamu akan terus seperti ini,ingat pa semua itu tidak luput dari takdir sang pencipta,apa pun yang terjadi sebagai manusia biasa kita hannya bisa pasrah dan berdoa semoga Andre segera sadar." Ucapnya lalu mengucap punggung suaminya.
Tidak ingin membuat istrinya ikutan stres apalagi posisinya yang sedang hamil akhirhya Handoko memasukkan makanan ke dalam mulutnya walau hannya beberapa sendok setelah itu mereka meninggalkan tempat itu dan kembali ke dalam rumah sakit.
Sementara itu di sudut salah satu cafe Hanna sedang duduk dipojokan sebuah cafe sambil memainkan ponselnya sepertinya dia sedang menunggu seseorang datang untuk menemuinya.
"Hanna...Kamu sudah lama menunggu?" Tiba-tiba adiknya Tomi datang menghampirinya lalu duduk di depan kakaknya.
__ADS_1
"Lumayan,kamu sendirian kan,kamu tidak perlu membawa orang lain kalau sedang menemui ku." Ucap Hanna lalu membuka tasnya.
"Mana bagian ku,kamu sudah menjual barang yang kamu bilang kan,aku sudah tidak sabar untuk mendapat bagian ku." Ucapnya dengan mata memerah saat Hanna mengambil beberapa ikat uang kertas berwarna merah.
"Ini bagian mu,ini masih belum seberapa,kamu harus bisa bekerja dengan rapi,satu lagi pelayan di rumah yang bernama Marni singkirkan dia terlebih dahulu karena dia bisa menghalangi rencana kita,aku tidak tau apa kabar manusia iblis itu terlihat jelas dia orang jahat sampai saat ini dia belum juga mati hannya saja dia sekarat." Ucapnya dengan tatapan penuh kebencian dan dendam.
Tomi mengambil uang pemberian kakaknya dia terlihat sangat bahagia, beberapa kali dia mengibaskan uangnya ke wajahnya sendiri.
"Aroma uang merah memang sangat berbeda,aku harap aku bisa mendapat uang yang lebih banyak lagi.Tenang saja aku akan mulai bekerja lusa aku akan memberinya pelajaran atas apa yang telah dia lakukan kepada mu." Ucapnya kembali. Setelah menyetujui kesepakatan dan Tomi sudah menerima uangnya dia segera meninggalkan Hanna di dalam cafe lalu dia mencari carteran mobil untuk dia pakai untuk melancarkan aksinya.
Hanna segera keluar dari cafe semua uang penjualan barang curiannya sama sekali tidak ada dia pakai foya-foya dia menyimpannya untuk jaga-jaga kelak adiknya meminta uang kepadanya.
"Oohh ternayata kamu masih berani pulang ya? kenapa kamu kembali lagi,Hanna bulan ini mungkin kamu tidak akan mendapat gaji,aku akan bilang sama tuan Handoko agar gaji mu tidak di kasih dan di bagikan kepada semua pelayan karena kamu selalu bolos kerja." Ucap Marni sambil menatapnya dia memegang keranjang belanja sepertinya dia ingin keluar rumah.
Hanna merasa masa bodoh dengan apa yang di katakan Marni,dia mulai memutar otak agar bisa ikut bersama Marni,dia ingin sesegera mungkin melenyapkan wanita itu.
"Terserah kamu saja,aku tidak peduli, aku tidak peduli dengan gaji yang kamu bilang karena aku disini bukan babu."Jawab Hanna lalu meninggalkan Marni.Setelah sampai di dalam kamarnya Hanna segera mengirim pesan kepada adiknya,ini adalah kesempatan untuk mereka berdua karena Marni jarang sekali keluar rumah.
__ADS_1
"Dasar orang tidak punya malu,harusnya kamu malu masih tinggal di rumah mantan suami mu yang sudah menikah,untung saja nyonya Tasya orang yang sangat baik tidak pernah mempermasalahkan kehadirannya kalau aku jadi nyonya aku sudah lama mengusirnya." Sungut Marni lalu dia segera meninggalkan rumah.
Untuk mengirit ongkos Marni sengaja berjalan keluar komplek dia ingin naik angkutan umum saja,dia sengaja menolak ajakan Putra karena sudah lama dia tidak keluar rumah dia ingin jalan-jalan sendiri.
Marni berjalan santai sambil memegangi keranjang barangnya, dia menatap sekelilingnya yang sepi mungkin karena tempat itu komplek orang kaya disana jarang terlihat ibu-ibu tukang gosip.
Saat Marni asik berjalan tiba-tiba dia melihat mobil Innova hitam berjalan ke arahnya tiba-tiba mobil itu berhenti di depannya dan keluar dari dalam mobilnya.
"Numpang tanya Bu,apa di komplek ini keluarga yang bernama Handoko?" Marni sedikit bingung dengan pria itu,dia merasa familiar dengan wajah pria itu tapi dia lupa dimana dia pernah bertemu pria itu.
" Ada pak,kira-kira empat rumah dari sini kalau boleh tau anda mencari siapa kebetulan saya pelayan di rumah itu." Sepanjang pembicaraan mereka Tomi.tampak gelisah dia selalu sibuk melihat keadaan disaat semuanya sangat sepi tiba-tiba dia menutup mulut Marni dengan sapu tangan hingga dia tidak sadarkan diri.
" Berat sekali tubuh wanita ini,mungkin karena dia terlalu ikut campur dengan urusan orang lain,sekarang kamu ikut aku kita bersenang-senang dulu." Ucap Tomi saat dia sudah memasukkan tubuh Marni ke dalam mobilnya.
Tomi mengirim pesan kepada Hanna,sebelum dia meninggalkan tempat itu,lalu dia membawa Marni ke sebuah rumah tua yang jauh dari pemukiman warga lalu menyekapnya disana.
" Andaikan kamu tidak terlalu ikut campur aku tidak akan mengusik mu, tapi kamu terlalu ikut campur dengan urusan orang lain." Ucapnya dengan senyuman jahat di bibirnya.
__ADS_1
πΊπΊπΊ bersambung πΊπΊπΊ