
Wajah Hanna memerah saat Marni memberitahunya,dia ketakutan jika memang Marni melihatnya padahal selama ini dia bekerja sangat rapi dan selalu melihat keadaan rumah sebelum masuk ke kamar Andre.
" Kamu jangan asal menuduh,aku bisa menuntut mu jika kamu sembarangan bicara tanpa bukti." Ucap Hanna dia berusaha tetap tenang agar Marni tidak curiga dengannya.
Tapi seorang Marni memang pintar membaca mimik wajah orang lain dia semakin mencurigai Hanna kalau dia ada hubungannya dengan pingsannya tuan Andre.
"Memangnya kamu masih punya uang untuk menuntut ku,kamu pikir kamu masih menjadi istri tuan Handoko,kamu itu hannya pelayan yang berharap mendapatkan semua harta tuan Handoko." Ucap Marni.
Hanna terdiam,dia tidak menyangka Marni begitu pintar memojokkan dirinya dan bahkan sepertinya dia tau tujuannya yang sesungguhnya.
"Sudahlah lebih baik kamu keluar dari kamar ku,silahkan kamu menuduhku jika kamu punya cukup bukti jangan cuma bicara disini." Ucapnya lalu mendorong Marni keluar dari kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dari dalam.
"Sialan,sepertinya dia bukan orang yang gampang di hadapi,biarkan dia mati jika memang dia mengingkan itu,jika ada orang yang ingin ikut campur dengan urusan ku,maka aku tidak segan-segan untuk melenyapkan dirinya." Ucapnya dengan penuh amarah yang tersembunyi.
Tidak ingin rencananya gagal untuk melenyapkan Tasya dan Handoko agar bisa memiliki semua hartanya Hanna keluar dari dalam kamar,mungkin karena semua orang sibuk dengan Andre semua pelayan mengabaikan pekerjaanya mereka di dapur berkumpul entah apa yang mereka bahas.
Setelah melihat suasana aman dan penjaga yang biasanya berjaga di depan kamar Tasya kali ini putra tidak terlihat Hanna menghela napas lega lalu dia berjalan menuju kamar Handoko dan Tasya.
Setelah sampai di kamar Handoko,Hanna berdiri di depan pintu yang sudah dia tutup dari dalam,dia memandangi isi kamar yang tidak berubah sama sekali semuanya masih seperti dulu saat mereka masih bersama.
__ADS_1
"Seharusnya kamar ini masih milikku,tapi semuanya hilang setelah kehadiran wanita itu,dia telah mengambil semua milikku." Ucapnya dalam hati lalu dia duduk di pinggiran ranjang mengingat semua kenangan indah bersama mantan suaminya itu.
Tidak ingin berada di kamar itu terlalu lama,Hanna akhirnya melakukan aksinya, dia membuka lemari tempat di mana dia menyimpan semua perhiasan miliknya dulu,saat dia mendapat kotak perhiasannya ternyata kotaknya sudah kosong.
Dia membuka lemari yang lain,mencari barang berharga yang bisa dia ambil dia tidak punya uang padahal adiknya meminta uang kepadanya agar mau membantunya untuk melakukan aksinya.
"Sepertinya di kamar ini tidak ada lagi barang yang bisa di jual,sial sekali...Jangankan barang berharga uang sepeser pun aku tidak bisa temukan ucapnya dalam hati mulai kesal.Saat dia hampir putus asa matanya tertuju ke laci kecil yang ada di dalam lemari dia bergegas membuka lemari itu ternyata dia menemukan sebuah jam tangan mewah.
"Yes....Akhirhya dapat juga,aku harus pergi." Ucapnya lalu dia segera memasukkan jam tangan itu ke dalam kantongnya lalu dia siap-siap keluar dari dalam kamar.
Hanna membuka sedikit pintu lalu memperhatikan sekiranya,melihat keadaan yang masih sepi dia segera membuka pintu lalu dia keluar dari dalam kamar.
"Apa yang kamu lakukan di kamar tuan Handoko?"
"A_aku hannya memeriksa kebersihan kamar tuan Handoko aku tidak melakukan apa pun." Setelah mengucapkan kata-katanya Hanna buru-buru pergi dan meninggalkan Putra dia tidak ingin pria itu semakin curiga dengannya.
"Tunggu...."Hanna menghentikan langkahnya,kali ini dia benar-benar seperti orang yang ketahuan mencuri jantungnya terus berdetak hebat dia takut Putra memeriksanya.
" Tingkah mu membuatku curiga kalau kamu melakukan sesuatu di dalam kamar itu,jangan-jangan kamu mencuri sesuatu dari sana." Tuduh putra membuat Hanna semakin ketakutan.
__ADS_1
"Jangan menuduhku seperti itu,biar bagaimana pun juga aku ini mantan istrinya mas Handoko andai kata pun aku mengambil sesuatu dari kamar itu kamu tidak ada hak untuk menuduhku." Ucapnya lalu dia segera pergi meninggalkan Putra yang sudah curiga kepadanya apalagi saat itu dia melihat kantong belakang Hanna yang sedikit mencurigakan.
"Sial...Sial...Sial...Kenapa sih orang-orang di rumah ini seperti setan,selalu saja datang dengan tiba-tiba hampir saja aku ketahuan,sepertinya aku harus lebih hati-hati." Ucapnya dalam hati.Hanna memandangi jam tangan milik Handoko dia tau jam itu barang mahal,dia menciumi jam itu beberapa kali lalu dia masukkan ke dalam tas miliknya.
Tidak ingin menyimpan lebih lama barang curiannya di dalam kamar,Hanna keluar dari kamar lalu pergi meninggalkan rumah dia ingin segera menjual jam tangan curiannya agar bisa menjadi uang.
Melihat Hanna buru-buru keluar dari kamarnya dan gelagatnya mencurigakan Marni yang ada di dapur berlari kecil lalu mengejar Hanna yang sudah hampir keluar dari pagar rumah.
"Hanna kamu mau kemana lagi,lama-lama kamu tidak tau diri ya,kamu selalu keluar rumah sesukamu,bukan kah kamu juga bekerja di rumah ini kenapa kamu tidak mengikuti aturan yang ada di rumah ini?" Ucap Marni yang tiba-tiba menarik bajunya dengan kasar.
"Cukup Marni!!! lepaskan bajuku kamu juga lama-lama belagu ya,kamu tau kan aku ini mantan istri majikan mu dan pria itu belum memberikan harta gono-gini kepada ku itu artinya aku masih punya hak di rumah ini." Jawab Hanna dengan nada tinggi lalu menepis tangan Marni yang memegangi bajunya dengan kasar.
" Tidak kamu tidak bisa keluar,kalau kamu berani keluar kamu tidak bisa lagi kembali ke rumah ini,kamu paham!!" Ancam Marni lalu dia masuk ke dalam rumah.
"Persetan dengan babu seperti mu,sepertinya kamu target kedua yang harus aku singkirkan." Ucap Hanna dalam hati lalu dia segera masuk ke dalam taksi yang sudah dia pesan.
Sementara itu di rumah sakit,keadaan Andre belum ada perubahan sama sekali padahal dia sudah dirawat sejak pagi,dia masih belum sadar bahkan keadaan jantungnya semakin memburuk membuat Handoko semakin ketakutan.
Sejak tadi pagi Handoko sudah beberapa kali menyalahkan dirinya sendiri,hal itu membuat Tasya merasa kasihan dengannya.
__ADS_1
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sesuatu yang buruk terjadi kepadanya,biar bagaimana pun dia orang pertama yang memanggilku papa,aku terlalu egois memang dan selalu merasa paling benar." Ucapnya dengan nada yang semakin lemah.
🙏🙏🙏 bersambung 🙏🙏🙏