Nafkah Batin Sang Ibu Mertua

Nafkah Batin Sang Ibu Mertua
Bab 72 ~ Gagal lagi ~


__ADS_3

Tomi kesal mendengar semua ocehan Hanna,akhirat dia mempercepat laju mobilnya agar cepat tiba di rumahnya.Tidak lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah Handoko dia segera turun dari mobil adiknya.


"Cari cara agar secepatnya kita menguasai semua ini,aku tidak mau kita selalu gagal masalah Marni serahkan padaku." Ucapnya dengan langkah kecil cepat dia segera masuk ke dalam rumah.


Saat dia membuka pagar rumah dia melihat Riski menatap aneh kepadanya,dia tidak peduli tapi tiba-tiba dia menoleh ke arah Riski kembali jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya takut Marni benar-benar kembali ke rumah itu.


"Ada apa kamu menatap aku seperti itu?" Tanya Hanna mendekati Riski yang sedang duduk di tempatnya.


"Aku tidak menatap mu,siapa yang menatap mu,apa yang harus kulihat darimu,memangnya kamu siapa?" Jawab pria itu dengan jawaban menekan Hanna hannya bisa diam sambil memaki dalam hati.


" Aku tidak peduli dengan orang-orang yang tidak berguna seperti kalian." Ucapnya dalam hati lalu dia masuk ke dalam rumah.


"Dia benar-benar wanita tidak tau malu bermuka tembok,wajahnya terbuat dari batu makanya tidak punya rasa malu tinggal di rumah mantan suami yang sudah menikah."Ucap pria itu setelah Hanna hilang dari pandangannya dia bisa bersikap tenang dan tidak perlu mengurusi Hanna karena Putra ada di dalam rumah.


Tasya yang masih berada di ruang tamu,hannya bisa diam saat melihat Hanna melewatinya tanpa menyapanya atau mengatakan sesuatu,perlahan dia menghela napas berat,saat Hanna masuk ke dapur.Rasanya dia sudah muak melihat keberadaan Hanna di rumah itu tapi dia tidak bisa berkata-kata ingin mengusir Hanna tapi semua itu sia-sia karena Hanna tetap bertahan di rumahnya.


Saat Hanna sampai di dapur dia mengerutkan keningnya saat tidak melihat keberadaan Marni di rumah itu dia sedikit lega,setidaknya dia yakin kalau wanita itu tidak kembali ke rumah itu.


" Marni belum pulang dari kemarin?" Tanya Hanna berpura-pura kepada pelayan yang sedang sibuk membersihkan kulkas.

__ADS_1


"Belum." Jawab wanita itu dengan singkat,dia tidak peduli dengan Hanna yang berdiri tidak jauh darinya.


Saat itu Putra baru saja keluar dari dalam kamar mandi saat melihat keberadaan Hanna dia sedikit takut,dia takut entah apa yang direncanakan wanita itu lagi.


Hanna yang melihat kehadiran Putra dia segera pergi dari dapur tapi saat ini setidaknya dia bisa menghela napas lega karena apa yang dia takutkan dari tadi siang ternyata tidak terbukti.


"Sepertinya memang Marni kabur tanpa bantuan orang lain,itu artinya wanita itu telah mati kehabisan tenaga,Baguslah setidaknya aku tidak perlu mengotori tanganku untuk melenyapkannya."Ucapnya dengan senyum yang ditahan.


"Apa yang di tanyakan wanita itu kepada mu?" Tanya putra kepada pelayan.


"Dia hannya bertanya tentang Marni,dia mengira Marni telah kembali." Jawab pelayan.


****


Dua hari setelah Putra tau semuanya tentang Hanna dia begitu hati-hati terhadap wanita itu,bahkan dia selalu mengawasi apa pun yang di lakukan Hanna di rumah termasuk saat dia ke dapur dan makan,dia takut wanita itu melakukan hal yang sama kepada semua orang yang ada di dalam rumah.


Ternyata Hanna bukanlah orang yang bodoh,dia sedikit menyadari sikap Putra yang terlihat selalu mengawasinya,tapi dia tidak curiga sama sekali dia merasa Putra masih tertarik dengannya dan itulah penyebabnya dia selalu mengikutinya.


Pagi ini Handoko dan Tasya sudah duduk di ruang makan,sarapan pagi telah tertata rapi di atas meja tiba-tiba Hanna menghampiri keduanya lalu Hanna seperti hari-hari yang lalu dia duduk di depan Tasya.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan disini,kamu bukan lah anggota keluarga kamu tidak pantas untuk duduk bersama kami di meja ini." Handoko tampak emosi seketika moodnya berubah saat melihat tampang Hanna yang menyebalkan pagi ini.


"Sudah papa,biarkan saja katanya kamu mau ke rumah sakit,untuk apa mengurusi hal yang tidak penting seperti dia,wajahnya terbuat dari batu makanya dia tidak tau malu seperti itu." Tasya menengahi keadaan di ruang makan pagi itu.


Handoko segera beranjak dari meja makan lalu dia keluar dari kursinya Tasya mengikutinya dari belakang melihat keadaan itu Putra menghampiri Hanna yang tidak merasa bersalah sama sekali.


" Bisa kah kamu tidak jadi benalu di rumah ini,kamu tau perasana nyonya Tasya dan tuan Handoko,mereka benar-benar tidak mengingkan kamu lagi di rumah ini." Ucap Putra dengan nada menyindir membuat Hanna tersinggung.


"Tau apa sih kamu anjing penjaga,kamu di rumah ini tidak lebih hannya anjing yang bertugas menjaga keadaan rumah ini...Tau apa kamu tentang masa lalu kami,aku itu mantan istrinya Handoko,dia hannya pria yang melupakan kewajibannya, kalau dia tidak mengingkan aku seharusnya sebagai mantan istri dia harus memberikan aku biaya bulanan ini apa dia hidup enak-enak usahanya makin sukses tapi dia melupakan kewajibannya." Jawab Hanna tidak tau malu membuat Putra tertawa keras.


"Hahahaha....Kamu bodoh atau emang pura-pura bodoh,kamu menjadi istri tuan Handoko dia sudah punya banyak harta,dan kamu bilang kewajibannya sebagai mantan suami,kamu lupa kalau kamu itu wanita mandul yang tidak bisa memberikan dia keturunan...Dasar bodoh memang, aku tau kamu itu hannya pura-pura bodoh,sudah lah Hanna lebih baik kamu keluar dari rumah ini dan mencari pekerjaan lain untuk menyambung hidup mu..."


"Bush...." Hanna menyiram wajah Putra dengan air minum yang ada di depannya,dia merasa putra begitu membuatnya kesal hingga dia tidak sadar lalu menyiram pria itu dengan air.


"Pergi dari hadapan ku brengsek..Berani sekali kamu menghina dan merendahkan aku,pergi kamu...Jangan ada satu pun orang di rumah ini yang berani berurusan denganku kalau tidak ingin menyesal dan kamu anjing...Silahkan berhenti mengurusi hidupku,kamu bukan tipe pria yang kuingkan,aku tidak sudi memiliki kekasih pria miskin sepertimu." Maki Hanna.Putra menyeka air yang membasahi wajahnya,dia begitu jijik mendengar ancaman wanita lancang itu ingin rasanya dia merobek mulut Hanna.


"Aku juga tidak sudi punya pasangan,wanita tidak punya harga diri dan bermuka tembok sepertimu...." Balasnya membuat Hanna semakin geram untungnya dia segera keluar dari dapur.


Putra menyeka wajahnya kembali dengan sapu tangan miliknya ini pertama kali dalam hidupnya menemui wanita yang benar-benar bebal dan tidak punya harga diri.

__ADS_1


🌺🌺🌺 bersambung 🌺🌺🌺


__ADS_2