
Setelah menyelesaikan tugasnya,Tomi keluar dari rumah itu lalu duduk di teras rumah,suasana tempat itu cukup sepi dan itu membuatnya merasa nyaman untuk melakukan aksinya karena tidak perlu menjaga orang lain.Tomi duduk di teras rumah sambil menikmati kopi yang baru saja di buatnya sebelumya dia telah membersihkan rumah itu dan menyiapkan beberapa kebutuhannya selama menyekap orang-orang yang akan menghalangi aksi kalanya mendapat keadilan dari mantan suaminya.
"Pekerjaan ini memang sangat sia-sia,untuk apa aku harus menghabiskan waktu menangkap dan menjaga pembantu sialan itu,dia sama saja tidak berguna,tapi demi uang aku akan menuruti semua perintah Hanna." Sungutnya dengan wajah sedikit tidak senang.
Pada saat itu Hanna sudah tiba di rumah itu,dia sengaja turun dari angkutan jauh dari tempat itu karena tidak ingin ada yang curiga dengannya.
"Lama sekali kamu sampai,apa kamu pikir enak tinggal di rumah yang sepi ini..."Tomi beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri kakaknya yang hampir sampai ke teras rumah.
"Dimana dia?" Tanya Hanna sambil berjalan ke arah rumah lalu membuka pintu yang sengaja di tutup Tomi.Sementara itu Marni perlahan membuka matanya kepalanya sangat pusing,dia sangat kaget saat kedua tangan dan kakinya di ikat dan dia sedang di rumah kosong yang begitu kotor.Mulutnya yang di tutup tidak bisa menjerit membuatnya sangat ketakutan.
"Siapa yang melakukan ini kepadaku,bahkan aku tidak punya musuh sama sekali." Ucapnya dalam hati sambil berusaha keras membuka tali yang mengikat tangannya.Di saat yang bersamaan pintu terbuka lalu tampaklah olehnya Hanna dan pria yang telah mencurinya tadi siang sekarang dia baru sadar kalau pria itu adalah pria yang pernah datang kerumahnya bersama papanya Hanna waktu itu.
Hanna tersenyum jahat kepadanya,lalu dia menghampiri Marni lalu menarik keras lakban yang menutupi mulut Marni setelah itu dia duduk di kursi yang tidak jauh dari Marni.
"Ka_ kamu,Hanna kamu melakukan ini kepada ku,kamu sudah tidak waras ya,kamu berani melakukan hal seperti ini,apa kamu sudah kehilangan akal??" Marni cukup kaget melihat Hanna yang tega melakukan hal yang begitu jauh.
Hanna tertawa sinis kepadanya Marni tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Hanna saat ini dia semakin percaya kalau Hanna jugalah penyebab Andre sampai dia mengalami kritis di rumah sakit padahal sebelumnya pria itu baik-baik saja.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak ingin melakukan hal ini kepada mu Marni,aku tau kamu itu hannya orang miskin yang mencari rejeki untuk membantu keluarga mu dikampung,tapi sayang kamu terlalu ikut campur dengan urusanku,padahal kamu tau sendiri aku hannya ingin meminta keadilan kepada handoko yang telah mencampakkan ku tanpa sepeser uang pun." Ucapnya dengan wajah serius dan tiba-tiba berubah dingin.Marni sangat ketakutan,dia tidak menyangka kalau Hanna yang sudah dia kenal lama ternyata memiliki hati yang sangat busuk.
"Lepaskan aku,kamu pasti akan menyesal karena melangkah terlalu jauh,aku tau kamu yang telah berusaha membunuh tuan Andre!!" Marni berusaha menebaknya dia ingin lebih tau lebih jauh lagi.
"Benar,aku yang telah meracuninya secara perlahan beberapa Minggu ini,sebab dialah yang membuat hidupku hancur...Bahkan dia yang memaksa ku untuk meninggalkan papanya tapi dia sendiri yang menyakiti perasaan ku,dasar binatang,bahkan aku berharap dia segera mati." Ucapnya kembali.
"Aku tidak ingin mengotori tanganku untuk membunuh mu,tapi aku akan membuat mu mati secara perlahan di rumah ini.Seharusnya apa pun yang kamu lihat selama ini kamu pura-pura saja tidak melihat karena kamu tidak tau orang seperti apa teman mu berurusan." Ucap Hanna kembali lalu bersiap-siap meninggalkan kamar tempat Marni.
"Hanna tolong lepaskan aku,aku berjanji akan menutup mata untuk semua yang kulihat dah yang kudengar barusan aku mohon..."Marni memohon sambil meneteskan air mata tapi sayang Hanna tidak peduli dia hannya tersenyum lalu pergi begitu saja meninggalkan Marni.
Ingin berteriak tapi suaranya tidak terdengar sama sekali dan bahkan lehernya semakin sakit karena kehabisan suara,Hanna kembali menutup mulut Marni.
Hanna menemui adiknya di luar yang sedang asik main judi online,sekarang dia baru mengerti kenapa selama ini keluarganya selalu memerasnya bahkan mengorbankan dirinya demi uang ternayata adiknya telah kecanduan judi online.
" Apa yang kamu lakukan,kamu main judi online,ternyata ini yang kalian lakukan makanya selalu memeras ku!!" Ucap Hanna menegur adiknya yang hampir tidak melihat kehadirannya saking asiknya main judi online.
"Sudahlah kamu tidak perlu ikut campur,sekarang tugasmu segera singkirkan semua orang itu,setelah itu kita menguasai seluruh harta mantan suami mu,aku tidak sabar menuggu akan hal itu.Jawab adiknya tanpa menoleh kepadanya karena terlalu asik bermain judi online.
__ADS_1
Kesal dengan adiknya yang terlalu bebal akhirnya dia memilih pergi,dia tidak ingin emosi juga kepada adik lelakinya satu-satunya.
****
Sementara itu di rumah Handoko semua orang sudah mulai kesal menunggu kepulangan Marni yang tidak kembali dari belanja sampai sore ini padahal jam sudah menunjukkan jam enam sore.
Disaat semua orang sedang kesal tiba-tiba terdengar suara mobil,seorang pelayan berlari untuk membuka pintu mereka mengira itu Marni ternyata itu Handoko dan Tasya yang sudah kembali ke rumah.
"Selamat sore tuan dan nyonya!!"Sapa pelayan dengan ramah saat membuka pintu dan melihat kedua majikannya.Tasya tersenyum dengan lembut tapi Handoko hanya diam dengan wajah datarnya langsung masuk ke dalam rumah.
"Kemana Marni,kenapa dia tidak terlihat?" Tanya Tasya saat Handoko pergi mendahului mereka berdua.
"Itulah nyonya,sejak tadi siang Marni pergi belanja tapi sampai saat ini dia belum pulang,saat kami menghubunginya ternyata dia pergi membawa ponselnya,kami jadi takut karena dia tidak pernah seperti itu."Jawab wanita itu dengan wajah panik.
"Sudahlah tunggu saja,mungkin dia sedang ada urusan." Jawab Marni lalu dia menyusul suaminya ke dalam kamar.Mereka berdua meninggalkan Andre di rumah sakit,dokter menyuruh keduanya pulang karena keadaan Andre yang semakin lemah.
πΊπΊπΊ bersambung πΊπΊπΊ
__ADS_1