Nafkah Batin Sang Ibu Mertua

Nafkah Batin Sang Ibu Mertua
Bab 64 ~ Syok ~


__ADS_3

Mendengar ucapan Marni Tasya sangat kaget bahkan sisir yang di tangannya saja jatuh dia tidak tau karena terlalu syok atas apa yang di dengarnya.


"K_kenapa bisa? apa yang terjadi kepadanya? kamu kembali ke kamar dan panggil kedua security untuk memeriksanya aku akan menghungi suamiku." Ucap Tasya dengan nada yang gemetaran.Kedua lututnya hampir tidak mampu menopang tubuhnya dia yang hendak berjalan mendekati ranjang karena ponselnya ada di atas ranjang beberapa kali hampir terjatuh.


Tasya sampai gemetaran bukan karena dia masih menyimpan perasaan tapi dia sangat kaget saat itu,kaget karena tidak menyangka pria yang pernah menikahnya akan mengalami hal yang tidak pernah dia bayangan sekali pun.


Sementara itu Handoko baru saja sampai di depan toko miliknya,beberapa Minggu belakangan ini dia lebih aktif mengawasi semua tokonya hingga semua tokonya sudah mulai pulih dari kehancuran yang hampir dia alami.Dan usahanya yang ada di Jakarta juga berjalan sangat lancar dari semua laporan yang dia dapatkan.


"Sepertinya Tasya membawa rejeki kepadaku,lihat saja semua laporan toko menunjukan kenaikan,kalau begitu dua tahun lagi aku bisa membuka restoran di Bali jika aku bisa mendapatkan tanah yang sudah aku tafsir."Ucapnya dalam hati dengan wajah penuh semangat.


Sekali pun Handoko umurnya sudah hampir menginjak enam puluh tahun,tapi wajah dan tubuhnya masih terlihat seperti pria lima puluh tahun mungkin karena dia selalu menerakan hidup sehat selama ini.


Dritt....Drittt...


"Ada apa Tasya menghubungiku,tidak biasanya." Ucapnya dalam hati lalu dia mengambil ponselnya yang kebetulan ada di kursi sebelahnya.


" Ada apa sayang?"


"Pa...Kamu dimana sekarang juga kamu pulang ada sesuatu yang sangat penting." Terdengar suara istrinya yang gemetaran seperti ketakutan dan tanpa berbicara apa pun ponselnya langsung mati membuat Handoko sedikit panik.


Handoko yang hampir turun dari mobilnya kembali memakai sabuk pengaman lalu dia meninggalkan toko tanpa masuk sama sekali dia takut sesuatu yang buruk telah terjadi di rumahnya.

__ADS_1


Berhubung masih pagi jalanan masih sangat macet,dia beberapa kali mengumpat menyalahkan pemerintah yang tidak bisa mengatur lalu lintas agar bisa normal setiap harinya.


"Pemerintah hannya makan gaji buta saja hingga masalah kecil seperti ini saja susah mereka selesaikan." Ucapnya dalam hati sambil memukul-mukul stang mobilnya dia sudah tidak sabar cepat sampai di rumahnya.


Setelah beberapa menit akhirnya dia bisa melewati kemacetan jalanan akhirnya dia bisa membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya dia sampai di depan rumahnya.


Handoko segera keluar dari mobilnya lalu dia berlari masuk ke dalam mobilnya saat itu dia sudah melihat semua orang berkumpul di ruang tamu dia berjalan perlahan ke arah kerumunan para pelayannya dia takut sekali mendekati mereka.


"Tuan anda sudah datang?" Tiba-tiba putra menyapanya hingga semua orang menatap ke arahnya.


"Ada apa?" Tanyanya dengan perlahan,saat itu dia sudah melihat tubuh Andre terbujur kaku di atas sopa dia juga tidak kalah kaget melihat pemandangan itu.


"A_apa yang terjadi dengannya apa dia bunuh diri?" Tanya nya lagi seakan tidak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Bawa sekarang angkat dia ke dalam mobil lalu kita berangkat sekarang juga." Ucapnya memotong ucapan putra.Kedua penjaga rumah langsung membawa Andre ke dalam mobil lalu Tasya dan Handoko juga masuk ke dalam mobil.


"Putra kamu yang menyetir,jantungku rasanya tidak normal untuk saat ini,Marni kamu ikut kami dan kamu jaga rumah ini." Perintah Handoko lalu semuanya segera pergi meninggalkan rumah.


Seperti apa pun kelakuan anaknya selama ini, ternyata sebagai seorang papa dia tetap tidak mampu membiarkan Andre mati sia-sia bahkan sepanjang perjalanan,mulutnya tidak henti-hentinya mendoakan anaknya itu agar bisa hidup kembali dan bisa menjalani hidup lebih baik ke depannya.


Tasya yang ada disampingnya,tiba-tiba menyandarkan kepalannya di pundak suaminya dia seakan tau apa yang di pikirkan pria itu.

__ADS_1


"Papa,jangan terlalu banyak pikiran dia pasti baik-baik saja." Ucap Tasya tiba-tiba.Handoko semakin merasa sedih, dia merasa belum mampu kehilangan anak sekali pun dia sudah hampir pernah membunuhnya.


" Aku merasa bersalah kepadanya,aku belum mampu menjadi papa yang baik kepadanya,aku tau dia berbuat jahat kepadaku semata-mata bukan karena kesalahannya,itu juga karena kesalahan ku yang tidak pernah mempercayainya selama ini.Aku sebagai orang tua tidak pernah mengijinkannya untuk memegang salah satu toko hingga akhirnya dia pergi ke ibu kota beberapa tahun silam." Ucapnya merasa bersalah.


Keduanya terdiam,Tasya tidak tau harus bagaimana karena selama ini yang dia tahu Andre adalah orang jahat,anak durhaka yang hampir membunuh papanya demi semua harta.


"Sudahlah pa,jangan merasa bersalah seperti itu,papa tidak mempercayainya bukan karena papa serakah tapi itu semua karena dia memang tidak mampu,berhentilah merasa bersalah doakan saja dia kembali sehat dan kita semua bisa berkumpul dengan baik." Jawab Hanna memberi dukungan kepada suaminya yang terus menyalahkan dirinya bahkan terlihat putus asa seakan tidak terima dengan keadaan Andre.


Tidak lama kemudian mereka sampai di halaman luas rumah sakit terbaik di kota itu,Handoko memerintahkan Putra membawanya ke rumah sakit terbaik di kota itu dia ingin Andre mendapat perawatan terbaik.


Putra berlari ke arah rumah sakit,


lalu memanggil perawat IGD,untuk membawa Andre ke dalam rumah sakit benar,saja beberapa pria segera datang dan mengangkat tubuh Andre ke dalam ruangan.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan mereka memutuskan membawa Andre ke ruangan ICU,disana dia dipasang alat-alat medis ternayata Andre mengalami kritis.


Tidak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruangan itu,Handoko yang duduk di ruang tunggu langsung berdiri dan menghampiri pria berbaju putih itu.


"Dokter!! apa yang terjadi dengan anakku,kenapa tiba-tiba dia tidak sadarkan diri?" Tanya Andre dengan wajah penuh tanya.


"Sepertinya dia sudah lama tidak sadarkan diri,tapi kita lihat saja dulu,kita memeriksanya saat dia melewati masa kritisnya,tubuhnya begitu lemah dan butuh obat-obatan untuk segera menyadarkan dirinya." Handoko yang mendengar itu semakin merasa bersalah.Dia tau sejak dia kembali ke rumahnya dan menjadikan Tasya sebagai istrinya Andre sudah berbuah tapi dia tidak peduli bahkan tidak mau tau tentang anaknya itu.

__ADS_1


Setelah dokter pergi meninggalkan mereka,dia mengajak Tasya menemui Marni dan Putra yang ada di luar rumah sakit dia ingin tau apa yang di lakukan Andre beberapa Minggu ini.


🙏🙏🙏 bersambung 🙏🙏🙏


__ADS_2