
Tasya keluar dari dalam kamar lalu masuk ke kamarnya dan duduk di pinggiran ranjang,sudah lama pria itu selalu membujuknya untuk menikah dengannya dia belum pernah memberikan jawaban yang pasti.
" Haruskah aku menerima cintanya,aahh rasanya sangat aneh pria yang dulu aku panggil papa sekarang malah ingin menjadi suami ku." Ucapnya dalam hati.
Sebenarnya tidak ada alasan bagi Tasya menolak pria itu,selain dia masih terlihat tampan,dia juga sangat berkharisma itu tahu membedakan dirinya dengan suaminya Andre.
Ada perasan enggan di hatinya bagaimana bisa seorang pria yang dulu dia sangat hormati berubah menjadi pria yang harus dia temani setiap malam di atas ranjang dan itulah yang membuat Tasya berpikir keras untuk menerima cinta Handoko.
Lama sekali dia duduk dan mempertimbangkan permintaan Handoko akhirnya keputusannya dia akan menerima cinta pria itu kalua dia sudah benar-benar pulih.
Tasya keluar dari dalam kamar lalu dia menyibukkan diri di dapur untuk memasak makan malam mereka.
__ADS_1
"Kamu sedang masak apa? aku bisa memesannya untuk apa kamu menghabiskan waktu untuk melakukan itu,lagian kamu tidak takut wajah mulus mu kena cipratan minyak?" Tiba-tiba Leo Handoko sudah di belakangnya,ternyata dari tadi pria itu sudah menunggunya di depan kamarnya dan dia segera menyusul Tasya ke dapur.
"Papa untuk apa disini,aku tidak terlalu suka makanan yang selalu di pesan bukan kah makanan yang kita masak jauh lebih enak dan sehat?" Tanya Tiara Handoko tersenyum kecil mendengar ucapan mantan menantunya.
Hari-hari berjalan begitu saja,hingga tidak terasa sebulan terlewati begitu saja.Hari ini Tasya dan Handoko bersiap pergi ke rumah sakit untuk memeriksa keadaan Handoko.Sebulan ini Tasya berjuang keras untuk menyembuhkan Handoko tidak ada kata lelah di hatinya untuk melatih pria itu berjalan seperti semula hingga akhirnya Handoko bisa berjalan kembali walau masih tersisa sedikit pincangnya.
" Papa...Apa sudah bisa jalan tanpa bantuan? tanya Tasya saat mereka hendak pergi ke rumah sakit di sela-sela kesibukannya.
"Aku sudah bisa dan bahkan aku sudah bisa menyetir terima kasih sudah membuatku menjadi pria yang sehat kembali." Ucap Handoko dia mulai berdiri,perlahan dia menggerakkan kakinya lalu Pelan-pelan dia berjalan sendiri.
Tasya ingin melepaskan diri dari tubuh Handoko tapi pria itu menahan tubuh Tasya di pelukannya hingga membuat wajah Tasya memerah menahan rasa malu yang luar biasa.
__ADS_1
" Tolong lepaskan pa...Kita akan terlambat ke rumah sakit kalau kita terus begini." Ucap Tasya dengan nada gemetaran.
"Aku tidak akan melepaskan pelukan ku,kamu harus berjanji dulu kepada ku,menikah lah dengan ku dan mari kita hidup bahagia." Ucap Handoko.Tasya yang sudah merasa sangat malu dengan keras melepaskan diri dari pelukan Handoko.
"Papa...Aku belum siap..."Tasya menghentikan ucapannya saat mendengar suara ponselnya yang ada di tas kecilnya.Saat Tasya mengangkat ponselnya dia sangat kaget dan wajahnya berubah pucat.
" Tasya ada apa?" Tanya Handoko,tubuh Tasya ambruk ke lantai setelah dia menerima panggilan entah dari siapa lalu dia menagis sesenggukan.
"Papa...Hiks...Hiks...hiks..." Tasya menangis sangat pilu membuat Handoko bingung lalu dia kembali memeluk Tasya yang sedang terguncang itu.
" Papa.. Aku harus berangkat ke rumah sakit papaku jatuh dari kamar mandi dan sekarang dia sedang kritis di rumah sakit."
__ADS_1
"Baik aku akan mengantar mu." Ucap Handoko lalu dia beranjak dari itu dan mereka pergi meninggalkan rumah mereka.
๐บ๐บ๐บBersambung ๐บ๐บ๐บ