Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 10 #Akhirnya Bertemu Gevin#


__ADS_3

Vania turun dari angkutan umum setelah bekerja hari ini, dia berjalan masuk ke dalam gang rumah yang hanya bisa dimasuki satu mobil saja dan tidak ada jalur angkutan umum disini. Vania berjalan dengan gontai, selain karena tubuhnya yang terasa lelah. Tapi juga fikirannya yang lelah atas semua yang terjadi dalam hidupnya ini.


Vania naik ke atas tangga menuju rumah Jenny. Membuka sepatu dan menyimpannya di rak sepatu yang berada di teras rumah. Vania menghembuskan nafas kasar sebelum dia masuk ke dalam  rumah. Mencoba menetralkan ekspresi wajahnya menjadi sosok Vania yang banyak orang kenal. Ceria dan pereiang.


"Ibu, Gevin sangat merindukan Ibu"


Rasa lelah dalam diri Vania langsung lenyap seketika saat dia melihat senyuman ceria dari anaknya yang menghampirinya dan memeluknya dengan tangan mungilnya itu yang melingkar di leher Vania ketika dia berjongkok untuk memudahkan anaknya memeluknya.


"Sayang, apa anak Ibu ini baik-baik di rumah bersama Nenek?"


"Iya Bu, Gevin jadi anak yang baik"


Vania mengelus rambut anaknya dengan lembut. "Bagus kalau begitu, Gevin memang anak yang baik"


Tok..tok...


Suara pintu yang diketuk membuat Vania menoleh ke arah pintu rumah yang tertutup. Mengira-ngira siapa yang datang di malam hari seperti ini.


"Ibu itu ada tamu, atau mungkin Bibi Jenny yang datang"'


"Iya Sayang, sebentar ya biar Ibu buka dulu pintunya" Vania  berdiri dan berbalik menghadap pintu rumah yang tertutup. Tidak mungkin jika Kak Jenny, dia tidak akan mengetuk pintu terlebih dahulu jika pulang ke rumah. Gumamnya.


Ceklek..


Vania memutar handel pintu dan membukanya. Vania terdiam di tempatnya saat dia tahu siapa yang datang ke rumah ini. "Mau apa kau datang kesini?"


Gara memasukan sebelah kakinya saat Vania siap menutup pintu kembali. Vania benar-benar panik saat melihat Gara yang sekarang berada di depannya ini. Dia melirik ke arah Gevin yang berdiri tidak jauh darinya.


Tidak! Dia tidak boleh mengambil Gevin dariku.


"Pergi, kau mau apa datang kesini? Dan darimana juga kau tahu jika aku tinggal disini"


Gara tidak menghiraukan teriakan Vania yang penuh dengan nada kepanikan itu. Gara melangkah masuk ke dalam rumah dan dia melihat sosok anak kecil yang memiliki garis wajah yang sama dengannya. Gara menatap anak itu, dia berlutut di depan anak itu untuk mensejajarkan tubuhnya.


"Hai, apa kamu Gevin?"

__ADS_1


Gevin mengangguk, dia  merasa bingung dengan seseorang yang sekarang berdiri di depannya itu.


"Hai Gevin, apa kau tidak merindukan Papa?"


Deg..


"Gevin, masuk kamar Nak. Kamu temui Nenek"


Gara langsung menatap tajam pada Vania yang seolah sengaja ingin menjauhkan Gevin darinya. Gara langsung menggendong Gevin dn hal itu membuat Vania terkejut dan semakin panik saja.


"Jika kau masih bersikap seperti itu padaku, maka aku  akan membawa Gevin. Aku adalah Ayahnya dan aku berhak atas dia"


Gevin mulai menangis, dia tidak mengerti dengan keadaan ini. Gevin menatap pria yang menggendongnya itu, seolah meyakikan jika dia adalah Ayahnya.


"Gevin, aku adalah Ayahmu. Panggil aku Papa mulai sekarang"


Mendengar itu, Gevin langsung menatap pada Ibunya dengan tatapan penuh tanya. "Ibu, apa benar apa yang dikatakan Om ini?"


Hati Gara merasa tersayat ketika dia mendengar panggilan 'Om' dari anaknya sendiri. Gara menatap Vania dengan tajam, dia tidak ingin jika Vania mengatakan hal yang bukan kebenarannya.


"Katakan yang sebenarnya, karena memang tidak ada sebuah kebenaran yang bisa terus di tutupi. Sudah saatnya Gevin tahu semuanya"


Vania menghela nafas, dia menundukan wjahnya. "Iya Nak, dia adalah Ayah kamu"


Gevin langsung memeluk Gara dengan erat, dia benar-benar merindukan sosok seorang Ayah dalam hdupnya, seperti teman-temannya yang lain.


"Loh Vani, kamu sudah pulang. IBu  sedang memasak di dapur barusan"


Ibu juga terlihat bingung saat Gevin yang memeluk seorang pria yang menggendongnya.


"Bu, bisa tolong bawa Gevin ke kamar sebentar..." Vania mengelus kepala Gevin yang berada dalam gendongan Gara. "..Nak, sama Nenek dulu ya. Ibu ingin bicara dulu dengan Ayah kamu"


"Baiklah Bu, tapi apa Papa akan pergi lagi?"


"Tidak Sayang, Papa tidak akan meninggalkan Gevin lagi. Papa akan selalu ada berada disini"

__ADS_1


Gara mencium pipi anaknya, dia tahu jika anaknya ini sangat merindukan dirinya sebagai seorang Ayah, Gara benar-benar tidak pernah menyangka jika dirinya sudah mempunyai anak berusia 4 tahun. Anak yang selama ini tidak dia ketahui keberadaannya selama  ini.


Setelah Gevin dibawa oleh Ibu, kini Vania dan Gara duduk di kursi yang ada di terasa depan rumah. Terdengar beberapa kali hembusan nafas kasar dari Vania.


"Jadi tujuan kamu datang kesini dan memberi tahu Gevin jika kamu adalah Ayahnya, apa? Tujuan kamu apa?"


"Aku hanya ingin bertemu dengan anakku, apa itu salah? Kau sendiri yang memilih untuk aku bertindak seperti ini"


Vania menghela nafas pelan, dia juga bingung harus melakukan apa sekarang. "Lalu? Apa kau ingin mengambil Gevin dariku?"


"Ya, jika kau tetap seperti ini padaku. Aku bisa melakukan itu, tapi jika kamu memberikan aku waktu untuk bisa bertemu dengan anakku kapan saja, aku tidak akan mengambil Gevin darimu"


Vania berdiri, dia sudah lelah dengan semua ini. Dia tidak ingin menentang apapun lagi saat ini. Biarkan saja takdir Tuhan yang mengatur semuanya.


"Aku tidak akan lagi melarang kamu menemui Gevin kapan pun itu. Aku lelah"


Gara terhenyak mendengar ucapan Vania yang penuh ke-putus asaan. Dia menatap Vania yang masuk ke dalam rumah, Gara tahu serapuh apa gadis itu.


Maafkan aku, setelah ini aku berjanji akan membuatmu bahagia.


Perasaan cinta yang terhalang dengan keadaan saat ini. Namun Gara akan melawan segala hal yang akan menghalangi langkahnya untuk mendapatkan Vania. Gara hanya mencintainya.


Vania masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kamar dengan perelahan. Lalu dia menyandar di pintu yang tertutup. Air mata yang sejak tadi dia tahan, kini kembali meluncur di pipinya.


"Pada akhirnya Gevin tetap bertemu dengan Ayahnya, lalu saat ini aku harus bagaimana? Papanya Gara jelas melarang aku untuk tidak mengganggu Gara. Tapi sekarang apa yang harus aku lakukan?"


Vania benar-benar bingung harus melakukan apa? JIka dia terus melarang Gara untuk bertemu dengan Gevin. Vania takut jika Gara benar-benar akan mengambil Gevin dari hidupnya. Vania benar-benar belum siap untuk ittu.


Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku tidak tahu harus mengambmil keputusan seperti apa dalam hidupku ini.


Kebingungan yang saat ini sedang melanda Vania.


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2