
Vania keluar dari kamarnya setelah dia menidurkan Gevin di kamarnya. Dia melihat Gara yang masih terdiam di atas sofa di ruang tengah rumah ini. Ibu dan Jenny mungkin ada di dalam kamar masing-masing karena hanya ada Gara disana. Vania menghampiri Gara dan duduk disampingnya.
"Kenapa kau belum pulang?"
Gara menoleh pada Vania yang duduk disampingnya. "Bagaimana Gevin? Apa dia tertidur?"
Vania mengangguk, setelah cukup banyak drama dan sempat menangis akhirnya Vania bisa menenangkan Gevin dan membuatnya tertidur.
"Sepertinya besok aku harus pergi ke Ibu kota"
Vania hanya diam dan tidak memberi tanggapan apapun. Vania tahu jika ucapan Gara barusan tidak membutuhkan jawaban apapun.
"Apa aku bisa meminta nomor ponslmu, hanya untuk sewaktu-waktu jika aku merindukanmu dan Gevin"
"Untuk apa kau merindukanku? Aku bukan siapa-siapa kamu lagi"
"Tapi kau adalah Ibu dari anakku, jadi aku berhak merindukanmu"
Vania menoleh pada Gara dan pria itu juga sedang menatap ke arahnya. Membuat keduanya saling menatap dengan lekat. Jelas Vania melihat tatapan Gara yang masih sama dengan dulu. Namun, Vania tetap harus menjaga hatinya agar tidak lagi jatuh pada pesona Gara yang jelas sudah mempunyai seorang istri. Vania tidak mau menjadi wanita jahat yang merebut Gara dari istrinya.
Selain itu terlalu banyak rintangan dan halangan yang membuat Vania tidak bisa untuk kembali pada Gara. Vania memang haus benar-benar mundur,meski dengan perasaannya yang masih sama sejak dulu.
"Va, aku masih mencintaimu. Apa kamu tidak bisa memberikan aku kesempatan lagi untuk bisa bersamamu"
Vania menatap mata Gevin dengan mata yang berkaca-kaca. Bukan karena dia tidak mau memberikan kesempatan ada Gara, tapi dia tidak bisa melakukan itu. Perkataan Ayahnya Gara saat di pesta resepsi itu cukup membuat Vania sadar diri, siapa dirinya dan siapa Gara.
"Pulanglah, aku lelah dan ingin istirahat" Vania segera memalingkan wajahnya. Memutus tatapan dirinya dan Gara.
Gara menghela nafas pelan saat Vania masih membuat batas diantara keduanya. Vania yang masih tidak bisa membuka hatinya kembali untuknya.
__ADS_1
"Vani, kalau begitu aku hanya ingin meminta nomor ponselmu"
Vania mengambil ponselnya di dalam kamar tanpa berkata apapun. Dia hanya ingin Gara segera pergi dari sini dan tidak akan membuat Vania semakin kebingungan dengan keputusan yang akan dia ambil saat ini.
Vania kembali menghapiri Gara dengan ponsel yang suda ditangannya. Vania langsung menyebutkan nomor ponselnya pada Gara yang langsung mencatat nomor ponsel baru Vania di dalam ponselnya itu.
Gara mencoba menelepon nomor ponsel yang baru saja diberikan oleh Vania. Takut jika Vania memberinya nomor ponsel yang palsu. Dan ponsel Vania langsung berdering ketika Gara meneleponnya. Gara jelas melihat nama Sagara dengan emotikon love diujung nama itu tertera dengan jelas di layar ponsel yang Vania pegang.
Vania juga terkejut saat mengetahui jika nomor ponsel Gara masih tetap sama dengan 5 tahun yang lalu.
"Kau masih menyimpan nomor ponselku, kenapa tidak mencoba untuk menghubungiku selama ini? Aku sengaja tidak pernah mengganti nomor ponseku, karena aku berharap suatu saat nanti kamu akan menghubungiku"
Vania terdiam beberapa saat, dia juga tidak menyangka jika selama 5 tahun ini Gara benar-benar tidak mengganti nomor ponselnya. Tapi kenapa? Apa benar Gara menunggu Vania mengubunginya? Rasnya tidak mungkin karena Gara sendiri yang telah memutus hubungan dengannya waktu itu.
"Kenapa Vania? Tolong jawab aku dan jelaskan semuanya"
Vania menatap Gara dengan matanya yang berkaca-kaca. "Bukannya kamu sendiri yang memutuskan hubungan denganku? Kenapa sekarang kamu harus bilang jika kamu menunggu kabar dariku? Untuk apa? Jika kamu memang sudah memutuskan hubungan denganku selama ini"
Vania benar-benar muak dengan semua kebohongan yang dilakukan Gara ini. Seolah dirinya tidak pernah melakukan kesalahan itu. Lalu untuk apa juga Vania harus mengada-ngada apa yang dia ucapkan barusan. Vania membuka ponselnya dan menunjukan sebuah pesan yang dia simpan selama ini. Ingin membuktikan pada Gara jik apa yang dia ucapkan adalah kebenarannya.
"Ini, kau lihat ini!" Vania mengangkat ponselnya tepat di depan wajah Gara.
"Ini.."
Gara terdiam beberapa saat ketika dia melihat sebuah pesan yang sudah berlalu selama 5 tahun itu. Jelas itu adalah pesan yang dikirim dari nomor ponselnya, karena memang sengaja Vania menyimpannya di memori ponsel, jadi meskipun dia mengganti nomornya, pesan dan nomor ponsel yang ada di ponselnya tidak akan hilang.
######
Vania, sepertinya kita memang harus mengakhiri hubungan ini. Aku sadar jika ucapan orang tuaku memang benar. Kita tidak pantas bersama dan menjadi sepasang kekasih. Jadi sebaiknya kita sudahi semua ini dan tolong untuk tidak pernah lagi menunjukan wajahmu di depanku. Hubungan kita berakhir sampai disini.
__ADS_1
Saat membaca pesan yang dikirim oleh Gara saat itu, Vania hanya duduk diam diatas tempat tidur di dalam kosnya. Vania membaca berulang kali karena takut jika dirinya yang salah membaca. Namun meski dia membaca sampai sepuluh kali pun, isi dari pesan itu tetap sama. Vania mencoba menghubungi nomor ponsel Gara, namun nomor ponsel pria itu langsung tidak dapat dihubungi.
Vania menangis dengan semua kenyataan ini, dia melirik sebuah benda kecil di atas nakas. Vania baru saja selesai mencoba alat tes kehamilan saat dia merasa tubuhnya yang mulai tidak nyaman akhir-akhir ini. Dan dugaannya benar, jika saat ini Vania memang sedang mengandung anaknya Gara. Namun pria itu malah memutuskan hubungan dengannya dan mengatakan jika dia tidak mau lagi melihat wajah Vania.
"Aku harus bagaimana? Aku benar-benar bingung dengan semua ini"
Vania mengelus perutnya yang masih rata, merasa tidak percaya jika saat ini ada sosok bayi kecil di dalam perutnya ini.
"Ibu akan membawamu pergi jauh dari sini, hingga Papamu tidak akan bisa menemukan kita"
######
"Aku tidak mengirim pesan itu padamu"
Vania menatap Gara dengan tidak percaya, bagaimana pria itu masih bisa mengelak saat bukti sudah ada didepan matanya.
"Bagaimana mungkin kamu tidak mengirim pesan ini? Jelas ini adalah nomor kamu yang bahkan tidak kamu ganti sampai sekarang. Lalu, apalagi alasan kamu itu?"
Gara meraih tangan Vania dan ingin menggenggam tangan gadis itu, namun Vania langsung menepis kasar tangan Gara. "Va, aku benar-benar tidak pernah mengirimkan pesan seperti itu. Bahkan aku tidak tahu jika ada pesan itu. Di ponselku tidak ada riwayat pengiriman pesan itu"
"Cukup Gara! Jangan terus membela diri kamu jika memang kamu sudah salah"
Vania berdiri dan ingin segera pergi dari hadapan Gara, dia tidak mau membuat keributan di malam hari di rumah Jenny. Namun Gara langsung menahan lengannya membuat Vania tidak bisa pergi.
"Vania, aku benar-benar tidak tahu dengan pesan itu. Aku tidak pernah mengirim pesan seperti itu padamu"
Nyatanya pertahanan Vania tidak sekuat itu. Dia meneteskan air mata lelah di pipinya. Sudah merasa sangat lelah dengan semua ini. "Bahkan pesan itu masuk ke ponselku setelah Papa kamu menemui aku di tempat kos dan meminta aku untuk tidak terus meminta kamu menikahiku karena kamu yang masih kuliah"
Deg..
__ADS_1
Bersambung