Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 46 #Aku Mau, Kamu Ceraikan Aku#


__ADS_3

"Tidak, kamu jangan aneh-aneh. Soal itu aku bisa jelaskan"


"Apa? Apa yang ingin di jelaskan? Sudah jelas beritanya ada dimana-mana. Kalau emang kamu menikahi aku karena Gevin, kamu bisa ambil dia dan aku akan pergi"


Bohong! Semua yang diucapkannya itu hanya sebuah kebohongan. Jelas Vania tidak akan pernah membiarkan Gevin bersama Gara dan tidak bersama dia. Tapi karena rasa kesal dan juga amarah dalam dirinya membuat Vania bisa mengucapkan hal itu.


"Vania!" Gara sedikit menaikan nada suaranya. "...Aku dan Yunita memang sudah bercerai. Semua yang kamu dengar dan yang kamu lihat di tv hanya sebuah kebohongan yang memang Yunita meminta hal itu sebagai syarat dia membantu perusahaan Papa"


Vania tersenyum dengan air mata yang mengalir begitu saja di pipinya yang langsung dia usap dengan kasar. "Kebohongan apalagi yang sedang kamu buat? Apa masih belum puas terus membodohiku?"


"Aku tidak berbohong, jika kamu tidak percaya aku akan panggil Yunita datang kesini dan menjelaskan semuanya"


"Panggil kalau memang kamu benar-benar tidak membohongiku"


Sepasang suami istri ini tidak kembali tidur setelah pertengkaran itu. Duduk di sofa dengan saling berjauhan. Gara mencoba menghubungi Yunita untuk memberikan penjelasan pada istrinya yang sedang salam faham ini.


"Hallo Yu"


"Iya, ada apa? Tumben telepon pagi-pagi sekali, apa ada masalah lagi?"


"Tidak, aku hanya ingin..." Gara melirik pada istrinya yang duduk diujung sofa. Vania menyandarkan tubuhya di sandaran sofa dengan mata yang terpejam, meski dia tiak tidur. "...Tolong kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin, Vania marah dan salah faham. Apa kamu bisa datang"


"Baiklah aku akan datang kesana, kebetulan aku lagi tidak ada pekerjaan setelah event model internasional kemarin"


Gara bernafas lega, dia tidak mau jika kesalah fahaman ini akan terus berlanjut jika dia tidak segera meluruskan semuanya. Gara menyimpan ponselnya diatas meja, lalu dia menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.


Saat hari menjelang siang, keduanya masih saling diam dan tidak berbicara apaun. Suara bel yang berbunyi membuat Gara langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu. Dia yakin jika yang datang itu adalah Yunita. Tapi saat dia membukakan pintu, ternyata yang datang bukan Yunita.


"Hai Ga, apa Gevinnya sudah siap?"


Gara mengerutkan keningnya bingung dengan ucapan Jenny barusan. "Gevin, memangnya Gevin mau kemana?"


"Kak, sudah sampai ya. Ini Gevin sudah siap, sebentar biar aku panggilkan dulu dia di kamarnya" katat Vania yang muncul diantara mereka.

__ADS_1


Vania berlalu ke kamar Gevin, sementara Gara masih bingung dengan situasi saat ini. "Ada apa? Apa kamu akan membawa GevinĀ  pergi?'


"Tadi Vania hubungi aku dan katanya mau nitip Gevin sebenatar. Dia bilang ada urusan sama kamu, urusan apa emangnya?"


Gara menghela nafas pelan, pasti Vania sengaja melakukan ini agar anaknya tidak mendengar perdebatan diantara orang tuanya ini. "Yaudah memang lebih baik kamu bawa dulu Gevin"


Jenny jelas melihat situasi yang tidak aman di keluarga temannya ini. "Kalian lagi berantem ya? Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa, aku bisa menyelesaikannya. Kamu tenang saja"


Jenny mengangguk saja, dia tidak mau terlalu ikut campur urusan rumah tangga Vania dan Aiden. "Baiklah, segera selesaikan masalah kalian kalau memang sedang ada masalah saat ini. Jangan biarkan masalah itu terus berlarut-larut"


"Iya, terima kasih ya"


Jenny menganguk, dia tersenyum saat melihat Vania yang sudah kembali bersama Gevin yang menggendong ranselnya. "Ayo Gevin, kita akan jalan-jalan dan bersenang-senang"


Vania tersenyum ketika dia melihat tatapan Jenny yang seolah bertanya ada apa dengan keadaan saat ini.Namun Vania hanya tersenyum dan menggeleng pelan.


"Hati-hati ya Nak, jangan nakal. Nurut sama Bibi Jenny dan Nenek"


Vania menghela nafas pelan setelah kepergian anaknya yang dibawa oleh Jenny. Vania kembali masuk ke dalam Apartemen. Duduk diatas sofa dengan helaan nafas panjang. Rasanya Vania lelah dengan semua ini. Terlalu banyak yang dia hadapi selama ini.


Gara ikut duduk diatas sofa, masih dengan posisi duduk yang berjarak dengan istrinya. "Masih belum percaya juga sama suami kamu ini?"


Vania menoleh dan menatap Gara yang juga sedang menatap ke arahnya. "Aku belum mendengar apa yang akan dibicarakan Nona Yunita, apa benar apa yang kamu bicarakan itu atau mungkin masih kebohongan"


"Baiklah, tunggu saja. Yunita akan menjelaskan kebenarannya"


Vania mengangguk saja. Sepasang suami istri ini kembali membisu dengan pikiran masing-masing. Hingga suara bel pintu terdengar, Vania langsung berdiri dan membukakan pintu.Benar saja jika yang datang adalah Yunita. Orang yang ditunggu mereka sejak tadi.


"Hai Va, maaf ya aku agak telat. Jalanan cukup macet"


Gara berdiri dan menatap lega Yunita yang sudah datang. Itu artinya masalah ini akan segera selesai. "Duduk Yu"

__ADS_1


Yunita mengangguk, dia duduk di sebuah sofa tunggal. Berhadapan dengan sepasang suami istri yang duduknya saja saling berjauhan.


"Tolong kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tentang berita yang tiba-tiba muncul di tv, padahal kamu bilang jika tidak akan ada wartawan tanah air yang mengetahui semua ini. Tapi nyatanya berita itu tetap bocor juga"


Yunita mentap Vania dan Gara secara begantian. "Vania, maaf kalau aku sudah melukai dan menyakiti kamu. Tapi suami kamu ini memang tidak seperti yang kamu pikirkan. Ya, aku dan Gara memang belum resmi bercerai"


Deg..


"Yunita!" bentakan Gara terdengar begitu keras saat dia mendengar apa yang di ucapkan oleh mantan istrinya ini.


Vania mengusap kepalanya dengan menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia menatap suaminya dan Yunita secara bergantian. Menggeleng pelan karena tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Jadi selama ini kalian membohongiku? Kenapa? Kenapa tega sampai harus melakukan ini"


"Ya,karena kamu juga begitu tega telah merebut suamiku. Terlepas dari apa yang terjadi diantara kalian di masa lalu. Yang jelas Gara sudah menjadi suamiku, kenapa kau mau saja saat dia mengajakmu untuk menikah.Dengan alasan anak yang belum tentu juga itu adalah anak Gara"


"Yunita!"


Plakk..


Gara benar-benar tidak bisa menahan diri lagi ketika Yunita yang dia percaya jika sudah berubah dan menerima kenyataan yang ada. Ternyata masih terobsesi padanya hingga melakukan hal licik seperti saat ini.


"Jaga mulutmu! Jangan pernah sekali-kali kau menghina dan menjelekan istriku. Dan sudahi kegilaanmu ini. Bicara yang sebenarnya pada Vania"


Yunita memegang pipinya yang terasa sangat sakit karena tamparan Gara barusan. Tapi dia malah tersenyum melihat kemarahan Gara saat ini. Menatap ke arah Vania yang sedang mengusap air matanya.


"Memangnya apa yang harus aku jelaskan? Aku sudah menceritakan yang sebenarnya"


"Kau!" Gara menunjuk wajah Yunita dengan kilat amarah di balik tatapan matanya.


"Sudah cukup! Aku minta cerai, aku ingin kamu ceraikan aku, Gara"


Deg..

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2