
Vania melihat anaknya yang sedang makan dengan lahap. Mungkin selama ini dia tidak pernah menyangka akan bisa bersama dengan Ayahnya. Bersyukur karena Gevin sekarang bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah.
"Maafin Ibu ya, Nak. Ibu bangun kesiangan tadi, jadi gak sempat buat sarapan untuk Gevin"
"Iya Bu, gak papa"
Disampingnya, ada Gara yang juga sedang makan makanan miliknya. Vania menoleh dan tersenyum melihat suaminya. Kebahagiaan yang mungkin tidak akan bisa Vania jelaskan dengan kata-kata.
"Sayang, kenapa kamu malah diam. Ayo makan"
Vania mengangguk dan segera memakan makanan miliknya.
Selesai makan, Vania membantu Gara untuk bersiap bekerja. Membantu memasangkan kemeja di tubuh suaminya itu. Gara tersenyum melihat istrinya yang sedang fokus mengancingkan kemeja di tubuhnya itu.
Cup...
Gara mencium kening istrinya dengan lembut. "Aku mencintaimu Vania"
Vania langsung mendongak dan menatap heran pada suaminya itu. "Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?"
Gara menggeleng pelan, dia mengelus kepala istrinya itu dengan lembut. "Tidak papa, aku hanya bahagia saja bersamamu dan ingin kamu tahu kalau aku sangat mencintaimu"
"Dih, gombal banget. Sekarang jago banget ya ngegombal"
Gara tertawa kecil, istrinya ini memang sulit sekali di rayu sejak dulu. Mungkin jika orang lain yang mendengar ucapan Gara barusan, sudah tersipu malu. Tidak seperti Vania yang malah menganggapnya sedang menggombal.
"Udah, kamu berangkat sekarang sana" Vania menepuk dua kali dada Gara untuk merapikan kemeja yang di pakainya.
"Iya, makasih ya Sayang..." Gara kembali mencium kening dan kedua pipi istrinya itu dengan lembut. "...Aku pergi dulu"
"Iya, hati-hati di jalan" Vania menyalami tangan suaminya sebelum Gara pergi bekerja.
Setelah Gara berangkat bekerja, Vania hanya menemani Gevin yang sedang menonton televisi. Suara bell pintu membuat Vania menoleh ke arah pintu. Suaminya tidak bilang akan ada yang datang. Vania juga tidak punya janji dengan seseorang. Lalu siapa yang datang.
"Sebentr ya Gevin, Ibu mau membukakan pintu dulu"
"Iya Bu"
__ADS_1
Vania berjalan ke arah pintu dan membukanya. "Mama, kirain siapa yang datang"
Mama masuk dan memeluk menantunya itu. "Sayang, bagaimana kabar kamu? Mama kangen sekali dengan Gevin"
"Vania baik Ma, Grvin ada di dalam sedang menonton televisi"
Mama berjalan ke dalam Apartemen anaknya ini. Sementara Vania yang siap menutup pintu tidak jadi ketika ada sebuah tangan yang menahan pintu yang akan di tutup oleh Vania.
"Papa"
"Ya, aku juga ingin melihat cucuku. Tapi aku ingin bicara sebentar denganmu"
Vania keluar dari apartemennya ketika Papa menarik tangannya keluar dari Apartemen. "Ada apa Pa?"
"Kamu sengaja melarang Gara untuk menerima bantuan dari Yunita? Kau jangan egois, kamu tahu jika keluarga Gara sedang membutuhkan bantuan dari Yunita. Tapi hanya alasan kamu yang cemburu membuat Gara tidak menerima bantuan dari Yunita"
"Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Papa. Aku juga tidak tahu kalau Nona Yunita menawarkan bantuan pada Gara"
"Ya, tentu Gara tidak akan memberi tahu kamu karena kamu yang egois dan tidak mungkin kamu mengixinkannya. Kamu 'kan lebih memilih suami kamu kesusahan asalkan dia tetap bersama kamu. Buktinya kamu lebih rela melihat dia menderita tanpa fasilitas dariku daripada berani melepaskan Gara"
Deg..
"Maaf Pa, tapi ku tidak bisa meninggalkan Gara jika tidak suamiku sendiri yang meminta kau untuk pergi dari kehidupannya"
Vania langsung kembali masuk ke dalam kamarnya. Mama yang sedang bermain denganĀ Gevin pun merasa heran dengan Vania yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar tanpa berkata apapun. Mama menoleh pada suaminya yang baru saja duduk di sampingnya.
"Pa, bicara apalagi sama menantuku? Jangan terus menekannya Pa, dia tidak salah apapun"
"Papa tidak bicara apapun, dianya saja yang bersikap aneh"
Mama menghela nafas pelan, dia juga bingung kenapa suaminya ini bisa begitu tidak menyukai Vania. Padahal menurut Mama, Vania adalah sosok yang baik dan yang terpenting anaknya bahagia bersamanya.
######
Gara yang sedang bekerja langsung mendapat pesan dari Mama yang mengatakan jika dia ada di Apartemennya dan ada Papa juga. Tapi Istrinya yang tidak keluar-keluar kamar membuat Mama khawatir hingga dia menghubungi anaknya.
"Jay aku harus pulang duluan, ada masalah di rumah"
__ADS_1
"Yaudah, kau selesaikan saja dulu urusan kamu. Biar aku saja yang mengecek keadaan disini"
Gara mengangguk, dia menepuk bahu Jayden dengan pelan. "Makasih ya"
Gara langsung tancap gas menuju Apartemen. Dia meremas kemudi dengan kesal. "Apalagi yang Papa lakukan pada Vania. Aku heran kenapa Papa begitu tidak suka dengan istriku, padahal Vania adalah gadis yang baik"
Ketika Gara sampai di Apartemennya, dia langsung masuk dan menatap tajam Ayahnya yang duduk di ruang tengah bersama Gevin dan Mama.
"Mana istriku?"
"Di kamar Nak, tadi dia langsung masuk begitu saja" jawab Mama
"Pa, apa yang Papa lakukan lagi pada istriku? Dia salah apa sama Papa sampai Papa begitu membencinya?"
"Kenapa kamu menyalahkan Papa? Kamu fikir Papa akan melakukan apa? Istri kamu saja yang memang sejak awal sudah membawa keburukan untuk kamu. Bahkan sekarang kamu bisa berfikir jelek pada Papamu sendiri"
Gara tidak menjawab ucapan Papa, dia langsung pergi dari sana menuju kamarnya. Gara mengetuk pintu kamar dan memanggil istrinya itu.
"Sayang, Vania, buka pintunya"
Ceklek..
Pintu terbuka dan Vania tersenyum pada suaminya. Namun Gara tetap melihat bekas air mata di sekitar matanya. "Kok kamu berada disini? Bukannya kamu bekerja ya?'
Gara tidak menjawab, dia mendorong tubuh istrinya untuk kembali masuk ke dalam kamar. Menutup pintu kamar dengan rapat. Gara berdiri di depan istrinya dengan menatapnya lekat.
"Sekarang jawab, apa yang Papa lakukan sama kamu? Dia bicara apa sama kamu?"
Vania menggeleng pelan, jelas Vania cukup sadar jika sejak dirinya masuk ke dalam kehidupan Gara. Maka setiap masalah terus datang pada suaminya itu.
"Tidak ada, emangnya Papa kamu mau bilang apa sama aku? Jangan aneh-aneh deh Sayang"
"Jangan membohongiku! Apa yang Papa bicarakan padamu?"
Vania hanya diam dan tidak menjawab, dia masih seorang istri yang tidak mau jika suaminya mempunyai hubungan yang tidak baik dengan Ayahnya sendiri.
Vania meraih tangan Gara dan menggenggamnya. Menatap wajah suaminya dengan lekat. "Sudah ahh, kamu tidak perlu terus berburuk sangka pada Papa. Lagian Papa juga tidak membicarakan apapun denganku"
__ADS_1
"Aku tahu jika Papa masih tidak sepenuhnya menerima kamu sebagai istriku. Jadi tolong, apapun yang Papa ucapkan padamu. Jangan meninggalkan aku lagi seperti dulu. Karena aku akan gila jika itu terjadi"
Bersambung