Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 55 #Terus Menekan Istriku#


__ADS_3

Vania semakin menahan lengan suaminya ketik Gara berjalan begitu cepat di halaman rumahnya dan ingin segera masuk ke dalam rumah itu.


"Pelan-pelan Sayang"


Gara memghembuskan nafas pelan, dia menuruti ucapan istrinya itu. Berjalan masuk ke dalam rumah itu dengan amarah yang sudah benar-benar memuncak. Ketika Gara sampai di ruang tengah dan melihat kedua orang tuanya yang ada disana. Dia sudah mengepalkan tangannya dengan erat.


"Gara, ada apa kamu kesini malam-malam begini Nak?" Tanya Mama


"Aku kesini untuk menanyakan sesuatu Ma"


Mama mengerutkan keningnya bingung, menatap anak dan menantunya itu secara bergantian. Vania hanya menunduk di samping Gara dengan tangannya yang terus memegangi lengan suaminua itu.


"Sesuatu apa Gara?"


Gara menatap ke arah Papa dengan tajam, merasa tidak menyangka jika itu adalah Ayahnya, yang telah menekan istrinya untuk tidak lagi mengandung anak darinya. Gara benar-benar marah dan kesal sekarang ini.


"Kenapa Papa menekan istriku sampai dia tidak mau mempunyai anak lagi dariku?!"


Ucapan Gara benar-benar membuat Mama terkejut, dia menoleh pada suaminya yang hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Kali ini Mama benar-benar kecewa dengan Papa yang melakukan hal di luar batas.


"Pa, kenapa Papa melakukan itu? Memangnya apa salah menantu kita sampai Papa begitu membencinya?"


Papa tidak menjawab, dia hanya diam dengan helaan nafas panjang.


"Pa, aku sudah bilang untuk tidak lagi ikut campur urusan rumah tangga aku. Tapi kenapa Papa malah semakin menekan istriku. Apa salah dia sama Papa?"


Papa berdiri dan menatap Gara bersama istrinya itu. "Dia tidak salah, tapi pada dasarnya memang Papa tidak pernah merestui hubungan kalian"


Tangan Gara mengepal erat, namun segera di genggam oleh istrinya sehingga dia tidak mungkin melukai istrinya, Gara menggenggam tangan Vania dengan lembut.

__ADS_1


"Terserah Papa mau merestui atau tidak hubungan kami. Yang jelas aku tidak akan pernah meninggalkan Vania sampai kapan pun"


"Gara, tenang Nak. Mama akan mencoba bicara dengan Papamu"


Mama kira, suaminya sudah mulai berubah dan menerima kehadiran Vania dalam keluarga mereka. Namun nyatanya, Papa masih sama saja. Tidak menyukai Vania tanpa alasan yang jelas.


"Tidak perlu Ma, biarkan saja dia selamanya membenci istriku karena selama itu juga aku tidak akan pernah mau memaafkan apa yang telah dia lakukan pada istriku"


"Sayang.." Vania mencoba memperingati Gara agar tidak kurang ajar pada Ayahnya. Mau bagaimana pun, Papa tetap Ayahnya Gara dan Vania tidak mau sampai suaminya menjadi anak durhaka.


"Lihatlah, hanya baru beberapabulan kamu bersama wanita itu kamu sudah menjadi anak yang kurang ajar sama Papa"


"Stop menyalahkan Vania dalam semua sikapku. Karena aku begini bukan karena Vania, tapi karena kelakuan Papa sendiri"


Gara menarik tangan Vania dan membawanya keluar dari rumah orang tuanya dengan emosi yang masih menguasai dirinya. Gara masuk ke dalam mobil dan menyembunyikan wajahnya di kemudi. Dia benar-benar lelah sekarang, tidak tahu harus berbuat apa lagi ketika melihat Ayahnya yang begitu membenci wanita yang dia cintai.


Vania menghela nafas pelan melihat suaminya yang pastinya saat ini sedang dalam keadaan bingung. Gara mengelus kepala Gara dengan lembut. "Aku tidak papa asal aku bersama kamu. Tolong jangan terus bertengkar dengan Papa, kamu mungkin tidak tahu apa alasan Papa membenciku. Mungkin memang dia mempunyai alasan yang jelas, semua orang tua pasti menginginkan anaknya mendapatkan yang terbaik. Dan mungkin menurut Papa kamu, aku ini bukan yang terbaik untuk kamu"


Vania tersenyum, dia meraih tangan Gara dan menletakannya di pipinnya. "Aku memang beruntung karena bisa mendapatkan kamu. Disini aku yang beruntung karena sudah mendapatkan yang terbaik untuk hidupku"


Gara mencubit gemas pipi istrinya itu, dia tersenyum ketika melihat senyuman Vania. Seolah beban yang baru saja menimpa pundaknya, langsung hilang seketika.


"Kita pulang sekarang, tapi ini sudah cukup larut ya. Bagaimana kalau kita menginap semalam di hotel?"


Vania melihat ponselnya untuk melihat waktu, dan memang hari sudah hampir larut. Jika memaksa pulang, mungkin akan sampai menjelang pagi. Kasian juga suaminya yang harus menyetir dalam keadaan dia yang belum istirahat sama sekali setelah pulang bekerja.


"Yaudah, terserah kamu saja. Kasian juga kamunya belum istirahat sama sekali"


Akhirnya mereka tidak pulang malam ini, tapi menginap di salah satu hotel di sana. Masuk ke dalam kamar hotel, Vania melihat suasana hotel yang nyaman dan sangat indah. Vania berjalan ke arah jendela besar di kamar ini. Membuka tirai yang menutupi kaca jendela dan melihat pemandangan di luar kamar hotel. Lampu-lampu yang terlihat terang dari jalanan dan bebrapa ruko di pinggir jalan.

__ADS_1


Gara memeluk istrinya dari belakang, mengecup bahu dan leher belakang istrinya itu. "Sayang aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku ya"


Vania tersenyum, dia memegang tangan suaminya yang berada di perutnya. "Tuhan yang menentukan semuanya. Buktinya kamu bisa kembali menemukan aku setelah 5 tahun berlalu. Itu artinya karena Tuhan masih ingin kita tetap bersama dan bahagia"


Gara tersenyum mendengar itu, mungkin memang benar jika takdir Tuhan adalah yang terbaik untuk Gara dan Vania. Meski saat ini masih terlalu banyak masalah yang harus di hadapi mereka. Tapi selama Vania masih bersamanya, maka dia tidak akan pernah merasa takut menghadapi masalah yang ada.


Vania terlonjak kaget saat suaminya yang tiba-tiba menggendongnya. Vania refleks langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya.


"Sayang, turunin aku. Kamu apaan si pake gendong-gendong aku segala?"


Cup..


Gara mencium bibir Vania, memberikan sebuah lumaa*tan lembut di bibirnya itu. Dan Vania mulai mengerti apa yang akan dilakukan Gara saat ini. Dia mulai menikmati ciuman yang diberikan suaminya itu.


Gara menjatuhkan tubuh istrinya diatas tempat tidur, mengukung tubuh Vania dengan senyuman penuh arti. "Sekarang kamu sudah tidak memakai pil kontrasepsi lagi, dan mulai sekarang aku akan berjuang untuk membuat kamu hamil"


Vania terbelalak mendengar itu, sudah pasti malam ini dia akan kelelahan dan tidak bisa tidur lebih awal. Dan semuanya di mulai dengan tangan Gara yang bermain di tubuh Vania hingga suara-suara kenikmatan terdengar dari kamar hotel ini.


"Sayang sudah ahhh, aku capek"


"Iya, habis yang ini sudah"


Lihatlah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 3 pagi, bayangkan saja Vania sudah berapa kali bangun ketika Gara masih belum merasa puas. Suaminya memang benar-benar sangat ganas dan tidak bisa menahan diri ketika bersama Vania.


Dan akhirnya pelepasan terakhir mengakhiri permainan ini. Berakhir dengan saling memeluk diatas tempat tidur.


"Sayang sebelum pulang, aku ingin ke makam kedua orang tuaku dulu"


Gara mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Iya Sayang"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2