Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 65 #Kejelasan Tentang Masa Depanku?#


__ADS_3

Semua hal yang dialami Vania saat mengandung Gevin, mungkin akan dia alami lagi saat kehamilan kedua ini. Meski saat ini Vania merasa lebih baik karena Gara yang selalu ada di sampingnya. Vania begitu bahagia saat dia bisa merasakan bagaimana di manja suami saat dia sedang hamil.


"Mau makan apa sekarang? Jangan yang pedas"


Vania langsung cemberut ketika Gara melarang dia memakan makanan yang selalu menjadi favoritnya selama ini.


"Pedasnya dikit aja boleh dong?"


Gara tetap menggeleng, tentu saja dia tidak akan mengizinkan karena tidak mungkin akan membiarkan istrinya makan makanan yang kurang sehat ketika dia sedang hamil.


"Tidak Sayang, ingat kamu sedang hamil"


Vania hanya mencebikan bibirnya, dia juga tidak mungkin membantah ucapan suaminya itu. Jadi dia tetap menurut saja apa yang  dikatakan oleh suaminya itu.


"Yaudah, terserah kamu aja mau makan dimana dan makan apa"


Gara mengelus kepala istrinya yang terlihat pasrah itu. "Yaudah yuk kita berangkat. Gevin mana?"


"Sebentar biar aku panggil dulu, dia masih di kamarnya"


Gara mengangguk dan membiarkan Vania berlalu ke kamar anaknya. Gara tahu bagaimana istrinya yang sedang hamil harus dia jaga dengan sangat baik. Jangan sampai ada masalah apapun pada kesehatan Vania maupun bayinya.


Keluarga kecil ini berangkat menuju Restaurant. Mereka sengaja makan di luar untuk merayakan kebersamaan mereka kembali setelah beberapa minggu ini terpisah.


"Ayo dimakan dong Sayang, kamu yang pesan semua ini. Kok sekarang malah cuma di liatin aja"


Vania memang merasa kalap dan memesan banyak makanan hanya karena dia membayangkan saja jika makanan itu akan enak. Namun ketika dia hanya mencoba satu suap saja, selera makannya langsung hilang begitu saja.


"Aku suapin ya"

__ADS_1


Gara masih begitu sabar dengan sikap istrinya ini. Dia sudah banyak membaca artikel di internet tentang menghadapi Ibu hamil yang hormon dan mood nya naik turun. Jadi Gara sedang menikmati masa ini, karena saat kehamilan Gevin dia benar-benar tidak merasakan momen ini. Gara sedang ingin menikmati masa-masa seperti ini, hal yang memang di lalui banyak suami di luar sana.


"Kamu dan Gevin saja yang makan, aku udah gak berselara makan lagi sekarang. Malah mual"


"Sayang, tapi kamu harus makan. Bayi kita juga butuh nutrisi, kalau kamu terus tidak mau makan bagaimana bayi dalam perutmu akan mendapatkan nutrisi yang baik"


Vania menatap Gara dengan mata yang berkaca-kaca. Dia merasa jika Gara begitu menyayanginya dan memberikan perhatian lebih padanya disaat Vania sedang hamil.  Bahkan Gara juga begitu sabar menghadapi Vania yang mood nya sedang naik turun. Hal yang tidak pernah Vania rasakan saat mengandung Gevin.


"Terima kasih ya karena kamu sudah begitu sabar menghadapi aku"


"Karena kamu juga pasti mengalami hal yang sama ketika dulu mengandung Gevin. Jadi, aku sedang mencoba untuk menebus semuanya, meski aku tahu jika waktu yang sudah berlalu tidak mungkin bisa digantikan dengan saat ini"


Vania tersenyum mendengar itu, dia mengelus pipi suaminya dengan lembut. "Tidak perlu menggantikan waktu yang sudah berlalu. Kamu berada di sampingku saat ini saja sudah lebih dari cukup. Jadi lupakan saja tentang masa lalu kita yang sudah berlalu"


Gara mengangguk, dia memang harus lebih bersyukur karena bisa mendapatkan istri seperti Vania yang begitu sabar dan bisa menerima masa lalu yang menghancurkan hidupnya. Tapi Vania begitu lapang menerima takdir dan kenyataan yang membuatnya terluka. 


"Ibu, Gevin mau lagi ice cream"


Keluarga kecil ini melanjutkan makan malam mereka dengan tenang. Meski Vania hanya menerima makanan saat Gara menyuapinya saja. Itupun dengan sedikit paksaan.


######


"Jadi kamu beneran siap jika kita pindah ke Ibu kota dan tinggal menetap disana?"


Vania mengangguk, setelah semuanya terungkap dan tidak ada lagi yang disembunyikan oleh Papa dan kemungkinan besar Papa juga tidak akan melarang dia bersama Gara lagi, jadi tidak ada alasan lagi untuk Vania menolak kembali ke Ibu kota. Dia akan memulai hidup baru dan kenangan yang baru disana.


"Semuanya sudah berlalu dan aku sudah bisa menerima semuanya. Hanya saja apa bisa jika kita tinggal terpisah dari orang tua kamu? Emm. Bukan apa-apa, tapi aku akan merasa canggung jika tinggal bersama orang tua kamu"


Gara tentu mengerti bagaimana perasaan Vania. Dia sudah mau diajak tinggal kembali di Ibu kota saja sudah lebih dari cukup untuknya.Jadi, Gara tidak akan menambah beban pikiran Vania dengan harus tinggal serumah dengan orang tuanya.

__ADS_1


"Iya Sayang, kita tidak akan tinggal bersama Mama dan Papa disana. Kita akan tinggal terpisah"


Vania beringsut dan memeluk suaminya yang sedang duduk menyandar diatas tempat tidur. "Makasih Sayang, karena kamu sudah mengerti aku dan perasaan aku"


Gara mengecup puncak kepala istrinya dengan lembut. "Tentu saja, karena kamu dan anak-anakku adalah prioritas utama bagiku"


Vania tersenyum dengan perasaan yang bahagai. Bagaimana Gara yang begitu menyayanginya dengan begitu besar dan tulus.


"Oh ya, besok aku jadwal periksa ke Dokter. Kamu temani 'kan?"


"Tentu saja, semua momen kehamilan kamu itu tidak akan aku lewatkan"


Vania tahu itu, karena memang Gara begitu menginginkan untuk Vania hamil lagi. Karena memang Gara ingin menebus waktu yang hilang ketika Vania mengandung Gevin saat itu.


"Sekalian aku mau konsultasi besok, aku harus mendapatkan kejelasan tentang masa depan aku setelah ini"


Vania mengerutkan keningnya bingung, merasa jika ucapan Gara terlalu membingungkan baginya. Kehamilan dia apa hubungannya dengan masa depan Gara.


"Kamu aneh deh, kenapa menyangkut pautkan kehamilan aku dengan masa depan kamu, memangnya apa hubungannya?"


Gara tidak menjawab, dia hanya tersenyum mendengar itu. Tentu saja Vania tidak akan mengerti apa yang Gara maksud saat ini. "Sudahlah kamu tidur saja sekarang, aku lelah"


Vania mengangguk meski bingung dengan apa yang diucapkan oleh suaminya barusan. Namun dia tetap tidur dengan memeluk tubuh suaminya.


Gara tersenyum melihat istrinya yang sudah terlelap dalam pelukannya dengan waktu sekejap. Mungkin memang Vania sedang lelah dan ingin segera tidur.


Gara mengelus perut Vania yang masih rata itu. Tersenyum bahagia ketika mengingat jika di dalam sana ada calon bayi keduanya. "Baik-baik di perut Ibu ya Nak, jangan nakal dan jangan membuat Ibu kesusahan"


Gara menghela nafas pelan ketika dia mengingat jika dulu Vania juga mengalami hal yang sama ketika mengandung Gevin. Dan saat ini Gara sedang mencoba untuk menebus segala kesulitan Vania saat mengandung Gevin, dulu. Kehamilan kedua Vania ini, akan sepenuhnya mendapatkan perhatian dari Gara.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2