
Vania keluar dari dalam kamar setelah dia selesai mandi dan berganti pakaian. Vania menatap Gevin yang terlihat begitu senang karena bisa bermain dengan Ayahnya. Vania menghela nafas, dia harus jbisa menerima jika saat ini Gevin bukan hanya miliknya saja, karena memang pada awalnya memang Gevin bukan hanya milik Vania seorang.
"Jadi dia adalah Ayahnya Gevin?"
Vania menoleh pada Ibu yang baru saja keluar dari dapur."Iya Bu, dia adalah Ayahnya Gevin"
"Pantas saja Ibu melihat itu seperti mirip Gevin, lihatlah garis wajah mereka benar-benar sama"
Vania menatap Gevin dan Gara yang sedang bermain itu. Benar, memang garis wajah mereka sangat mirip bahkan nyaris sama. "Kak Jenny apa belum pulang Bu?"
"Mungkin sebentar lagi, sekarang ayo kita temui Gevin dan... Siapa nama Ayahnya Gevin itu Va?"
"Sagara Bu"
Ibu mengangguk, lalu dia menggandeng tangan Vania untuk membawanya menghampiri Gevin dan Gara.
"Ibu.."
Gevina langsung berlari dan memeluk kaki Vania. Vania langsung menggendong Gevin dan mengecup pipinya. "Sayang, apa kau senang?"
Gevin mengangguk dengan wajah yang berbinar bahagia. "Gevin senang Bu, akhirnya Gevin bisa main dengan Papa"
Vania tersenyum mendengar itu, dia menurunkan Gevin dari gendongannya lalu ikut duduk diatas karpet berbulu disana. "Loh Nak,ini mainan siapa?"
Vania menemukan mainan baru yang tergeletak diatas karpet. Mainan yan gjelas Vania ingat jika dia tidak pernah membelikan mainan seperti itu. Lagian mainan itu juga terlihat sangat mahal.
"Aku yang membelikannya"
Vania langsung menoleh pada Gara, dia mengerutkan keningnya. "Kapan kau membeli ini?"
"Jauh sebelum aku mengikuti kamu sampai kesini. Sejak aku tahu jika nama anakku adalah Gevin, maka aku tahu jika dirinya adalah anak laki-laki"
Mendengar penjelasan Gara, Vania hanya terdiam dan lanjut bermain dengan anaknya. Gara hanya menatap Vania dengan tatapan yang penuh kesedihan. Gara hanya ingin kembali memiliki Vania. Gara hanya ingin menjadikan Vania adalah ratu dalam hidupnya. Tapi keadaannya saat ini benar-benar membuat dirinya sulit.
"Vania, ayo menikah denganku"
Deg..
__ADS_1
Vania terdiam dengan tubuh yang mematung. Tidak menyangka jika Gara akan mengatakan hal itu.
"Hii, Gevin Bibi pulang"
Vania langsung menoleh pada Jenny yang baru saja masuk ke dalam rumah. Dia menghela nafas pelan, merasa tertolong dengan kehadiran Jenny.
Jenny masih belum menyadari keberadaan Gara disana. Sampai ketika dia berbaik, Jenny langsung terdiam. Kantung plastik ditangannya langsung terjatuh.
"Vania.." Jenny langsung berlari ke arah Vania dan memeluk gadis itu dengan erat. "...Vani, maafkan aku"
Vania merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh Jenny. "Kak, kenpa minta maaf? Kakak tidak mempunyai salah apapun padaku"
Jenny melerai peluannya, dia memegang lengan Vania dan menatapnya dengan lekay. "Vani, aku yang tidak sengaja memberi tahu tentang keberadaan Gevin pada Tuan Gara, aku benar-benar tidak tahu jika Tuan Gara itu adalah Ayahnya Gevin yang kamu sebutkan itu"
Vania menghembuskan nafas pelan, sudah tidak ada gunanya lagi marah pada Jenny karena dia yang tidak sengaja memberi tahu tentang keberadaan Gevin pada Gara. Karena sekarang Gara juga sudah menemui Gevin dan keduanya sudah saling bertemu.
"Sudahlah Kak, tidak papa. Mungkin memang sudah saatnya Gevin mengetahui tentang Ayahnya"
######
"Kenapa Papa harus pulang? Papa tidak ingin pergi meninggalkan Gevin lagi 'kan?"
Gara berlutut di depan Gara, memegang bahu putra kecilnya. "Tidak, Papa akan kembali lagi kesini besok"
"Tapi kenapa Papa tidak tinggal disini saja?"
"Gevin, Papa Gevin harus pergi karena memang Papa punya pekerjaan. Jadi Papa Gevin tidak bisa jika terus tinggal disini" Vania langsung menjawab ucapan anaknya itu.
Gara menatap Vania yang berdiri dibelakang Gevin. "Apa tidak bisa jika kita tinggal bersama suatu saat nanti?"
"Jangan memberikan harapan apapun pada Gevin, jika kamu tidak yakin bisa menepatinya"
Akhirnya setelah Gara juga mebantu membujuk Gevin dan menjelaskan kenapa dia tidak bisa tinggal disini bersama Gevin dan Vania. Tentu tidak menjelaskan dalam hal yang sebenarnya terjadi.
Gara melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju aparteman yang dia tempati selama disini. Gara jelas melihat bagaimana Vania yang begitu baik merawat anaknya hingga sebesar itu. Rasa bersalah langsung menyeruak ke dalam hati Gara. Bagaimana dia membayangkan hidup Vania selama ini yang melewatkan banyak hal sulit dalam hidupnya. Dia bahkan bisa merawat anaknya seorang diri.
"Dia memang wanita kuat dan hebat. Aku akan terus meyakikanmu jika aku bis amembuat kamu bahagia, Sayang"
__ADS_1
Pagi ini Gara kembali datang ke rumah yang ditempati oleh Vania. Gevin yang melihat Ayahnya datang, tentu saj langsung berlari ke arah Gara dan memeluknya.
"Gevin kira Papa tidak akan datang lagi kesini"
"Tentu tidak Sayang, Papa pasti akan datang kesini setiap hari. Papa juga harus membujuk Ibu, karena Ibu masih menolak keberadaan Papa disini. Apa Gevin bisa membantu Papa? Jika Ibu tidak marah lagi pada Papa, nanti kita bisa tinggal bersama di rumah Papa. Gevin mau 'kan?"
Tentu Gevin langsung mengangguk cepat, dia juga ingin melihat Ibu dan Ayahnya bersama seperti orang tua teman-temannya yang lain.
"Gevin harus melakukan apa?"
"Gevin harus.."
######
Vania baru saja pulang bekerja malam ini, dia masuk ke dalam rumah dan melihat Gevin yang sedang bermain dengan Ibu dan Jenny. Vania langsung menghampiri mereka dan langsung ikut bergabung dengan mereka.
"Va, maaf ya tadi aku tidak sempat ke toko. Ada banyak pesanan bunga untuk beberapa acara dan kebanyakan minta aku yang merangkaikan langsung"
Vania mengangguk mengerti, memang Jenny yang memiliki usaha sendiri yang cukup dikenal di kota ini benar-benar membuat Vania merasa jika dirinya bukan apa-apa sebagai seorang perempuan. Diberi pekerjaan oleh Jenny saja sudah sangat bersyukur.
"Vania, aku benar-benar masih tidak menyangka jika Ayahnya Gevin adalah Tuan Gara. Maaf ya, karena waktu itu aku malah memaksa kamu untuk ikut aku ke acara resepsi mereka"
"Tidak papa Kak, sudahlah tidak perlu terus dibahas"
Gevin mendekat pada Vania, dia duduk diatas pangkuan Ibunya itu. "Ibu, apa kita tidak bisa tinggal bersama dengan Papa? Seperti teman-teman Gevin yang lain?"
Ibu dan Jenny terdiam mendengar pertanyaan Gevin. Karena mereka tahu bagaimana keadaannya.
"Tidak bisa Nak, Ibu dan Papa Gevin sudah tidak bisa bersama lagi"
"Tapi kenapa Bu? Gevin hanya ingin Ibu dan Papa kembali bersama. Gevin tidak mau tinggal hanya dengan salah satu dari kedua orang tua Gevin"
Gevin menangis dan meraung-raung, meminta hanya untuk Vania bisa kembali dengan Ayahnya, Gara. Vania tidak bisa melakukan apapun saat ini.
Bersambung
__ADS_1