Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 54 #Benarkah Belum Siap Hamil?#


__ADS_3

Vania masih memikirkan cara yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Gara. Tapi entah kenapa otaknya malah tiba-tiba blank.


Gara memegang lengan Vania dan menatapnya dengan tajam. Gara tidak menyangka jika istrinya yang selalu menurut padanya dan tidak pernah menyembunyikan apapun. Ternyata berani melakukan hal sejauh ini tanpa alasan yang jelas.


"Kenapa? Kenapa kau melakukan ini?"


"Ka-karena aku belum siap hamil lagi. Ya, aku belum siap hamil lagi"


Akhirnya Vania mendapatkan jawaban yag tepat agar suaminya percaya dan berhenti bertanya apa dan kenapa.


"Kalau memang kamu belum siap untuk hamil lagi, kenapa kamu harus menyembunyikannya dan tidak bilang padaku saja secara langsung"


Gara meraih tubuh istrinya dan memeluknya, Gara bisa mengerti alasan Vania. Karena mungkin dia memang masih trauma atas kehamilan Gevin di masa lalu yang tanpa dihadiri seorang suami itu.


"Yaudah kalau memang kamu belum siap untuk hamil lagi. Aku tidak akan memaksa"


Vania mengangguk dalam pelukan suaminya, dia melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Memeluknya dengan erat. "Aku masih ingin menghabiskan waktu bersama Gevin. Dia masih kecil dan sepertinya masih belum benar-benar siap mempunyai anak.


Vania masuk ke dalam kamar mandi dan Gara mengambil kembali pil kontrasepsi itu. Menghela nafas pelan, dia melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup.


"Benarkah jika dia memang belum siap hamil, atau mungkin ada hal lain yang membuat dia mengonsumsi ini. Aku harus cari tahu"


Entah kenapa Gara merasa tidak percaya dengan alasan yang diberikan Vania. Untuk pertama kalinya Gara ragu pada Vana, bahkan sampai hampir tidak percaya. Gara merasa jika Vania mengatakan itu karena memang mempunyai alasan lain selain belum siap hamil lagi.


Vania keluar dari kamar mandi  setelah selesai mandi. Dia tidak menemukan suaminya lagi di ruang ganti, mungkin Gara memang sudah keluar dari sana. Vania membuka lemari mikiknya dan menghela nafas pelan.


"Aku benar-benar tidak berfikir jika Gara akan membuka lemariku dan menemukan pil kontrasepsi yang sudah lama aku sembunyikan"


Vania menghela nafas pelan, dia mengingat kembali bagaimana ketika dia memutuskan untuk mengonsumsi pil itu. Vania hany tidak mau jika Gara akan terbebani dengan anak kedua darinya. Apalagi ucapan Papa yang masih teringat oleh Vania.

__ADS_1


Jangan menunjukan identitasmu ke Publik jika kau adalah Ibu dari anaknya Gara.


Satu kalimat itu cukup membuat Vania sadar jika Papa tidak menginginkan Gara mempunyai anak dari wanita seperti dirinya. Membuat Vania langsung memutuskan untuk menggunakan pil kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.


"Setidaknya aku tidak akan membuat Gara semakin kesulitan jika aku tidak hamil lagi"


Bohong jika Vania bilang dia tidak papa. Tentu saja ada Noda dan Luka yang tersisa dalam hatinya. Semuanya yang terjadi dalam hidupnya menimbulkan sebuah luka yang nodanya tidak pernah hilang sampai sekarang. HIdup seorang diri dengan keadaan hamil. Dan sekarang ketika Vania sudah bersama Gara.Masalah masih belum bisa terselesaikan. Karena pada nyatanya Papa masih belum bisa menerimanya dengan sepenuh hati.


Vana keluar dari ruang ganti, menatap suaminya yang sedang duduk diatas sofa dengan ponsel ditangannya. Vania menghampirinya dan duduk disamping Gara.


"Kamu sedang apa? Mau sarapan apa  pagi ini?"


"Aku tidak sarapan di rumah, langsung pergi saja. Ada pekerjaan mendadak dari Jayden"


Vania menatap suaminya yang berlalu keluar kamar. Sepertinya Gara masih marah pada Vania karena pil kontrasepsi itu. Vania menghela nafas pelan, dia juga bingung harus melakukan apa saat ini. Sepertinya Vania harus membujuk suaminya untuk memaafkannya dan tidak marah lagi padanya.


#####


"Sebenarnya aku juga berpikiran yang sama denganmu. Apa mungkin jika Vania di tekan oleh Ayahmu lagi? Bisa saja 'kan? Kamu tanyakan sama dia, dan buat dia berkata jujur"


Gara terdiam, benar apa yang dikatakan oleh Jayden barusan. BIsa saja Vania melakukan semua ini karena tekanan dari Papa yang selalu tidak suka padanya.


Dan ketika dia pulang ke Apartemennya, dia langsung mengajak istrinya untuk berbicara di dalam kamar. Gara tidak bisa menundanya lagi untuk menanyakan hal yang memenuhi pikirannya selama dia bekerja.


Duduk di pinggir tempat tidur dengan saling berhadapan. Vania mulai merasakan hawa tidak tenang dari suaminya. Vania melihat tatapan Gara yang menatapnya dengan lekat.


"Kamu melakukan ini apa karena tekanan dari Papaku?"


"Melakukan apa maksud kamu? Aku tidak melakukan apapun"

__ADS_1


"Minum pil kontrasepsi?"


Vania langsung terdiam mendengar itu, dan keterdiaman Vania cukup menjadi sebuah jawaban untuk Gara. Dia yakin jika istrinya mengonsumsi pil kontrasepsi bukan karena dia belum siap hamil. Tapi karena dia yang memang tertekan oleh Ayahnya.


"Ak-aku..."


"Tidak perlu berbohong dan mencari alasan lain. Aku tahu jika kamu telah tertekan oleh Papa. Bersiplah, aku ingin menemui Papa sekarang. Aku tidak mau membiarkan dia terus menerus menekan kamu di belakangku seperti ini"


Vania langsung megang lengan suaminya itu. "Sayang, jangan melakukan itu. Lagian untuk apa juga kita datang ke rumah orang tuamu malam-maam begini. Sudah jangan ya"


"Kalau aku tidak bicara langsung pada Papa, maka dia akan terus menekan kamu dan kamu juga tidak pernah mau bicara padaku. Kalau memang kamu tidak mau ikut denganku, biarkan saja aku yang pergi sendiri kesana"


Vania terdiam, dia tidak mungkin membiarkan Gara pergi sendirian ke rumah orang tuanya. Apalagi dia masih dalam keadaan marah saat ini.


"Yaudah aku akan temani, tapi kita titipkan   Gevin dulu ke rumah Kak Jenny"


Vania tidak mungkin membiarkan Gara yang sedang di selimuti emosi dan amarah itu pergi sendirian ke rumah orang tuanya. Vania tidak mau sampai Gara lepas kendali nantinya.


Akhirnya Vania membawa Gevin untuk di titipkan ke rumah Jenny. Mencoba menjelaskan sedikit agar Gevin tidak menanyakan kenapa di malam hari begini dia harus di titipkan di rumah Jenny.


"Titip Gevin ya Kak, nanti akan aku jelaskan apa yang sedang terjadi"


"Iya Va, tidak papa. Kamu selesaikan saja dulu masalah kamu itu"


Vania mengangguk, setelah berpamitan Vania dan Gara segera pergi. Vania melihat suaminya yang terus diam sepanjang perjalanan. Mungkin memang suaminya sedang menahan emosi dan amarah.


Lagian kenapa Gara bisa menyangka pada hal itu ya. Padahal aku sudah sebisa mungkin memberikan alasan yang masuk akal.


Vania mengelu tangan Gara yang memegangi kemudi. "Sabar Sayang, janga termakan emosi"

__ADS_1


"Aku tidak akan semakin marah kalu kamu tidak mencoba menutup-nutupi kelakuan Papa"


Bersambung


__ADS_2