Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 38 #Belum Sepenuhnya Percaya Jika Papa Berubah#


__ADS_3

Pagi ini Vania terbangun ketika merasakan kecupan di pipinya. Membuka matanya yang masih terasa perih karena baru saja bangun tidur. Tersenyum tipis ketika melihat wajah suaminya yang tersenyum padanya.


"Sayang, kamu sudah siap bekerja. Maaf ya karena aku baru saja bangun tidur. Malah kamu duluan yang bangun"


Vania segera bangun, dia merasa tidak enak karena bangun lebih terlambat dari  suaminya. Apalagi saat dia melihat Gara yang sudah siap untuk pergi bekerja. Dan sepertinya dia tidak sadar jika tubuhnya masih polos tanpa busana, hingga saat ini bagian dadanya terpampang jelas.


"Sayang apa kau ingin aku tidak jadi berangkat bekerja sekarang"


Vania secepat kilat langsung menarik selimut dan menutup tubuh polosnya itu. Dia tahu apa maksud Gara dan kemana tatapan mata itu tertuju.


"Jangan anrh-aneh Sayang, semalam 'kan udah. Aku bahkan sudah sangat lelah sekarang, jadi jangan lagi ya"


Gara tertawa kecil ketika dia melihat wajah istrinya yang memelas saat mengatakan itu. Sangat menggemaskan dimata Gara. "Yaudah, kalau gitu nanti malam lagi ya"


Vania hanya mendnegus kesal ketika melihat tatapan penuh gairah dari suaminya itu. "Sudah sana kamu cepat pergi, lagian sudah beberapa hari ini kamu tidak pergi bekerja. Pasti Jayden akan kesibukan sendiri"


"Iya, iya. Ini juga aku akan pergi. Kamu baik-baik ya dirumah"


Vania mengangguk dengan tersenyum, lalu terdiam beberapa saat ketika suaminya mengelus perutnya dibalik selimut tebal yang membalut tubuhnya.


"Semoga saja benih aku akan segera hadir di perut kamu"


Vania hanya tersenyum mendengar ucapan Gara barusan. Dan setelah Gara pergi dari kamarnya, Vania segera mandi. Lalu dia segera membuatkan sarapan sebelum anaknya bangun. Dan setelah sarapan yang dibuat oleh Vania selesai, dia langsung membawa sarapan itu ke kamar anaknya. Ternyata Gevin memang sudah bangun. Anak itu sedang duduk menyandar diatas tempat tidur.


"Sudah bangun Nak, ayo sarapan dulu dan minum obatnya"


Gevin tersenyum tipis pada Ibunya, meski sebenarnya dia merasa malas untuk meminum obatnya. Tapi Gevin hanya tidak mau melihat Ibunya bersedih lagi seperti ketika dia sedang sakit. Gevin sering terbangun di malam hari dan mendengar isak tangis Ibunya yang begitu memilukan. Membuat Gevin tahu jika Ibunya sedang menangisinya karena penyakit yang di derita oleh Gevin bukan hanya penyakit biasa.


"Papa sudah pergi Bu?"

__ADS_1


Vania memngangguk, dia mulai menyuapkan bubur yang dia buatkan untuk anaknya ini. "Papa ada pekerjaan Nak. Kasihan juga Papa karena tidak pergi bekerja beberapa hari ini, nantinya akan membuat Paman Jayden kerepotan"


Gevin mengangguk mengerti, dia membuka mulutnya ketika Vania kembali menyuapi makanan ke mulutnya.


######


"Bagaimana perkembangan kali ini Jay?"


Jayden yang sedang menatap layar komputer didepannya sedikit membenarkan kacamata yang dipakainya sedikit melorot.


"Masih tetap sama Ga, sepertinya memang belum banyak yang mau menjadi pelanggan kita dan memesan makanan menggunakan jasa delivery dari tim kita"


Gara hanya menghela nafas pelan mendengar penjelasan dari Jayden barusan. Sepertinya memang tidak akan mudah jika membuka usaha yang benar-benar baru seperti ini. Kebanyakan akan melanjutkan usaha yang sudah di bina oleh keluarganya, hingga anaknya hanya tinggal melanjutkan saja.


"Oh ya bagaimana keadaan anak kamu? Maaf ya karena aku belum sempat untuk menjenguk, abisnya disini juga tidak ada yang menunggu kalau aku pergi"


Jayden menatap Gara yang duduk di atas meja kerja dengan Jayden yang duduk di kursi depan meja kerja itu. "Tapi aku dengar kemarin jika Ketua dan Nyonya datang kesini untuk menjenguk anakmu. Apa benar itu?"


Gara mengangguk sebagai jawaba, memang benar apa yang diucapkan oleh Jayden barusan.


Jayden menatap Gara dengan lekat, seolah sedang memastikan sesuatu dari pria itu. "Kau yakin jika Ketua sudah benar-benar berubah dan menerima Vania dan anak kamu?"


Gara menghembuskan nafas pelan, ya dia memang belum sepenuhnya yakin atas perubahan Ayahnya itu. Makanya Gara belum siap jika harus kembali lagi ke Ibu kota, apalagi dengan membawa anak dan istrinya. Gara takut jika disana nanti Vania malah akan merasa tertekan.


"Sebaiknya kamu tetap harus waspada dan menjaga istri kamu dengan baik. Takutnya hal yang seperti dulu akan terulang lagi"


Gara mengangguk mendengar nasihat dari teman sekaligus rekan kerjanya ini. Memang dia tidak bisa langsung percaya begitu saja pada Papa yang mengatakan jika dirinya telah berubah dan menerima Vania.


Sore hari, Gara kembali ke Aparetemennya. Dia langsung disambut oleh senyuman hangat istrinya. Gara mencium kening Vania dengan penuh cinta.

__ADS_1


"Bagaimana kerjanya hari ini?"


"Cukup bagus, ada tiga pesanan yang mau menggunakan jasa delivery dari tim kami untuk hari ini"


Vania tersenyum, dia mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya itu. Menatap Gara dengan senyum menenangkan. "Itu adalah kemajuan yang bagus, aku tahu jika kamu akan lebih sukses lagi suatu saat nanti ketika usaha kamu ini benar-benar maju"


Gara tersenyum, dia meraih pinggang Vania dan menarik tubuh ramping itu untuk semakin merapat dengan tubuhnya.


"Kenapa kau semakin kurus saja? Makan yang banyak biar tubuh kamu ini berisi dan sehat"


Vania mencebikan bibirnya, menatap Gara dengan tatapan tidak  percaya. "Nanti kalau aku gendutan, kamu pasti akan menganggap aku jelek dan mungkin akan mencari wanita lain yang lebih cantik daripada aku. Iya 'kan?"


Gara tertawa gemas dengan wajah cemberut istrinya itu. Cup..cup.. Gara memberikan dua kali kecupan di bibir Vania. "Apa kamu lupa siapa Yunita, mantan istri yang aku ceraikan hanya demi kamu dan Gevin. Dia adalah seorang model terkenal dengan kecantikannya yang tidak perlu diragukan lagi. Tapi, apa aku tertarik padanya? Tidak. Semuanya karena yang aku cintai hanya kamu dan aku tidak akan bisa membohongi hatiku sendiri"


Vania terdiam dengan menatap mata Gara dengan lekat. Terlihat jelas ketulusan dibalik tatapan suaminya itu. Dan saat ini Vania sadar jika tidak ada lagi yang perlu dia takuti saat suaminya saja begitu mencintainya sampai sebesar ini. Gara yang bahkan tidak bisa berpaling dari sosok Vania yang selama 5 tahun ini malah menghilang tanpa jejak. Beruntung karena takdir telah mempertemukan mereka kembali.


"Jadi, mulai sekarang tidak perlu takut atau apapun itu. Karena aku memang sangat mencintaimu dan hati ini tidak akan berpaling pada siapapun lagi"


Vania tersenyum mendengar itu, dia memeluk Gara dengan rasa terharu yang memenuhi  relung hatinya.


"Dimana Gevin?"


Vania membantu Gara untuk membuka kancing kemeja yang di pakainya. "Gevin sedang tidur, baru saja minum obat lagi"


Gara mengangguk mengerti.


"Kamu mandi dulu ya, biar aku siapkan airnya"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2