
Gara semakin merasa tubuhnya meriang, kepalanya sangat berat sampai rasanya sulit untuk membuka mata. Entah ini memang efek dari tangannya yang terluka, atau mungkin hanya karena fikirannya yang kacau.
Gara merasa sangat sulit untuk bangun, matanya terasa berat dan tidak bisa dia bka. Di mulutnya hanya terdengar gumaman yang memanggil nama istrinya. Terus berulang setiap kali.
Entah apa yang saat ini membuat Vania tetap datang ke sini dan menemui suaminya yang katanya sedang sakit. Padahal dia juga sedang tidak baik-baik saja dan pikirannya pun juga begitu kacau. Tapi, hati kecil Vania tetap peduli padanya. Vania tetap mencintai Gara dan dia tidak bisa membohongi perasaannya itu.
Vania masuk ke dalam kamar dan melihat keadaan suaminya. Gara yang tidur dengan gelisah dan terus bergumam memanggil namanya.
"Vania.. Vania..Sayang, Vania"
Rasanya hati Vania begitu tersayat mendengar suara lemah itu. Matanya mulai berkaca-kaca saat dia berjalan mendekat ke arah tempat tidur dan duduk di pinggir tempat tidur.
Vania meraih tangan Gara yang terbalut perban, air matanya menetes begitu saja hingga mengenai tangan Gara yang di perban itu. Vania tidak bisa menahan isak tangisnya lagi, dia tidak bisa menahan suaranya untuk tidak terdengar menangis. Saat ini Vania begiitu terluka dengan semua ini. Vania tidak tahu harus melakukan apalagi.
"Sayang, kamu kembali?"
Vania mendongak dan melihat Gara yang sudah tersadar. Mendengar tangisan istrinya yang begitu pilu membuat Gara terbangun dan bisa membuka matanya. Gara berusaha bangun dan memeluk Vania yang sedang menangis itu. Tidak sempat Vania menolak dan sekarang hanya bisa menangis dalam pelukan suaminya itu.
"Sayang, aku mohon jangan pergi. Tetap disini dan jangan meninggalkan aku. Sayang, aku tidak akan sanggup untuk kehilangan kamu"
Vania melerai pelukan Gara dan menatap suaminya itu dengan mata yang basa. "Maafkan aku, tapi aku tidak bisa terus hidup dengan orang yang akan mengingatkan aku pada kematian kedua orang tuaku. Papa kamu yang membunuh orang tuaku, Gara. Aku tidak bisa terus bersama kamu. Maafkan aku"
Vania berdiri dan melangkah menjauh dari suaminya. Sebenarnya Gara ingin menahan Vania agar tidak pergi, tapi dia lupa jika tangan kanannya sedang terluka hingga membuatnya terasa sakit saat di gerakan.
"Sayang, jangan tinggalkan aku"
Gara berteriak histeris, bahkan dia sampai terjatuh dari atas tempat tidur dan ingin mengejar Vania, namun kepalanya terasa begitu pusing dan tidak bisa untuk bangun.
__ADS_1
Di balik pintu kamar, Vania bersandar di pintu yang tertutup dengan tangisan yang pecah. Dia bukan tidak tega pada Gara, tapi Vania benar-benar tidak sanggup jika harus bersama Gara.
"Maafkan aku Gara"
######
DI sebuah kantor polisi, Papa sedang duduk di meja laporan. Jelas dia sudah yakin dengan keputusannya ini. Bagaimana anak dan istrinya yang pasti sudah tidak percaya lagi padanya atas apa yang dia lakukan. Sebenarnya Papa sudah sangat menyesali perbuatan itu sejak dulu. Tapi dia terlalu pengecut untuk mengakui kesalahannya ini.
"Jadi ada apa?"
Papa mengehela nafas pelan sebelum dia melaporkan dirinya atas kejadian puluhan tahun lalu. Kejadian sepasang suami istri yang meninggal karena perampokan. Pengakuan dan laporan Papa tentu membuat pihak kepolisian terkejut. Dia tahu siapa Papa dan merasa tidak menyangka jika Papa akan melakukan hal seperti ini.Sementara yang di ketahui banyak orang adalah Papa yang menjadi pengusaha yang cukup besar.
Dan saat ini, hampir setiap stasiun televisi menayangkan tentang kasus Papa yang sedang terjadi. Ponsel Gara terus berdering karena banyak panggilan dari beberapa orang perusahaan setelah mendapat kabar Papa yang sekarang sedang di tahan oleh polisi.
"Mngkin memang sudah saatnya Papa melakukan ini Ga. Sudah seharusnya dia mengakui kesalahanya, tapi dia tidak melakukannya"
"Aku tidak mau berpisah dengan Vania, Ma. Dia dan Gevin terlalu berharga untukku"
Mama mengelus tangan Gara, dia tahu bagaimana cinta Gara pada istrinya ini begitu besar. Pasti akan terasa berat bagi Gara untuk menghadapi semua ini.
"Mama yakin jika kalian di takdirkan untuk bersama. Apapun masalah yang ada diantara kalian, Mama yakin kalian pasti bisa melewatinya"
Semuanya tidak mudah, mau itu bagi Gara ataupun Vania. Masalah ini terlalu berat untuk mereka. Namun Gara tetap tidak akan menyerah. Seperti hari ini dia yang sengaja datang menemui Vania di rumah Jenny. Gara juga sudah sangat merindukan Gevin yang tidak bertemu dengannya beberapa hari ini.
Saat Gara keluar dari dalam mobil, dia melihat Vania yang sedang bermain dengan anaknya di teras depan rumah ini. Saat Vania menyadari kehadiran Gara, dia yang awalnya tersenyum bersama anaknya, berubah menjadi diam dan senyuman itu lenyap seketika dari wajahnya.
"Papa.." Gevin langsung berlari ke arah Ayahnya yang berjalan mendekat ke arahnya.
__ADS_1
Gara langsung tersenyum dan menggendong Gevin. Gara begitu merindukan Gevin. Gara tidak bisa membayangkan bayangkan hidupnya kalau dia tidak lagi bersama dengan Vania dan Gevin. Gara duduk di dekat Vania, dia menghela nafas pelan saat Vania yang hanya diam dan tidak melakukan apapun. Tidak seperti Vania yang biasanya, dia yang selalu tersenyum ketika suaminya datang. Dan dia selalu menyalami tangan suaminya bahkan memeluknya.
Tapi sekarang, Vania hanya diam dengan wajah menunduk. Bahkan sepertinya untuk melihat wajah Gara saja tidak mau.
"Papa, kenapa Papa lama sekali menjemput kita?"
"Sekarang Papa sedang menjemput Gevin, ayo kita pulang"
Gevin tersenyum, dia melihat pada Ibunya yang hanya diam saja. Gevin beralih ke pangkuan Ibunya. "Ibu, ayo kita pulang bersama Papa"
Vania bingung sekarang, entah bagaimana caranya dia menjelaskan pada anaknya tentang semua yang telah terjadi. Vania tidak bisa menjelaskan apapun pada anaknya yang belum saatnya bisa mengetahui tentang semua ini.
"Gevin kita masih harus disini, kasihan Nenek sedang sakit dan Bibi jenny juga harus bekerja. Jadi kasih kalau Nenek tidak ada yang menemani"
Vania berkata yang sebenarnya, dia memang harus menjaga Ibu yang sedang kesehatannya sedang menurun akhir-akhir ini.Vania tidak sedang berbohong dan menjadikan Ibu sebagai alasan. Karena apa yang dia katakan memang benar adanya.
"Yasudah, tidak papa Gevin dan Ibu tinggal dulu disini dan menjaga Nenek. Biar Papa akan datang kesini untuk menemui Gevin"
Gevin mengangguk saja, dia tidak terlalu mengerti apa yang terjadi. Hanya menurut saja apa yang dikatakan oleh Ayah dan Ibunya.
"Sekarang ayo pergi jalan bersama Papa Nak"
"Yey.. Ayo, Ibu ikut tidak?"
Vania menatap anaknya yang berjingkrak senang mendengar ucapan Gara. Dia tersenyum pada Gevin, disini Vania tidak mau egois karena mau bagaimana pun Gara juga mempunyai hak atas Gevin. Seorang anak tidak boleh sampai merasa terluka karena perpisahan orang tuanya.
"Ibu akan menjaga Nenek, Gevin pergi saja bersama Papa"
__ADS_1
Bersambung