
"Sayang, hari ini aku izin ke rumah Kak Jenny ya. Udah lama juga gak ketemu sama Ibu dan Kak Jenny"
Gara yang sedang duduk diatas sofa dengan sebuah laptop diatas pangkuannya langsung menoleh pada Vania yang berada diatas tempat tidur.
"Aku antar ya"
"Gak usah, kamu 'kan lagi cukup banyak pekerjaan. Aku bisa pergi naik taksi online saja atau naik angkutan umum"
Memang untuk beberapa hari terakhir, usaha yang dijalani Gara sedang cukup bagus. Ada beberapa orderan yang mau menggunakan jasa delivery dari usaha Gara dan Jayden ini.
"Tidak papa, aku bisa antar kamu lebih dulu"
Vania mengangguk saja, dia menaikan kedua kakinya ke atas tempat tidur yang tadi menjuntai ke atas lantai kamar. "Sayang ayo tidur"
Gara langsung mematikan layar laptop dan menyimpannya diatas meja. Berjalan ke arah istrinya dengan senyuman penuh arti. Gara naik ke atas tempat tidur dan langsung mengukung tubuh istrinya itu.
"Jangan buru-buru tidur Sayang, kita harus bekerja keras untuk mendapatkan bayi lagi"
Vania tersenyum masam dengan ucapan suaminya itu. Malam ini dia benar-benar tidak akan bisa menghindar lagi. Semuanya dimulai dari kecupan di keningnya. Lanjut ke bagian bibir dan kecapan-kecapan kenikmatan dari ciuman itu mulai terdengar.
"Emmphh.. " Vania benar-benar tidak bisa menahan suara kenikmatan dari bibirnya itu.
"Keluarkan Sayang, aku senang mendengar suaramu itu"
Gara terus bermain di bagian bawah Vania dengan gerakan yang cepat membuat tubuh Vania terguncang diiringi dengan ******* yang keras.
Dan ketika pagi ini Vania terbangun dengan tubuh yang terasa remuk redam. Jika suaminya sudah melakukan itu, maka tidak akan main-main gairahnya itu.
"Sayang bangun, kamu harus bekerja hari ini"
Vania mengeluslembut pipi suaminya, memainkan hidung mancung Gara. Tersenyum sendiri dengan apa yang dia lakukan itu. Vania hampir tidak pernah menyangka jika saat ini dia bisa kembali bersama Gara. Pria yang dia tinggalkan 5 tahun lamanya, hingga kini mereka kembali dipertemukan kembali dan bisa bersama lagi.
Cup..
Vania mengecup bibir suaminya dengan lembut. Entahlah memang sebucin itu dia pada Gara. Kasih sayangnya sangat besar hingga Vania tidak bisa lagi jika harus kehilangan Gara.
"Sayang, jangan menggodaku lagi"
Vania terdiam seketika mendengar ucapan Gara. Suaminya itu berkata tapi dengan mata yang masih terpejam. Membuat Vania berpikir jika Gara mungkin sedang bermimpi dan mengingau saat ini.
__ADS_1
Cup.. Cup..
Untuk meyakinkan jika suaminya itu benar-benar sudah terbangun atau hanya menginga saja, Vania memberikan dua kecupan di bibirnya lagi.
"Wah, kau benar-benar sedang menggodaku ya"
Vania langsung beringsut mundur ketika Gara benar-benar membuka kedua matanya dan menatap Vania dengan senyuman penuh arti.
"Sayang ayo mandi, kamu 'kan harus bekerja"
Vania langsung turun dari atas tempat tidur dan berlari ke arah ruang ganti. Hampir saja dia terjatuh karena terlalu terburu-buru.
"Sayang, awas jatuh"
Brakk..
Gara sampai sedikit kaget saat istrinya menutup pintu ruang ganti dengan cukup keras. Gara menggeleng pelan melihat kelakuan istrinya itu. Merasa gemas dengan wajah malu dan tegang istrinya itu.
"Sampai sekarang hanya kamu yang bisa membuat aku tersenyum hanya dengan memikirkan tentang tingkahmu itu"
Ya, Vania adalah cinta pertama bagi Gara dan mungkin akan menjadi cinta terakhir juga untuknya. Karena sampai saat ini, Gara tidak pernah menemukan lagi sosok wanita yang bisa membuat hati Gara bergetar senang hanya karena melihat senyumannya itu.
######
Vania keluar dari taksi setelah membayarnya, tapi setelah taksi yang dia tumpangi pergi, Vania tidak berjalan masuk ke kawasan Apartemen. Dia menatap sosok yang berdiri di depan Apertemennya.
"Bisa bicara sebentar"
Vania tidak bisa menolak, akhirnya dia ikut ke dalam mobil wanita itu. "Apa yang ingin dibicarakan?"
"Aku hanya ingin bicara padamu tentang semua yang telah terjadi padaku setelah kau merampas suamiku"
Vania terdiam mendengar itu, dia memang merampas Gara dari Yunita ketika dia masih menjadi suaminya. Tapi Vania tidak pernah merampas hati Gara karena sejak dulu hingga sekarang Gara hanya mencintainya.
"Maaf Nona, tapi saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibahas lagi jika tentang hal itu. Karena memang semuanya sudah selesai. Nona tahu sendiri jika suamiku hanya mencintaiku sejak dulu"
Yunita menatap Vania dengan kesal, dia tidak pernah mau terkalahkan oleh siapapun. Apalagi hanya dengan gadis biasa seperti Vania.
"Tapi asal kau ingat jika Papa sampai saat ini tidak akan pernah merestui kamu.Dan jika Gara masih bersama kamu, maka kamu tahu apa yang akan terjadi pada Gara. Dia akan tersiksa dengan segala hal. Seperti sebelumnya, Gara bahkan harus kehilangan segala fasilitas yang selama ini dia miliki.Kamu sadar gak si, kalau kehadiran kamu di hidup Gara hanya menjadi pembawa sial saja"
__ADS_1
Deg..
######
Tidak akan mental wanita yang akan tahan mendengar ucapan yang seolah membuat dirinya sadar jika dia telah membuat pria yang dicintainya mengalami kesusahan karena dia bersamanya.
Vania berjalan masuk ke dalam Apertemen dengan perasaan yang cukup kacau. Bohong jika Vania tidak memikirkan tentang perkataan Yunita.
"Sayang, kamu juga baru pulang?"
Vania mengerjap pelan dan langsung menoleh pada suaminya yang baru saja pulang kerja. Vania langsung menunjukan wajah full senyumnya pada Gara.
"Sayang, tumben pulang sore"
Gara berjalan ke arah istrinya, mencium kening Vania dengan lembut. "Iya, ada Jayden yang menggantikan aku"
"Emm gitu ya, yaudah biar aku siapkan air untuk kamu mandi ya"
"Gevin mana?"
"Dia malah ingin menginap di rumah Jenny"
Gara mengangguk mengerti, dia memeluk istrinya dari belakang. Mengikuti langkah Vania menuju kamar tanpa melepaskan pelukannya itu.
"Sayang lepas dulu ihh, aku mau mengambilkan handuk untuk kamu"
"Sayang, ayo kita mandi bersama"
Dan Vania benar-benar tidak bisa menolak. Berendam didalam bak mandi dengan Gara yang berada di belkangnya. Memeluk tubuh Vania dengan lembut. Vania menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada suaminya itu.
"Sayang, apa belum ada tanda-tanda jika kamu sedang hamil?" tangan Gara mengelus lembut perut Vania di dalam bak mandi itu.
"Mungkin memang belum waktunya saja, nanti juga kalau sudah waktunya pasti aku akan hamil"
Gara menaruh dagunya di bahu Vania, mengecup lembut bahu Vania. "Semoga segera ya"
Vania tidak menjawab, dia hanya diam dengan pikiran yangmelayang ke kejadian tadi. "Sayang, apa aku pembawa sial?"
Bersambung
__ADS_1