
Gara menatap istrinya yang sedang duduk di sampingnya. Saat ini mereka sedang menuju pulang setelah persidangan selesai. Gara masih tidak menyangka dengan apa yang terjadi baru saja di ruang sidang. Sampai saat ini Gara tidak berfikir dan menyangka jika Vania akan memaafkan Papa.
Sejak semuanya terungkap, maka Gara hanya berharap jika Vania bisa memaafkannya saja sudah sangat bersyku, Vania mau menerima dia kembali dan tetap hidup bersama sudah menjadi hal yang sangat beruntung bagi Gara. Tidak pernah berpikir jika Vania akan bisa memaafkan Papa yang telah menghancurkan hidupnya dan membunuh kedua orang tuanya. Nyatanya hati istrinya lebih lapang dari yang Gara kira.
"Sayang, apa kamu yakin dengan keputusan kamu ini? Aku dan Mama tidak keberatan jika Papa harus menerima hukumannya, hanya jangan hukuman mati saja. Karena mau bagaimana pun aku dan Mama tidak akan siap kehilangan Papa untuk selamanya"
Vania menoleh dan menatap suaminya yang sedang fokus mengemudi itu, meski sesekali Gara akan melirik ke arah Vania. "Bohong, jika aku bilang aku tidak papa. Nyatanya aku tetap kecewa dengan keadaan yang ada. Aku marah? Ya, aku sangat marah pada Papa kamu, karena dia telah menghancurkan hidup aku. Namun, aku sadar jika ternyata aku tidak bisa hidup tanpa kamu dan kehilangan kamu. Meski aku terus mencoba untuk bercerai denganmu. Tapi kamu selalu tidak mau"
"Tentu saja, aku tidak akan pernah mau menyetujui gugatan perceraian itu. Apa kamu tidak bisa menerima aku kembali dan kita kembali menjalani hidup kita bersama Gevin"
Vania mengangguk pelan, dia mengelus perutnya sendiri dengan tersenyum tipis. "Nyatanya ada dia yang menghalangi aku untuk berpisah darimu"
Gara langsung menoleh pada Vania dan melihat istrinya yang sedang mengelus perutnya. Gara baru mengerti apa yang sedang Vania ucapkan saat ini. Gara langsung menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Dia membuka sabuk pengaman yang terpasang di tubuhnya dan berbalik untuk menatap istrinya dengan lekat.
"Sayang, apa maksud kamu saat ini kamu sedang hamil?"
Vania tidak menjawab, dia meraih tangan Gara dan membawanya ke atas perutnya. Vania tersenyum tipis pada Gara. "Sepertinya memang kita tidak diizinkan untuk berpisah"
Gara tersenyum dengan tangan yang bergetar mengelus perut istrinya itu. Tanpa berkata-kata lagi, Gara langsung memeluk Vania dengan erat. Ada perasaan bahagia yang membuncah d hatinya. Akhirnya penantian Gara untuk membuat istrinya kembali hamil lagi terwujud juga.
"Sayang, terima kasih karena masih bertahan dan sekarang memberikan aku kabar yang sangat bahagia. Aku mencintaimu Vania"
__ADS_1
Tangan Vania menepuk punggung Gara dua kali, dia tahu jika kehadiran anak keduanya di dalam perutnya ini adalah sebuah takdir Tuhan untuk Vania dan Gara. Agar mereka tetap mempertahankan pernikahan dan cinta kasih mereka berdua.
"Aku juga mencintaimu, mari kita mulai untuk hidup baru yang baik dan bahagia bersama"
Gara melerai pelukannya, dia menatap Vania dengan senyuman yang tidak bisa lepas dari wajahnya karena saat ini Gara sedang begitu bahagia atas kabar baik yang di berikan oleh istrinya.
"Aku benar-benar minta maaf atas semua yang Papa lakukan pada kamu dan mendiang kedua orang tua kamu. Aku juga merasa telah ikut andil dalam masalah ini. Karena Papa melakukan itu semua juga karena dia yang ingin aku sembuh dan mencari biaya untuk pengobatan aku pada saat itu. Aku benr-benar minta maaf, Sayang"
Vania menatap lekat mata milik Gara, dia mengelus pipi suaminya itu dengan lembut. "Sebenarnya aku juga harus bersyukur pada Tuhan karena kamu selamat dan hidup sampai saat ini. Meski aku tahu jika yang di lakukan Papa untuk kesembuhan kamu adalah salah. Tapi apa dengan aku yang terus marah pada Papa kamu dan bahkan aku mengakhiri hubungan kita, maka kedua orang tuaku akan hidup kembali? Tentu saja tidak. Jadi saat ini aku sudah berpikir jernih. Untuk apa aku terus menyimpan dendam jika memang takdir Tuhan sudah menentukan segalanya"
Dan pada akhirnya cinta Vania dan Gara masih kuat untuk menerima cobaan ini.Mereka masih bisa bertahan dan menyelesaikan masalah yang ada. HIngga kini keduanya tetap kembali dalam ikatan cinta dan pernikahan yang hampir hancur.
######
"Iya Nak, Mama mengerti kok. Yang penting kamu dan Vania bahagia ya sekarang dan tolong jaga calon cucu kedua Mama itu baik-baik"
"Iya Ma, pasti"
Gara menyimpan kembali ponselnya diatas nakas setelah dia selesai menghubungi Ibunya. Gara langsung membawa Vania kembali ke Apartemen. Gara belum berani membawa Vania ke rumah orang tuanya. Takut jika Vania belum bisa bertemu dengan Papa yang sekarang sudah bebas.
"Sayang.." Vania keluar dari ruang ganti dan langsung memeluk suaminya dari belakang.
__ADS_1
"Iya Sayang, ada apa hmm?"
"Aku mual-mual terus ihh, pengen tidur capek banget"
Gara berbalik dan menatap wajah istrinya yang pucat. Memang sejak di perjalanan hingga Vania sampai di Apartemen, dia terus merasa mual dan muntah-muntah. Sebenarnya Gara sudah mau membawanya ke rumah sakit, tapi Vania bersikeras menolak.
"Wajah kamu pucet banget, kita ke Dokter ya besok. Jangan membantah lagi. Aku tidak mau kalau sampai kamu dan bayi kita kenapa-napa karena terlambat di tangani oleh Dokter"
Vania memeluk suaminya dengan tubuh yang lesu. Menyandarkan kepalanya di dada Gara "Sebenarnya pas hamil Gevin aku juga mengalami seperti ini. Makanya aku tidak terlalu terkejut saat terus muntah-muntah"
Mendengar itu, kenapa membuat hati Gara sedikit nyeri. Membayangkan bagaimana istrinya dulu melewati semua ini tanpa ada sosok suami di sampingnya. TIdak banyak berkata-kata lagi, Gara langsung menggendong tubuh Vania dan menidurkannya di atas tempat tidur.
"Istirahat kalau gitu, perutnya biar aku olesi minyak angin ya biar hangat"
Vania mengangguk, dan Gara menyingkap baju yang di pakai oleh Vania. Dia mengelus perut istrinya yang masih rata itu dan mengecupnya sebelum Gara mengoleskan minyak angin di perutnya itu dengan lembut.
Gara ingin memberikan yang terbaik untuk Vania. Apalagi saat dia tidak pernah ada disaat Vania kesulitan ketika mengandung Gevin dulu. Dan saat ini, di kehamilan Vania yang kedua, Gara ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya ini.
Anak Papa, baik-baik ya di dalam perut Ibu. Jangan terus menyusahkan Ibu, kasihan dia. Papa janji akan membuat Ibu bahagia agar kamu juga bahagia dan tenang di dalam perut Ibu sampai kamu lahir nanti.
Janji yang terucap ketika Gara mengelus perut istrinya.
__ADS_1
Bersambung