
Pagi ini Vania dan Gara sudah berada di dalam mobil. Mereka akan mengunjungi makam kedua orang tua Vania terlebih dahulu. Vania terlelap di dalam mobil. Gara menoleh dan melihat istrinya yang pastinya masih lelah karena kegiatan mereka semalam. Gara mengelus kepala istrinya dengan lembut.
"Kasihan sekali istriku, dia pasti sangat lelah karena kegiatan semalam. Maaf ya Sayang, aku berharap setelah ini kamu akan segera hamil"
Gara terus melajukan mobilnya menuju area pemakaman umum yang telah di beri tahukan oleh Vania tadi. Sebenarnya Gara juga sangat ingin mengunjungi makam kedua orang tua Vania, karena setidaknya dia bisa meminta restu meski hanya pada dua gundukan tanah saja.
Terkadang Gara sering memikirkan bagaimana hidup Vania selama ini. Sejak dia kecil dia sudah di tinggalkan oleh kedua orang tuanya. Dan yang lebih parah, Vania melihat sendiri bagaimana kedua orang tuanya yang meninggal dengan cara yang sangat tragis.
"Sayang, bangun yuk kita sudah sampai"
Gara mengelus lembut pipi Vania untuk membangunkan istrinya yang terlelap itu. Mobilnya telah terparkir di depan pemakaman umum yang disebutkan oleh Vania tadi. Vania menggeliat pelan dan dia membuka kedua matanya, menoleh pada suaminya dengan menggucek matanya yang masih terasa perih. Sepertinya memang Vania benar-benar terlelap.
"Sudah sampai ya"
Gara tersenyum lucu melihat wajah Vania yang baru saja bangun tidur. Dia mengelus kepala istrinya dengan gemas. "Iya kita sudah sampai, ayo turun"
Vania mengangguk, dia turun dari dalam mobil diikuti suaminya. Berjalan masuk ke dam area pemakaman dengan sebuah buket bunga yang di beli Gara saat di perjalanan tadi. Saking lelahnya Vania hanya terlelap dengan nyaman tanpa berpikir untuk membeli bunga saat ke pemakaman kedua orang tuanya.
"Sayang, kamu tahu gak setiap aku datang kesini pasti hanya sendiri dan menangis sendiri. Tapi sekarang, aku lebih kuat karena ada kamu disampingku"
Gara merangkul bahu istrinya, dia tahu jika Vania pasti sangat terluka dengan keadaan hidupnya. Terus melangkah melewati beberapa gundukan tanah dengan nisan. Hingga hampir sampai di makam kedua orang tua Vania. Keduanya terdiam saat melihat seseorang yang sedang berdiri disana. DIantara dua gundukan tanah. Pria itu terlihat membungkuk dan memberikan buket bunga di salah satu gundukan tanah itu.
"Maafkan aku karena aku sudah melakukan kejahatan itu. Saat itu aku benar-benar terpaksa, anakku sedang membutuhkan biaya besar untuk pengobatan dan aku belum mempunyai pekerjaan. Membuat aku nekat melakukan itu, merampok rumah kalian dan membunuh kalian. Maafkan aku"
Deg..
Suara bergetar itu membuat Vania dan Gara mematung seketika. Mereka mengenali suara itu, dan apa yang baru saja mereka dengar benar-benar mengejutkan.
__ADS_1
"Pa.."
Papa langsung berbalik dengan terkejut, dia mematung melihat Gara dan Vania yang berada di sana. Papa tidak bisa berkilah apapun lagi saat ini.
Gara melangkah cepat ke arah Ayahnya itu, menatap Papa dengan rasa tidak percaya. Gara baru saja mendengar hal mengejutkan yang keluar dari mulut Papa.
"Apa maksud dari ucapan Papa barusan? Jawab aku Pa?"
Papa menunduk dengan rasa bersalah, dia tidak berani menatap Gara dan Vania saat ini. "Maafkan Papa Nak, tapi Papa telah menyembunyikan semua ini selama puluhan tahun. Dan ternyata gadis yang kamu cintai adalah anak dari sepasang suami istri yang Papa bunuh. Maafkan Papa, tapi saat itu Papa juga tidak mempunyai pilihan lain"
Deg..
Buket bunga di tangan Vania jatuh seketika, dia tidak menyangka jika akan ada kenyataan yang seperti ini. Bagaimana dia mendengar sendiri pengakuan seseorang yang telah membunuh kedua orang tuanya, dan ternyata orang itu adalah mertuanya sendiri. Ayah dari pria yang dia cintai dan sekarang telah menjadi suaminya.
#######
Sagara Werden, seorang anak berusia 10 tahun yang menderita kelainan jantung sejak lahir. Dia harus sering chek up dan melakukan serangkaian pengobatan. Namun kali ini kondisinya sudah sangat parah dan tidak bisa jika hanya mengonsumsi obat-obatan saja. Gara kecil harus seger di operasi.
Dan tentu dengan keadaan Papa yang saat ini masih menjadi pekerja biasa di sebuah pabrik, tentu saja uang untuk tanplantasi jantung tidak sedikit. Papa bingung harus melakukan apa, dia hanya berjalan dengan gontai. Hingga dia tidak sengaja melihat seorang pria dengan pakaian serba hitam dan menggunakan penutup wajah juga. Pria itu sedang mengamati sebuah rumah yang sepertinya memang orang cukup berada. Papa merasa bingung, ada orang berpakaian seperti itu di tengah malam seperti ini.
"Hey kau mau apa?" Papa memberanikan untuk menegur pria itu.
Pria itu langsung menoleh dan menatap Papa, dia langsung menarik tangan Papa ke arah semak-semak. Papa terkejut dengan itu, apalagi saat pria itu membuka penutup wajahnya.
"Kau mau apa datang kesini? Jangan menggagalkan rencanaku"
"Kau mau apa?"
__ADS_1
"Kau yang sedang apa disini maalm-malam begini. Disini jalanan yang sepi di jam seperti ini.Sudah pasti tidak akan ada yang lewat sini, tapi kenapa kamu malah ada disini"
Papa menghembuskan nafas pelan, dia juga tidak tahu kenapa dia bisa sampai berada di jalanan ini. "Aku hanya sedang menenangkan diri, aku sedang membutuhkan banyak uang untuk operasi anakku"
Pria itu menatap ke arah Papa dengan tersenyum tipis. "Kalau gitu aku, kamu bisa mendapatkan banyak uang sekaligus bahkan mungkin lebih dari yang dibutuhkan"
Papa menatap orang itu yang mengeluarkan sebuah barang dari tas yang di bawanya. "Pakai penutup wajah ini dan pegang ini"
Papa terdiam melihat sebuah pistol yang diberikan oleh pria itu. "Kita akan melakukan apa?"
"Merampok rumah itu, di dalam sana ada banyak uang dan harta berharga lainnya"
Dering ponsel membuat Papa langsung mengangkat telepon dari istrinya itu. "Hallo Ma, ada apa?"
"Papa dimana? Gara kembali ngedrop dan keadaannya benar-benar kritis..HIks.. Gara harus segera di operasi"
"Iya Ma, sabar ya. Malam ini Papa akan mendapatkan uangnya"
Papa kembali menatap benda di tangannya, dia memakai penutup wajah dan membawa pistol yang di berikan pria itu.
"Aku akan melakukan ini hanya demi anakku. Tapi setelah ini tolong jangan pernah menemui aku lagi, terserah kalau kamu mau melakukan pekerjaan ini"
"Oke"
Entah apa yang ada di dalam pikiran Papa, tapi dia hanya tidak punya pilihan lain untuk bisa mendapatkan uang yang cukup untuk biaya operasi anaknya. Papa hanya tidak bisa membiarkan anaknya meninggal di usia yang masih terlalu kecil. Semuanya hanya demi Gara.
Bersambung
__ADS_1