
Dan malam itu Papa benar-benar nekat melakukan hal kriminal. Dia masuk ke dalam rumah dan siap mengambil brangkas uang yang berada di dalam kamar. Namun si pemilik rumah yang sedang tidur langsung terbangun. Si istri yang langsung menggendong anaknya dan membaw anaknya untuk berlari keluar kamar. Namun sebuah peluru dan suara tembakan mengenai punggungnya. DIa jatuh dengan anaknya yang menangis meraung-raung.
"Pergi dan lari Nak, pergi ke rumah Paman dan Tante kamu"
Meski takut anak kecil itu berlari.
"Kau jangan membunuh anaknya" Papa benar-benar terkejut saat pria itu yang langsung menembak tubuh wanita itu.
"Kau harus jahat sekalian jika tidak mau rencana kita gagal"
Dan ketika si suami mengambil telepon rumah dan siap menelepon bantuan, entah pikiran apa. Papa menarik pelatuk di pistolnya dan menembak pria si pemilik rumah itu.
Dor..Dor.
Dua kali tembakan yang terdengar di rumah itu.
######
Semuanya bagaikan sebuah mimpi yang tidak pernah Vania duga akan terjadi. Bagaimana Papa adalah orang telah menghancurkan hidupnya. Di dalam mobil saat ini hanya ada sebuah keheningan yang mnecekam.
Vania tidak bisa berkata-kata apapun lagi. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya setelah ini. Bagaimana aku harus menyikapi semua ini.
Gara juga hanya diam denganfokus menyetir, dia tidak menyangka Papanya melakukan hal itu hanya untuk mendapatkan biaya operasi dia waktu itu. Dan yang paling parah, kenapa harus orang tuanya Vania? Kenapa harus orang tua wanita yang dia cintai.
Sampai di Apartemen, Vania segera masuk dan tidak berkata apapun lagi. Dia masuk ke dalam kamar Gevin dan mengunci diri di dalam kamar. Vania menangis diatas tempat tidur dengan isakan keras yang tidak bisa lagi dia tahan.
"Kenapa harus seperti ini? Kenapa harus aku? Rasanya aku tidak bisa menghadapi semua ini. Oh Tuhan, kenapa harus seperti ini?"
__ADS_1
Di balik pintu, Gara terdiam dengan menyandar pada dinding. Matanya berkaca-kaca, mendengar racauan istrinya di dalam kamar. Gara tidak tahu apa yang mungkin terjadi setelah ini. Rasanya dia tidak akan sanggup menghadapi semua ini. Melihat dengan jelas kekecewaan istrinya itu.
"Sayang, maafkan aku. Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini?"
Cinta yang tidak bisa dilupakan karena tidak mungkin Gara bisa bertahan jika tanpa Vania disampingnya. Vania adalah segalanya bagi Gara.
Beberapa jam berlalu dan Vania belum juga keluar dari dalam kamar. Sementara Gara hanya diam di atas sofa. Menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dengan mata terpejam. Hingga suara pintu yang terbuka membuat Gara segera berdiri dan dia melihat istrinya yang keluar dengan membawa tas besar.
"Aku akan menyusul Gevin ke rumah Kak Jenny"
Vania berjalan ke arah pintu Apartemen, dia harus mempunyai waktu untuk bisa menenangkan diri dulu. Gara yang mendengar itu langsung menahan lengan istrinya.
"Sayang aku tahu jika permintaan maaf saja tidak akan membuat kedua orang tua kamu kembali. Tapi, apa kamu tidak bisa memikirkan lagi sebelum kamu memutuskan untuk pergi"
Vania menatap Gara dengan mata berkca-kaca. Rasanya air matanya sudah hampir kering karena terus menangis. "Papa kamu yang sudah membunuh kedua orang tuaku. Jadi aku masih harus berpikir seratus kali lagi untuk tetap bersama kamu. Biarkan aku mempunyai waktu untuk memikirkan semua ini"
"Biar aku antar, setidaknya aku masih bisa memastikan jika kamu sampai dengan baik-baik saja di rumah Jenny"
Vania tidak menolak dan tidak mengiyakan juga. Gara mengantarnya ke rumah Jenny, selama di dalam mobil keduanya hanya diam dengan pikiran masing-masing.
"Semoga kamu memikirkan semuanya dengan baik. Aku harap kamu akan bisa menerima aku kembali"
Vania tidak menjawab, dia turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu rumah Jenny. Mengetuk pintu dan menunggu sampai si pemilik rumah membukakan pintu. Sementara Gara masih diam di dalam mobil dan menatap pada punggung istrinya yang berdiri di depan pintu. Gara mengusap ujung matanya yang berair.
"Jaga dia untukku Ya Tuhan"
Gara melajukan mobilnya ketika melihat Jenny yang sudah muncul di depan pintu.
__ADS_1
Jenny bingung dan terkejut saat tiba-tiba Vania memeluknya dan menangis dalam pelukannya itu. "Vani, kamu kenapa? Ada apa"
Bahkan untuk bercerita saja Vania sangat sulit, dia hanya menangis dengan sesenggukan dalam pelukan Jenny. Semuanya terlalu mengejutkan dan Vania hampir tidak percaya dengan semua ini. Rasanya dunianya hancur seketika, mengetahui jika Ayah dari suaminya yang dia cintai ternyata adalah yang menjadi pembunuh orang tua. Orang yang telah mengahancurkan hidup Vania sejak kecil.
"Tenang dulu, kita masuk dan kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa suami kamu selingkuh?"
Vania menggeleng, suaminya sangat setia padanya. Gara bahkan tidak berani menyentuh Yunita yang menjadi istrinya saat itu. Semuanya karena dia hanya ingin Vania yang dia sentuh. Terkadang Vania selalu merasa menjadi wanita yang paling beruntung. Tapi sekarang sebuah kenyataan yang ada membuat Vania benar-benar hacur.
######
"TIdak! Kamu benar-benar gila Pa. Kenapa kamu baru cerita sekarang? Ini masalah besar, aku tidak pernah menyangka jika kamu berani melakukan hal segila ini"
Mama yang baru saja mendengar ucapan Papa benar-benar begitu terkejut dan marah. Tidak menyangka jika suaminya yang sangat dia cintai dan sayangi selama ini ternyata adalah seorang pembunuh.
"Maafkan aku, saat itu yang ada di fikiran aku hanya mencari uang untuk biaya pengobatan Gara"
Mama menggeleng pelan dengan air mata yang menetes di wajah cantiknya. Berharap jika semua ini hanya sebuah mimpi. Namun Mama harus menerima kenyataan jika ternyata semuanya adalah kenyataan.
"Kenapa harus melakukan itu Pa? Apa tidak ada cara lain? Dan sekarang Papa juga menghancurkan kehidupan Gara bersama dengan wanita yang dicintainya"
Papa hanya menunduk, dia juga tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini. Kenapa selama ini dia tidak pernah menerima Vania sebagai istri anaknya. Semuanya karena Papa tidak mau jika Gara akan semakin hancur ketika dia mengetahui apa yang terjadi. Papa sudah tahu siapa Vania sejak Gara berpacaran dengan gadis itu.
"Maafkan Papa Ma, Papa tahu jika Papa salah"
Mama menggeleng pelan melihat suaminya. "Entahlah Pa, Mama juga bingung harus melakukan apa?"
Papa hanya menatap istrinya dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin sudah saatnya dia mempertanggung jawabkan semua perbuatannya itu.
__ADS_1
Bersambung