Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 30 #Tidak Rela Melihatmu Terluka#


__ADS_3

Vania menghela nafas pelan ketika berita di televisi kembali terdengar saat Gevin menyalakan televisi pagi ini. Beberapa saat Vania baru sadar jika Gevin tidak tahu apa-apa tentang Gara. Vania langsung berlari ke arah Gevin dan mengambil remote televisi. Mematikan layar televisi sebelum Gevin melihat tentang berita Ayahnya.


"Ibu, kenapa di matikan?"


"Jangan dulu nonton televisi ya, lagian ham segini belum ada film kartun yang kamu suka"


"Bukannya biasanya juga jam segini ya Bu"


Vania bingung sendiri mendengar pertanyaan anaknya itu. Selalu merasa bingung dan kacau dengan apa yang harus dia jelaskan pada Gevin saat ini. "Emm. I-iya, tapi sekarang sedang tidak tayang. Libur dulu hari ini, ada acara lain"


"Begitu ya"


Vania menghela nafas lega ketika Gevin turun dari atas sofa dan berjalan ke arah kamarnya. Vania melanjutkan menyiapkan sarapan pagi ini. Meski dengan pikiran yang kacau. Hingga sebuah tangan yang tiba-tiba melingkar di perutnya membuat Vania tersenyum. Mencoba untuk terlihat baik-baik saja dan tidak memikirkan apapun saat ini.


"Sayang, sudah bangun ya. Aku belum selesai membuat sarapan"


"Iya, aku lelah sekali habis melewati perjalanan jauh"


Vania terkekeh mendengarnya, ya karena biasanya Gara yang selalu menggunakan pesawat dan sekarang harus menggunakan kereta. Tentu perbedaan yang cukup jauh.


"Jadi bagaimana kemarin? Ada kejadian apa?"


Kemarin malam Gara kembali dan tidak banyak bercerita karena dia yang lelah dn pulang malam. Jadi dia langsung tidur, tidak banyak berbicara lagi pada Vania. Jadi pagi ini Vania sedang menanyakan kejadian dan cerita kemarin.


"Tidak ada cerita yang seru karena kamu tidak ikut"


Vania berbalik dan menatap Gara dengan jarak dekat. Tubuhnya bersandar di meja makan, dengan tangan yang berada di dada Gara. "Sayang, kamu baik-baik saja?"


Gara  terdiam, entah kenapa dia selalu tidak bisa bohong pada Vania. Dia selalu mengerti perasaan Gara saat ini. Seolah selalu tahu bagaimana keadaan Gara. Lebihnya Vania dari banyak wanita yang ditemui Gara. Dia selalu tahu apa yang dirasakan oleh suaminya.


Gara menjatuhkan dagunya di bahu Vania, merasa sangat lelah dengan keadaan saat ini. "Sayang, aku hanya sedikit lelah dengan semuanya. Kemarin aku bertemu dengan Papa dan Mama. Sebenarnya aku tidak tega pada Mama yang menangis dan meminta aku untuk kembali. Namun, aku tidak bisa kembali pada mereka selama Papa masih tidak merestui kita dan tidak mau menerima kamu"


Vania mengelus punggung tegap Gara dengan lembut. Mencium bahu pria itu, dia juga merasakan apa yang Gara rasakan saat ini. "Sayang, sebenarnya aku tidak mau membuat kamu dan Papa kamu merenggang seperti ini. Tapi aku juga tidak siap jika harus meninggalkan kamu lagi"


"Karena aku memang tidak akan membiarkan kamu pergi dari hidupku"


Meski Gara harus berkorban banyak hal, dia rela asalkan bisa bersama dengan Vania. Mengingat bagaimana Vania yang juga sudah lebih banyak berkorban selama ini. Dia merawat anaknya dengan penuh kesabaran.

__ADS_1


"Kenapa tanganmu? Gara memegang tangan Vania, dia baru melihat jari telunjuk istrinya yang terbalut plaster.


"Tidak papa, hanya tidak sengaja teriris pisau kemarin"


Gara mengecup lembut jari Vania yang terluka itu. "Lain kali hati-hati ya. Jangan sampai membuat dirimu terluka. Karena aku tidak rela melihatmu terluka"


"Iya Sayang"


Vania melnjutkan memasakanya, dengan Gara yang terus menempel padanya. Setiap Vania melangkah,maka Gara akan ikut melangkah dengan tangan yang tidak lepas memeluk Vania.


"Ya ampun Sayang, kamu lepas dulu ih"


Bukannya melepaskan, Gara malah semakin mengeratkan pelukannya pada Vania. Mengecup bahu Vania dengan lembut. "Aku merindukanmu, kemarin 'kan aku tidak bisa bermanja-manja seperti ini padamu"


Vania hanya menggelengkan kepala heran dengan sikap manja suaminya. Namun dia merasa senang juga karena Gara hanya menunjukan sikap manja ini hanya padanya.


"Emm. Sayang, aku izin ke luar nanti siang ya. Mau belanja, bahan makanan sudah habis"


"Yaudah, nanti aku kasih uangnya"


Gara menghela nafas, dia mengecup pipi istrinya dengan gemas. " Aku adalah suamimu, jadi sudah seharusnya aku memenuhi kebutuhan kamu dan Gevin"


"Aku tahu, tapi saat ini aku juga masih mempunyai tabungan"


"Simpan saja tabunganmu"


Dan Vania tidak mempunyai pilihan lain, dia tidak ingin berdebat dengan Gara tentang masalah uang. Tahu jika perekonomian suaminya sedang tidak stabil, takutnya jika Vania terus membahasnya maka Gara akan tersinggung.


######


Gevin selalu senang jika Vania membawanya belanja. Karena keadaan keuangan Vania yang sangat minim. Jadi dia jarang sekali membawa anaknya pergi jalan seperti orang lain. Jadi ketika Vania mengajak Gevin hanya untuk belanja ke pasar tradisional sajaa, sudah membuat anak itu bahagia.


"Gevin mau beli apa?"


"Gevin ingin Ibu masakan ayam kecap saja"


Vania mengangguk, anaknya ini memang tidak seperti anak lainnya yang selalu meminta banyak hal pada Ibunya. Gevin selalu mengerti keadaan Ibunya.

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu kita beli ayamnya ya"


Vania membawa Gevin penjual ayam, dia memilh daging ayam yang masih segar. Inilah kenapa Vania lebih memilih belanja di pasar tradisional selain lebih murah, juga lebih segar setiap sayuran yang dia beli.


Selesai belanja, Vania segera membawa Gevin pulang. Anak itu benar-benar terlihat senang meski hanya di bawa jalan-jalan ke pasar tradisional.


"Gevin istirahat dulu disana, Ibu mau masak ayam kecap kesukaan Gevin. Sebentar lagi Papa juga akan pulang untuk makan siang di rumah"


"Baik Bu"


Vania menatap sebuah benda kecil yang berada di tanganya. Benda yang tadi dia beli di apotek. Dia memasukan benda itu ke dalam saku bajunya. Lalu mulai memasak untuk makan siang.


"Ibu, bukannya itu Papa ya?"


Deg..


Vania langsung menatap Gevin yang masih memegang remote televisi. Vania yang masih memotong sayuran langsung berlari ke arah Gevin.


"Gevin, kenapa kamu menonton acara seperti ini Nak. Matiin ya"


Gevin menatap Ibunya dengan bingung, lalu kembali menatap layar televisi yang masih menyala dan sedang menayangkan kabar tentang kabar perceraian Gara dan Yunita.


"Bu, apa Papa menikah lagi dengan Tante di televisi itu? Apa Papa tidak benar-benar menyayangi Ibu?"


"Tidak Nak, bukan seperti itu. Gevin belum mengerti keadaannya Nak. Jadi Gevin jangan sampai salah berpikir tentang Papa. Papa sangat menyayangi Gevin dan Ibu"


"Bernahkah?"


Vania mengelus kepala Gevin dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. "Iya Sayang, Papa sangat menyayangi kita"


Tepat pada saat itu Gara masuk ke dalam Apartemen. Melihat pemandangan di depannya Vania yang sedang memeluk Gevin. Gara juga tidak sengaja mendengar apa yang dibicarakan anak dan istrinya itu dengan anaknya. Menyangkut tentang dirinya dan Yunita. Semua kebingungan Gara terjawab ketika dia melihat layar televisi yang masih menyala dan menayangkan tentang berita perceraian dirinya dan Yunita.


"Maafkan Papa Gevin"


Bersambung


__ADS_1


__ADS_2