Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 47 #Ternyata Cuma Mimpi#


__ADS_3

Gara terjebak dalam kebodohannya sendiri, terlalu percaya pada Yunita hingga dia tidak memikirkan akibat yang mungkin saja terjadi. Dan saat ini, Gara benar-benar baru menyadari dan mengetahui siapa Yunita yang sebenarnya. Wanita yang di banggakan oleh Ayahnya, ternyata tidak lebih dari seorang wanita licik.


"Tidak Sayang, tolong jangan pergi"


Gara menahan Vania yang sudah memasukan beberapa pakaiannya ke dalam koper. Gara tidak akan bisa jika harus ditinggalkan Vania untuk yang kedua kalinya. 


"Lepas! Kamu sudah membohongi aku, Gara. Kamu sudah mengkhianati kepercayaan yang aku berikan sama kamu"


Gara berlutut diatas lantai dan memegang tangan Vania. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Sungguh, kelemahan Gara adalah Vania. Dia tidak akan membiarkan Vania pergi begitu saja.


"Sayang, aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku benar-benar sudah bercerai dengan dia"


"Kamu masih mau mengelak? Jelas Nona Yunita saja bilang jika kalian belum menikah.Jadi tolong jangan terus membohongi aku"


Gara mengusap wajah kasar, Yunita memang benar-benar telah membuat rumah tangganya hancur. Gara berdiri dengan tangan mengepal kuat, diamemukul cermin meja rias hingga hancur berantakan. Hal itu tentu saja membuat Vania terkejut.  Tidak menyangka jika suaminya akan melakukan itu.


"Kamu apaan si? Ngapain lakuin ini? Kamu cuma nyakitin diri kamu sendiri"


Gara tidak menjawab, dia hanya diam dengan tangan mengepal yang sudah bercucuran darah segar dan beberapa serpihan kaca yang menempel di lengannya itu.


"Gara.." Vania memegang bahu suaminya dan menatapnya dengan lekat. "...Kamu gak perlu menyakiti diri kamu sendiri seperti ini"


"Aku lebih baik tersakiti dari pada harus kehilangan kamu. Tahukah jika kamu yang paling berharga bagiku"


Vania menghela nafas pelan, dia meraih tangan Gara yang terluka. Membawa suaminya itu untuk duduk diatas sofa, dan Vania mengambil kotak obat di sebuah laci. Vania meringis sendiri ketika dia mencabuti beberapa serpihan kaca yang menempel di tangan suaminya itu.


Vania mengoleskan obat merah di tangan Gara yang terluka itu. Dia membalutkan perban ditangan Gara yang sudah dia bersihkan dan beri obat merah.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu bawa ke Dokter, ini lukanya cukup parah juga"


Saat Vania siap berdiri dari duduknya, Gara langsung menahan Vania dengan memeluk tubuhnya dari belakang. "Aku mohon jangan pergi, Sayang. Aku akan membuktikan jika memang aku sudah bercerai dengan Yunita. Kamu jangan pergi ya"


"Gara, sebenarnya bukan hanya tentang hal itu yang membuat aku kecewa..." Vania mengambil ponsel dari saku baju yang dia gunakan. Membuka galery dan menunjukan sebuah foto pada Gara. "...Foto ini aku dapatkan saat kamu masih berada di Ibu kota dan hari itu kamu benar-benar tidak menghubungi aku"


Gara terdiam melihat foto dirinya yang sedang berpelukan dengan Yunita di sebuah acara. Gara jelas ingat jika saat itu adalah ketika dia berada di acara event model interasional di luar negara dan Yunita tidak sengaja tersandung, Gara yang berada di depannya tentu sigap menahan tubuh Yunita. Tapi entah kenapa ada yang mengambil foto mereka itu dengan begitu pas.Sehingga dalam foto itu terlihat Gara yang sengaja memeluk Yunita dengan mesra,


"Sayang aku bisa jelasin soal ini"


"Apalagi yang akan kamu jelasin? Jelas kamu sudah membuat aku kecewa dengan semua ini. Tapi kamu masih bilang jika aku hanya salah faham"


Gara benar-benar dalam kesulitan yang ada saat ini. Vania tentu akan sulit mempercayainya lagi karena memang ucapan Yunita dan sebuah foto itu yang pastinya akan membuat Vania ragu untuk percaya pada suaminya lagi.


"Bagaimana lagi caranya agar aku bisa menjelaskan semuanya? Sayang, aku dan Yunita benar-benar sudah berserai. Dan kemarin dia memang membantu perusahaan Papa dengan syarat aku harus menemaninya ke acara event model, alasannya karena di luar negara kabar perceraian ini memang belum beredar. Jadi Yunita tidak mau merusak kariernya itu disaat event berlangsung. Tapi aku benar-benar tidak menyangka jika Yunita akan bercerita hal yang berbeda padamu"


Penjelasan panjang lebar suaminya, malan dianggap Vania sebagai alasan yang sengaja dibuat-buat. Hatinya sudah kecewa dab terluka, jadi dia sangat sulit untuk memaafkan Gara dan mempercayainya.


"Tidak, Sayang.." Gara mencoba menahan tangan Vania yang sudah memegang koper dan siap pergi dari sana.


"Sayang, jangan tinggalkan aku.."


#####


"Sayang.. Jangan pergi Sayang.."


Gara terbangun dari tidurnya, dia menatap sekelilingnya dan ternyata dia masih berada di rumah Papa. Gara mengusap wajah kasar. Semuanya hanya mimpi, tapi entah kenapa terasa begitu nyata. Bahkan Gara sampai berkeringat dingin karena sangat takut kehilangan Vania.

__ADS_1


"Sepertinya menerima tawaran Yunita bukan hal yang bagus. Aku bisa mencari bantuan lain, dari pada nanti akan membuat hubungan pernikahan aku dan Vaniia kacau"


Keputusan baru yang Gara ambil setelah mimpi menegangkan itu. Gara turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah ruang ganti untuk mandi dan bersiap.


Beberapa saat kemudian Gara sudah selesai mandi dan berganti pakaian. Dia melihat penampilannya di cermin, lalu menghela nafas pelan.


"Kamu pasti bisa menemukan jalan keluar lain. Kamu tidak boleh sampai menjadikan pernikahan kamu dan Vania rusak hanya demi sebuah perusahaan"


Gara berbicara pada dirinya sendiri di balik cermin. Mencoba menguatkan diri untuk bisa mencari jalan keluar dari masalah yang sedang di hadapi ini tanpa harus mempertaruhkan pernikahannya dengan Vania. 


Gara pergi bertemu seorang rekan kerja yang sudah dia hubungi semalam. Di sebuah Resturant yang cukup terkenal ini, Gara menunggu seseorang datang. Seorang pemimpin perusahaan yang baru, menggantikan Ayahnya yang dulu selalu menjadi rekan bisnis Gara dan Papa. Dan kali ini Gara juga tidak tahu siapa yang menggantikan beliau


"Maaf menunggu lama"


Seorang pria duduk di kursi depan Gara, dia membuka kacing jasnya dan menatap Gara dengan wajah yang sedikit terkejut. "Loh, Sagara? Ini benar-benar kamu?"


Gara juga sama terkejutnya ketika dia melihat teman kuliahnya dulu. Sebenarnya bukan termasuk teman yang gimana juga, karena pria di depannya ini pernah mendekati Vania disaat Gara juga mendekatinya. Beruntung karena Gara yang memenangkan hati  Vania saat itu.


"William? Wah tidak menyangka sekali kita bisa bertemu dengan waktu yang tidak di duga"


William tersenyum, dia mengulurkan tangannya pada Gara. "Apa kabarnya? Lama tidak bertemu, kabarnya sudah menikah nih"


Gara menjabat tangan William dengan senyuman tipis. "Baik, kamu bagaimana? Ya, aku sudah menikah dan mempunyai seorang anak"


"Wah hebat sekali, kabar aku baik. Tapi ya, untuk masalah percintaan masih belum menemukan yang cocok"


Gara mengangguk mengerti, obrolan basa-basi untuk pertemuan teman lama ini berhenti dan berubah menjadi pembahasan bisnis. Gara menceritakan kesulitannya pada William dan berharap William bisa membantunya.

__ADS_1


"Baiklah aku akan membantumu"


Bersambung


__ADS_2