Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 26 #Ketulusan Jayden#


__ADS_3

"Ngapain kamu disini? Bukannya kamu pergi ke luar kota, kenapa masih berada di kota ini?"


Vania tersenyum miris, bahkan sampai saat ini Tantenya itu tidak memperdulikannya. Jadi memang tidak ada yang bisa Vania andalkan saat ini. Dia benar-benar tidak mempunyai saudara yang bisa dia mintai bantuan.


"Vani hanya sedang ada urusan sebentar disini. Sebentar lagi juga akan kembali ke luar kota, Tante tenang saja"


"Dimana anak haram kamu itu?"


Deg..


Gara langsung mengepalkan tangannya dengan erat. Tidak suka dengan ucapan Tantenya Vani itu. Gara berdiri dengan sedikit menggebrak meja, menatap Tante dengan tajam. "Jangan sekali lagi kau sebut anakku dengan sebutan itu"


Tante menatap Gara dengan menyelidik. "Oh, jadi kamu adalah pria yang telah menghamili Vania dan membuatnya harus hamil di luar nikah hingga tidak bisa melanjutkan kuliahnya"


Gara terdiam, jelas dia merasa sangat bersalah dengan apa yang telah terjadi. Tentu hidup Vania akan hancur ketika dia hamil dan tidak bisa melanjutkan kuliahnya.


"Sayang, sudah ayo kita pergi saja sekarang" Vania langsung menggandeng tangan Gara dan membawanya keluar dari Restaurant itu.


Merasa jika ucapan Tantenya sudah membuat Gara merasa bersalah. Jelas terlihat sekali dari tatapan matanya.


"Jangan mendengarkan apa kata Tante, dia memang sudah sangat tidak suka padaku sejak dulu. Mungkin karena Tante merasa keberatan ketika aku harus tinggal bersamanya dan menjadi beban dirinya"


Gara memeluk Vania dengan lembut, dia merasakan bagaimana kesulitan yang dirasakan Vania saat itu. "Maafkan aku karena telah membuat kamu kesulitan selama ini"


Vania tersenyum, dia mengelus punggung suaminya dengan lembut. "Aku sudah tidak mau mengingat masa lalu lagi. Semuanya sudah terjadi  dan tidak akan bisa diulang lagi"


Gara melerai pelukannya dan menatap Vania dengan lekat. Mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. "Semuanya akan lebih baik mulai sekarang, aku akan membuatmu bahagia dan tidak akan membuat kamu dan Gevin merasakan luka lagi"


Semuanya sudah terlanjur terjadi, tidak mungkin bisa diubah lagi. Tentang masa lalu yang telah terjadi dan tidak mungkin bisa dirubah lagi.


Setelah semuanya terselesaikan, Gara dan Vania kembali ke kota yang akan menjadi tempat tinggal mereka mulai saat ini. Gara akan memulai hidup baru dengan kota yang baru dan suasana yang baru.

__ADS_1


Gevin langsung menempel pada Ibunya ketika kedua orang tuanya datang. Berpamitan pada Ibu dan Jenny, Vania dan Gara segera kembali ke Artemennya. Gevin yang terlelap diatas pangkuan Vania, membuat Vania terus mengelus kepala Gevin dengan sesekali mengecupnya.


"Sayang, maaf ya jika setelah ini aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuk kamu dan Gevin. Karena mungkin mulai sekarang aku bukan lagi anak si pemilik perusahaan besar, aku hanya orang biasa yang baru akan memulai kembali usaha"


Vania tersenyum mendengar itu, dia mengelus pipi suaminya dengan erat. "Sayang, apa aku mencintaimu karena harta saja? Aku mencintaimu karena memang aku tulus cinta sama kamu. Kalau aku tidak benanr-benar mencintaimu, mungkin selama 5 tahun ini aku  sudah bersama pria lain dan tidak akan menunggumu kembali"


Dan semua itu benar adanya, meski Vania berkata jika dirinya membenci Gara dan begitu kecewa padanya. Namun, nyatanya hatinya masih sangat mencintainya. Vania jelas tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.


"Cinta kita yang lebih kuat dari segalanya"


#####


Hari ini Gara begitu terkejut dengan tamu yang datang ke Apartemennya ini. Gara tidak pernah menyangka jika akan kedatangan asistennya ini, setelah apa yang terjadi dalam hidupnya ini.


"Ada apa kamu datang kesini? Aku sudah tidak menjadi atasanmu, kenapa kau masih datang kesini"


Jayden Pratama, seorang pria dingin yang  sudah mengabdi pada Gara selama 4 tahun ini. Dan dia selalu merasa nyaman berkerja dengan Gara, meski terkadang dia suka seenaknya. Jayden adalah pria tampan yang satu tahun lebih muda dari Gara, namun dia mempunyai kedewasaan dan pemikiran yang lebih logis daripada Gara.


Gara tentu begitu terkejut dengan apa yang yang baru saja dia dengar dari asistennya itu. Gara merasa jika dirinya cukup tegas pada Jayden, tapi justru pria itu malah menginginkan untuk terus bersamanya. Padahal Gara yang sekarang tidak mempunyai apa-apa lagi.


"Biarkan saya membantu Tuan untuk membuka usaha baru lagi disini"


"Tapi aku sudah bukan Sagara yang mempunyai banyak uang lagi, aku tidak bisa memberikan kamu gaji yang besar seperti di WR.Corp"


"Tidak papa jika saya tidak mendapatkan apa-apa.Karena saya bekerja bukan hanya untuk uang dan gaji yang besar, tapi yang cari juga kenyamanan ketika saya bekerja, dan saya merasa nyaman bekerja dengan Tuan. Meski terkadang Tua sedikit keras pada saya, tapi saya menjadi mengerti kerasnya dunia bisnis juga karena Tuan"


Gara menggeleng tidak percaya dengan ucapan Jayden. Merasa jika asistennya ini adalah sosok tulus yang Gara cari selama ini. Gara cukup merasa terharu dengan ketulusan Jayden padanya.


"Begini  saja, jika memang kau ingin tetap bekerja bersamaku. Kau bukan asistenku lagi tapi menjadi patner kerjaku. KIta akan bangun usaha sama-sama. Tidak ada bos dan bawahan diantara kita berdua"


Jayden mengangguk, dia senang karena bisa bekerja sama lagi dengan Gara yang telah membuat dirinya banyak mengerti tentang dunia bsinis.

__ADS_1


"Baik Tuan"'


"Stop memanggilku Tuan, aku sudah bukan Tuanmu lagi. Panggil aku Gara saja"


Meski akan sedikit kaku, tapi Jayden mengangguk saja. Mengiyakan apa yang diucapkan Gara barusan.


"Eh, ada tamu ya. Ayo kita makan siang bersama" Vania muncul dari dapur masih menggunakan apron. Dia melihat dua pria tampan yang sedang duduk berhadapan di sofa ruang tengah.


Jayden langsung menoleh dan menatap Vania dengan datar. Dia baru kali ini melihat wajah  asli wanita yang membuat Gara ergila-gila itu.Karena dia baru melihat dari foto yang selalu terpajang di atas meja kerja Gara.


"Stop menatapnya, dia istriku! Kau jangan berani macam-macam pada istriku!"


Jayden tersenyum tipis, dia mengalihkan pandangannya dari Vania dan menatap Gara yang duduk di depannya itu.  "Pantas saja kau sampai tergila-gila padanya, dia sangat manis dan cantik"


"Kau!"


Jayden hanya terkekeh melihat kekesalan di wajah Gara. Entah sejak kapan keduanya jadi dekat seperti ini. Tidak selalu kaku seperti saat mereka membicarakan tentang pekerjaan.


"Aku senang bisa mengenalmu lebih dari seorang atasan" kata Jayden sambil menyandarkan kepalanya disandaran sofa.


Gara tersenyum tipis, dia juga merasa senang. Gara merasa jika saat ini dirinya sedang mempunyai seorang sahabat dekat yang begitu mengerti dirinya.


"Ya, aku juga senang"


Vania tersenyum sambil menggelengkan kepalanya dengan kelakuan keduanya itu. "Ayo makan siang dulu, semuanya sudah siap. Sayang, tolong panggil Gevin di kamarnya"


"Iya Sayang"


Jayden tersenyum melihat kebucinan Gara pada Vania. Jelas sangat berbeda ketika Gara bersama Yunita.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2