Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 48 #Tidak Jadi Meminta Bantuan Yunita#


__ADS_3

"Apa? Jadi kamu tidak jadi mengakusisi perusahaan itu padaku?"


"Tidak Yu, ada yang mau menyuntikan dana ke perusahaan ini tanpa harus mengakusisi perusahaan lagi"


Yunita benar-benar kesal dengan Gara yang membatalkan perjanjian diantara mereka. "Tidak bisa. Kamu sudah melanggar karena kamu membatalkan semuanya dalam sepihak. Kamu tidak bisa melakukan ini, Gara!"


Gara tersenyum dengan tenang, dia menatap Yunita dengan santai saja. "Kita baru berbicara lewat omongan saja, belum ada bukti tertulis atas pemindahan kepemilikan atas perusahaan ini.  Jadi aku masih bisa membatalkannya"


Yunita benar-benar kesal dengan ucapan Gara yang memang benar adanya. Tidak bisa lagi menjawab, membuat Yunita langsung pergi dari ruang kerja Gara dengan menghentakan kakinya kesal.


"Lihat saja Gara, aku akan membuat kamu memohon bantuanku suatu saat nanti. Tunggu saja!"


Yunita benar-benar kesal dan marah pada Gara yang sudah membuat dirinya datang seperti pengemis yang hanya ingin kembali bersamanya. Tapi ternyata Gara tidak bisa dia kelabui begitu saja. Padahal kemarin Yunita sudah memiliki kesempatan yang sangat besar untuk bisa memiliki Gara kembali. Tapi ternyata dia gagal.


Di dalam ruangan, Gara menghela nafas lega karena tidak jadi berurusan dengan Yunita lagi. Gara takut jika nanti akan menjadi boomerang untuk pernikahannya dengan Vania. Mengingat nama Vania, membuat Gara jadi merindukan gadis itu. Dia meraih ponselnya dan melakukan panggilan Video dengan istrinya ini.


"Sayang lagi apa?"


Vania tersenyum yang terlihat jelas di layar ponsel Gara, senyuman yang selalu membuat Gara merasa candu dan selalu merindukannya. "Aku lagi suapi Gevin makan. Kamu lagi apa? Sudah makan siang?"


Gara mengangguk, dia menatap wajah istrinya yang memenuhi layar ponsel dengan tatapan yang penuh dengan kerinduan. "Aku sangat rindu kalian Sayang, tapi aku juga belum bisa kembali karena disini masih belum sepenuhnya selesai"


"Sabar Sayang, semuanya pasti akan bisa kamu selesaikan selama kamu benar-benar berjuang"


Gara tersenyum, istrinya ini memang yang paling bisa membuat Gara merasa tenang dan penuh dengan semangat dalam menghadapi masalah seperti saat ini.


"Oh ya, kemarin sore ada Jeyden yang datang kesini. Dia mau..."


"Mau apa dia datang kesitu? Jangan macam-macam ya Sayang, berani membawa masuk pria lain disaat suami kamu tidak ada disana"


Vania sampai terkejut sendiri mendengar suara Gara yang terdengar dingin dan tegas itu. "Sayang apaan si, dengerin dulu makanya.Aku 'kan belum selesai bicara. Jayden datang kesini karena dia mau pinjam laptop kamu. Katanya ada yang harus dia salin di laptop kamu itu. Terus dia juga memberi kabar kalau usaha kalian sudah mulai berkembang. Katanya sehari bisa sampai 30 orderan yang mempercayai tim delivery kalian"

__ADS_1


Gara tersenyum mendengar itu, akhirnya usaha yang dia rintis bersama sahabatnya itu bisa mulai berkembang sekarang.


"Tapi awas ya Sayang kalau kamu berani membawa seorang pria ke Apartemen disaat aku tidak ada"


"Tidak mungkin Sayang, lagian kemarin juga Jayden tidak masuk ke dalam. Dia hanya menunggu diluar untuk aku mengambilkan laptop punya kamu itu"


"Yaudah, kalau gitu sudah dulu ya. Aku mau lanjut bekerja"


Vania mengangguk dan tersenyum pada Gara. "Iya Sayang, semangat terus bekerjanya"


Gara segera mematikan teleponnya itu, menyimpan kembali ponsel diatas meja. Dan dia mulai memeriksa beberapa berkas penting yang akan diperlukan saat rapat dengan perusahaan William besok.


######


Gara kembali ke rumah cukup larut hari ini, dia sangat lelah ketika harus memeriksa beberapa berkas yang akan di perlukan besok.


"Ga, baru pulang"


"Iya Ma, aku baru pulang"


Mama berjalan mendekati anaknya itu yang sudah berusaha keras beberapa hari terakhir. "Bagaimana semuanya? Apa berjalan lancar?"


Gara mengangguk, dia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dengan hembusan nafas lelah. "Sudah Ma, semuanya lancar dan aku tidak jadi meminta bantuan pada Yunita"


Mendengar itu Mama langsung duduk disamping putranya itu. "Maksudnya? Lalu dari mana kamu bisa menyelesaikan semua ini kalau tidak jadi meminta bantuan dari Yunita?"


"Aku meminta bantuan pada teman kuliahku dulu, yang ternyata selama ini perusahaan Ayahnya sudah beberapa kali terjalin kerja sama dengan perusahaan kita. Dan dia siap memberikan suntikan dana tambahan dengan dia yang memegang saham 50 persen. Lebih tinggi dari punya Papa dan beberapa pemegang saham lainnya"


"Syukurlah Nak, kalau begitu. Sebenarnya kemarin saja Mama sudah merasa was-was ketika kamu bilang jika Yunita yang akan membantu kita dengan persyaratannya yang cukup mudah itu. Mama takut jika hal itu akan menjadi boomerang dalam rumah tangga kamu dan Vania"


Gara tersenyum, ternyata fikiran Ibunya dan dia benar-benar sama."Iya Ma, itu sebabnya kenapa aku lebih memilih untuk mencari bantuan dari orang lain saja daripada dari Yunita"

__ADS_1


Gara juga sangat takut jika rumah tangganya bersama Vania akan hancur hanya karena dia menyelamatkan perusahaan dan tidak memikirkan bagaimana yang akan terjadi ke depannya.


"Yaudah Ma, aku ke kamar dulu"


"Iya Nak,  istirahatlah kamu pasti lelah seharian ini"


Gara masuk ke dalam kamarnya dengan perasaan dan pikiran yang lebih lega sekarang. Setidaknya dia sudah memukan jalan keluar untuk masalah ini dengan tidak berurusan dengan Yunita, yang mungkin saja akan menjadi sebuah boomerang untuk pernikahannya dengan Vania.


Selesai mandi dan berganti pakaian, Gara mencoba menghubungi istrinya. Jika teleponnya diangkat berarti Vania memang belum tidur, karena hari yang memang sudah larut sekarang. Dan ternyata teleponnya memang diangkat oleh istrinya itu.


"Sayang, kamu belum tidur?"


"Aku kebangun karena mendengar telepon dari kamu"


"Maaf ya karena aku sudah mengganggu tidur kamu"


"TIdak papa Sayang, lagian memang aku menunggu telepon dari kamu sejak tadi"


"Maaf ya, tadi aku banyak pekerjaan.."


Dan mengalirlah cerita dari Gara tentang apa saja yang dialaminya hari ini.Begitu pun dengan Vania yang juga bercerita tentang apa yang dia lalui hari ini. Sepasang suami istri ini begitu bahagia meski mereka berada dalam hubungan jarak jauh. Tapi dengan Gara yang selalu rutin menghubunginya, membuat Vania tidak merasa curiga dan khawatir jika suaminya akan berpaling ke lain hati saat dia berada di Ibu kota.


"Wah, jadi kamu beneran bertemu dengan William? Teman kira waktu kuliah?"


Gara berdehem cukup keras, sebenarnya dia tidak ingin menceritakannya karena memang dia tidak mau Vania tahu. Tapi Gara malah keceplosan dan terlanjur bercerita tentang pertemuannya dengan William tadi siang.


"Kok antusias banget? Ingat masa lalu kalau dia pernah dekati kamu juga"


"Apaan si Sayang, lagian itu hanya masa lalu. Kenapa harus di ingat-ingat lagi"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2