Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 24 #Karena Kamu Segalanya Untukku#


__ADS_3

Vania berjalan menghampiri suaminya yang sedang duduk diatas sofa, dia membawa segelas air untuk suaminya yang masih dilanda emosi itu. Vania duduk disamping suaminya dan menyerahkan segelas air yang berada di tangannya itu.


"Minum dulu biar kamu tenang"


Gara menghela nafas pelan, dia mengambil gelas itu dan meminum air di dalamnya hingga tandas. Lalu menyimpan gelas diatas meja yang berada di depannya dengan sedikit kasar hingga terdengar dentingan.


"Sayang, aku tidak papa jika harus pergi meninggalkan kamu jika kehadiran aku malah membuat kamu renggang bersama keluarga kamu"


Gara langsung menoleh dan menatap Vania dengan kesal. "Apa maksudmu? Jelas aku tidak akan meninggalkanmu atau menyuruhmu pergi dari kehidupanku. Ingat itu! Jadi lagi kamu mengatakan jika kamu akan pergi dari hidupku. Kau tidak tahu jika aku hancur ketika kau pegi dari hidupmu"


Vania menghela nafas pelan, dia meraih tangan suaminya dan menggenggamnya dengan erat. "Sayang, apa kamu yakin dan tidak akan menyesal dengan keputusan yang kamu ambil? Kamu akan kehilangan segalanya"


Gara menggeleng pelan, dia emnatap Vania dengan lekat. "Aku tidak kehilangan segalanya, justru aku mendapatkan segalanya. Karena kau adalah segalanya untukku"


Vania tersenyum mendengar itu, dia mengecup bibir Gara dengan lembut. "Terima kasih karena sudah memilih dan mempertahankan aku"


"Karena kamu adalah sumber kebahagiaan dalam hidupku, apalagi saat sekarang sudah mempunyai Gevin"


Entah bagaimana hidup kedepannya, tapi Vania akan tetap bertahan di sisi Gara selama pria itu tidak menyuruhnya pergi dari hidupnya.


"Ibu, Gevin laper" Gevin datang menghampiri Ayah dan Ibunya setelah dai puas bermain sambil menonton televisi yang sengaja disediakan di kamar yang ditempatinya agar Gevin betah di kamar itu.


Vania dan Gara tersenyum melihat anaknya itu. Bersyukur karena Gevin tidak mengetahui tentang pertengkaran yang telah terjadi.


"Yaudah, ayo kita makan. Ibu sudah masak untuk makan siang kita hari ini. Ada ayam kecap kesukaan Gevin"


"Yey,, makasih Ibu"

__ADS_1


Vania tersenyum melihat anaknya yang berjingkrak senang karena mendengar ada masakan yang paling dia sukai itu.


Gara langsung menatap pada Vania dengan tatapan penuh tanya. Vania tersenyum sambil mengelus kepala suaminya itu. "Ya, dia menyukai makanan yang sama denganmu. Makanan kesukaan kalian sama, jadi apa yang akan di bedakan dari kalian berdua selain umur? Terkadang aku sedih karena aku yang mengandung dan melahirkannya, tapi kenapa semua kelakuan dan wajahnya saja sangat mirip dengan kamu. Rasanya aku sebagai Ibunya tidak mempunyai kesamaan apapun dengan anakku sendiri"


Gara hanya terkekeh mendengar ucapan istrinya itu. Dia mengecup pipi Vania sebelum dia berdiri dan menggandeng tangan anaknya untuk menuju ke dapur. Vania hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya heran. Dia pun mengikuti suaminya dan anaknya itu ke arah dapur.


#####


"Sayang kamu yakin?" Vania menatap suaminya yang sekarang berdiri di depannya ini. Vania sudah rapi dengan dress yang panjangnya di bawah lutut.


"Ya, kita sudah menitipkan Gevin pada Ibu dan Jenny. Jadi sekarang kita bisa pergi dengan tenang meski meninggalkan Gevin"


Vania tidak bisa menolak, hari ini dia tetap harus mengikuti keinginan suaminya itu. Pergi menemui orang tuanya hanya untuk memperjelas hubungan mereka yang telah resmi menikah. Setelahnya Gara akan hidup bersama istri dan anaknya tanpa memperdulikan apapun lagi. Meski kedua orang tuanya tidak merestui hubungan mereka.


"Sayang, kamu pecayakan saja semuanya padaku"


Vania menoleh pada suaminya yang sedang mengemudi itu. Merasa jika ucapan suaminya itu memang sedang menenangkan dirinya yang sedang tidak tenang karena akan menemui orang tua suaminya yang jelas tidak menyukai dirinya.


"Iya, aku tidak papa. Aku hanya sedang bingung saja bagaimana nanti cara menghadapi orang tuamu itu"


"Sayang, kamu hanya perlu berada disampingku selamanya"


Vania tidak menjawab, dia hanya diam dengan kegelisahan dalam hatinya. Selama perjalanan Vania hanya diam dengan pemikiran yang bingung dan gelisah.


"Sayang, kamu tidur saja perjalanan masih panjang"


Vania hanya mengangguk dengan memejamkan matanya. Tapi tidak benar-benar tidur, hanya memejamkan matanya saja hanya karena ingin mencoba menenangkan dirinya.

__ADS_1


Hingga beberapa jam kemudian Gara menepikan mobilnya di pekarangan rumah mewah yang sejenis mansion. Vania menatap rumah mewah ini dengan tatapan takjub. Meski pernah berpacaran dengan Gara, tapi dia tidak pernah berkunjung ke rumahnya ini. Jadi ini adalah untuk pertama kalinya Vania datang ke rumah orang tua Gara.


Ketika kaki melangkah, dia mulai bergetar dan merasa jika saat ini dia sedang berada diantara jurang yang dalam. Ketika kaki yang terus melangkah masuk ke dalam jurang yang dalam. Membuat Vania tidak akan bisa lagi keluar dari kehidupan yang telah dia pilih. Bersama Gara apapun yang akan terjadi ke depannya.


Ya Tuhan, tolong berikan yang terbaik untuk aku dan Gara. Kami hanya sedang mencari kebahagiaan kami saat ini.


Ketika dia sampai di ruang tengah rumah ini, Vania benar-benar tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Apalagi ketika dia melihat adanya Yunita di ruangan itu bersama kedua orang tua Gara.


"Gara.." Yunita langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri Gara dengan tergesa. Ingin memeluk suaminya itu, namun Gara langsung mengghindar karena dia tidak mau jika Vania akan merasa tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Jelas yang menjadi prioritas Gara adalah Vania, bukan Yunita.


"Gara!" Sebuah bentakan keras dari Papa yang melihat bagaimana Gara memberikan penolakan pada Yunita.


"Aku datang kesini hanya untuk memberikan apa yang sudah Papa berikan padaku. Dan ini adalah istriku, wanita yang aku cintai selama ini. Wanita yang Papa paksa untuk pergi dari kehidupanku. Jadi sekarang aku sudah menuruti keinginan Papa, maka jangan salahkan jika sekarang aku akan tetap memilih Vania"


Gara menyimpan kuci mobil miliknya, membuka dompet dan mengeluarkan beberapa kartu yang berada di dompetnya dan menyimpannya diatas meja.


"Itu semua adalah fasilitas yang Papa berikan padaku. Dan untuk Apertemen di luar kota dan kartu atm ini, aku ambil karena uang yang ada disini adalah hasil kerjaku selama berada di perusahaan Papa. Jangan pernah lagi menggangguku dan istriku"


Gara menggandeng tangan istrinya dan berbalik untuk melangkah keluar rumah. Namun sebelum itu dia ingin mengatakan satu hal pada keluarganya ini.


"Dan satu lagi, aku telah mengurus perceraian aku bersama Yunita"


"Tidak! Gara, aku tidak mau bercerai denganmu" Yunita langsung menahan tangan Gara agar tidak pergi darisana.


Gara melepaskan tangan Yunita yang memegang lengannya. "Maaf Yu, tapi aku tidak bisa membohongi hati dan perasaanku sendiri. Kamu bisa mencari pria yang lebih baik daripada aku"


Gara melangkah keluar rumah dengan menggandeng istrinya. Mengabaikan teriakan Mama yang terus memanggil namanya. Mulai saat ini, Gara sudah memutuskan untuk memulai hidup baru bersama anak dan istrinya. 

__ADS_1


Bersambung



__ADS_2