Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 61 #Persidangan Papa#


__ADS_3

Gara mencoba untuk menyelesaikan satu persatu masalahnya dulu. Mulai dari perusahaan yang kacau dan kini sudah mulai terkendalikan. Sekarang Gara hanya tinggal menghadiri acara persidangan Papa. Duduk berdampingan dengan Mama dan menatap ke depan, dimana seorang hakim dan jaksa juga para petugas lainnya ada disana. Rasanya semua ini seperti mimpi, Gara menyaksikan persidangan Ayahnya sendiri.


Hakim mulai berbicara, sidang di mulai ketika Papa yang memakai baju tahanan sudah duduk di kursi terdakwa. Melihat punggung Ayahnya, jujur hati Gara terasa begitu tersayat. Dia membayangkan jika Ayahnya melakukan ini karena dirinya. Tapi kenapa harus dengan cara seperti ini dan kenapa harus keluarga dari wanita yang sangat dia cintai. Hal ini yang benar-benar membuat Gara kacau.


Saat sidang di mulai tiba-tiba seorang jaksa membisikan sesuatu pada hakim. Seolah ada pemberitahuan baru tentang kasus Papanya. Gara menggenggam tangan Mama dan mencoba  untuk menenangkan Ibunya yang pastinya sangat terluka melihat ini.


"Saya baru saja mendapat laporan jika terdakwa Jhonatan Werden sudah memilih hukumannya. Daripada hukuman beberapa tahun atau seumur hidup, terdakwa memilih hukuman mati"


Deg...


Kabar yang begitu mengejutkan, Gara langsung berdiri dan ingin protes. Dia tidak menyangka jika Papa akanmengambil keputusan itu seorang diri. Ya, Gara memang marah dan kecewa pada Ayahnya itu. Tapi untuk sebuah hukuman mati, tentu Gara tidak akan pernah rela dan tidak akan pernah siap melihat Ayahnya di tembak mati.


"Sayang keberatan, saya tidak setuju jika Papa saya dijatuhkan hukum mati"


Hakim mengetuk palu untuk membuat suasana yang sedikit ribut menjadi hening kembali. "Tolong tenang, saya akan mempertimbangkan semuanya. Tapi saat ini saya ingin bertanya pada terdakwa, kenapa anda menginginkan hukuman ini? Padahal belum tentu anda akan mendapatkan hukuman yang berat atas kejujuran anda ini"


Papa mendongak, menatap hakim dengan pancaran wajah tenang. Tidak sedikit pun terlihat rasa takut atau apapun itu. Karena Papa sudah yakin dengan keputusannya untuk menebus kesalahannya di masa lalu. Papa berharap jika setelah dia melakukan ini Vania akan menerima kembali Gara dan tidak melihat Gara dari masa lalu Papa. Karena Papa tahu jika Gara tidak akan bisa hidup tanpa Vania.


"Karena saya sudah melayangkan nyawa seseorang beberapa tahun lalu. Saya juga sudah membuat kehidupan seorang gadis kecil yang tidak berdosa hancur karena perbuatan saya. Maka dari itu saya fikir jika hukuman mati adalah yang terbaik untuk saya untuk bisa menebus semua kesalahan saya di masa lalu"


"Papa.." lirih Mama yang sudah tidak bisa menahan tangisannya. Dia hanya terdiam dengan lemas dalam pelukan suaminya.


Sidang selesai, permohonan Papa untuk sebuah hukuman mati masih belum di kabulkan. Karena memang semuanya butuh proses, dan perlu ada saksi dari pihak korban yang mungkin akan semakin mempercepat persidangan.

__ADS_1


Selesai persidangan, Gara menemui Papa di ruang besuk. Dia menatap tubuh Ayahnya yang mulai kurus, padahal baru satu minggu dia berada di sel tahanan.


"Pa, aku memang kecewa pada Papa. Tapi jujur aku tidak pernah mau Papa memilih hukuman ini. Aku lebih baik menunggu Papa bebas dalam menjalani masa tahanan ini. Daripada harus melihat Papa yang dikenakan hukuman mati. Itu terlalu berat untuk aku dan Mama"


Papa menghela nafas pelan, dia meraih tangan anaknya diatas meja. Menatap mata anaknya dengan tatapan yang sayu.


"Apa yang Papa lakukan sudah keterlaluana  Nak. Jadi Papa ingin membayar nyawa dengan nyawa"


"Tapi Pa, apa dengan Papa menghlangkan nyawa Papa sendiri, maka kedua orang tua Vania akan kembali hidup? TIdak Pa, jangan bodoh!"


Rasanya saat ini Gara sedang berada diantara dua pilihan yang sulit. Bagaimana dia yang tidak mau kehilangan Ayahnya dan dia juga yang tidak mau kehilangan Vania.


######


Vania terdiam melihat kabar di televisi yang menayangkan tentang Jhonatan Warden yang meminta hukuman mati atas kasus kejahatannya puluhan tahun lalu. Vania benar-benar tidak pernah menyangka jika Papa akan melakukan itu.Karena dia rasa Papa hanya akan mendapatkan hukuman biasa saja. Tapi kenapa malah dia sendiri yang meminta hukuman menakutkan itu.


Vania menghembuskan nafas kasar, sampai saat ini dia tetap tidak akan bisa membohongi hatinya jika dia memang masih sangat mencintai Gara.


"Va, apa yang sedang kamu fikirkan?"


Jenny datang dan duduk disamping Vania. Dia menatap Vania yang sejak tadi hanya diam melamun.


"Tidak Kak, aku hanya sedang memikirkan bagaimana kehidupan yang akan aku jalani ke depannya"

__ADS_1


Jenny sedikit memiringkan posisi duduknya di atas sofa. Dia meraih tangan Vania dan menggenggamnya. "Gini ya Va, kamu ikuti apa kata hati kamu. Kalau memang kamu masih mencintai Gara, maka kembali padanya dan jangan melihat Gara dari masa lalu Papanya. Karena sebenarnya semua ini bukan kesalahan Gara,  tapi kesalahan Papanya. Kalau kamu terus egois seperti ini bahkan dengan hatimu sendiri. Bagaimana kamu akan bisa melanjutkan kehidupan kamu ke depannya"


Vania terdiam mendengar itu, sebenarnya apa yang dikatakan Jenny memang benar adanya. Tapi seolah Vania masih belum mau mendengarkan ucapan dan saran dari orang lain saat ini. Semuanya karena memang Vania masih butuh waktu untuk memikirkan semuanya.


######


Pagi ini Vania terbangun karena perutnya yang terasa tidak nyaman dan sedikit mual. Vania berlalu ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya di wastafell.


"Sepertinya penyakit lambung aku kambuh, karena sudah beberapa hari ini aku tidak benar-benar makan dengan teratur"


Vania keluar dari kamar mandi dengan gontai dan wajah yang pucat. Dia benar-benar merasa lemas setelah muntah beberapa kali saat da kamar mandi tadi. Vania kembali naik ke atas tempat tidur dan menatap Gevin yang sedang terlelap dengan begitu tenang. Dia mengelus kepalanya dengan lembut dan mengecup keningnya.


"Sayang, jika Ibu dan Papa kamu memang tidak bisa bersama lagi. Ibu harap kamu akan mengerti dan menerima semuanya"


Sebenarnya hal yang paling Vania takuti dalam hal ini adalah anaknya yang mungkin tidak akan pernah bisa meneriima perpisahan Ayah dan Ibunya. Karena Gevin juga baru beberapa bulan bisa hidup dengan orang tua yang lengkap. Jika memang anak itu tahu jika kedua orang tuanya sedang terancam berpisah saat ini. Mungkin Gevin tidak akan terima dan ujung-ujungnya dia akan kembali trantrum dan mengamuk pada semua orang.


Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini? Aku benanr-benar bingungharus melakukan apa saat ini.


Rasanya semua terlalu melelahkan bagi  Vania. Sepertinya bukan hanya Vania, karena Gara pun merasakan hal yang sama. Dia yang baru saja sampai di Apartemen langsung merenung sambil memikirkan Vania.


"Bagaimana kabar Vania dan Gevin?"


Rasanya Gara ingin segera bertemu dengan anak dan istrinya itu setelah dia beberapa hari berada di Ibu Kota. Menyelesaikan masalah perusahaan dan persidangan Ayahnya yang cukup mengejutkan. Namun Gara juga sudah menyewapengacara handal untuk membela Papa agar tidak menerima hukuman mati seperti yang dia inginkan.

__ADS_1


Ya Tuhan, semoga semuanya bisa aku selesaikan dengan baik dan menghasilkan juga.


Bersambung


__ADS_2