Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 19 #Gaun Pengantin#


__ADS_3

"Loh kenapa kita datang kesini?"


Vania menoleh pada Gara yang sedangan memegang kemudi. Vania merasa bingung ketika mobil Gara yang berhenti di depan sebuah butik yang cukup terkenal di kota ini.


"Kita akan melihat-lihat baju pengantin untuk kamu"


"Baju pengantin? Kamu benar-benar akan membeli baju pengantin? Oh ayolah, pernikahan kita nanti juga pastinya akan sangat sederhana"


"Ya aku tahu, tapi mau sesederhana apapun pernikahan kita nanti. Aku tetap ingin mempunyai foto yang bagus saat pernikahan kita. Aku tidak mau kalau sampai kamu tidak merasakan memakai baju pengantin saat pernikahan kamu. Meski mungkin pernikahan kita kali ini tidak akan mewah. Tapi setidaknya kamu tetap memakai baju pengantinseperti kebanyakan orang"


Vaia terdiam beberapa saat, kenapa dia merasa jika Gara sedang memperjuangkan kebahagiaannya. Gara yang mengatakan hal itu seolah membuat Vania begitu merasa tersentuh.


"Ayo turun, kenapa kau masih diam saja"


Vania mengerjap, dia menatap Gara yang sudah turun dari mobil. Gara mengitari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Vania.


"Gevin biar sama aku saja" Gara mengambil alih Gevin yang berada di atas pangkuannya, dan segera menggendongnya.


"Tapi Gevin sedang tidur"


"Tidak papa, cepat kau turun"'


Vania mengangguk, dia segera turun dari dalam mobil. Berjalan masuk dengan Gara yang menggandeng tangan Vania, padahal Gevin sedang berada dalam gendongannya. Tapi seolah Gara tidak mau berjauhan dari Vania.


"Selamat datang di butik kami, apa ada yang bisa kami bantu?" Seorang pelayan butik itu langsung menyambut Vania dan Gara dengan ramah dan sopan.


"Carikan gaun pernikahan untuk istriku ini"


Mendengar kata istri yang keluar dari mulut Gara, membuat Vania langsung menoleh dan menatapnya dengan terkejut. Entah kenapa mendengar kata 'isriku' yang keluar dari mulut Gara, membuat hati Vania sedikit berdesir. Ada rasa senang dalam hatinya.


"Baik Tuan, Nona mari ikut saya"


Vania mengerjap pelan saat pelayan itu mengajaknya untuk mengikuti dirinya. Vania menatap ke arah Gara, dan pria itu mengangguk seolah mengizinkan untuk Vania pergi mengikuti pelayan butik itu.

__ADS_1


Vania menatap gaun pengantin yang berjejer di sebuah ruangan yang cukup luas dan semuanya benar-benar hanya gaun pengantin dan gaun pesta saja.


"Silahkan Nona, mau coba yang mana?"


Vania merasa bingung sendiri ketika dia menatap begitu banyak gaun pernikahan yang ada di ruangan itu. Vania jadi bingun sendiri memilihnya. Hingga tatapan Vania tertuju pada sebuah gaun yang terpasang di salah satu manekin disana. Gaun berwarna abu silver dengan model yang cukup tertutup, namun tetap elegan. Vania melangkah mendekati gaun itu. Meraba dengan pelan  gaun itu.


"Apa Nona ingin yang ini, model ini memang sangat pas ditubuh Nona ini" Pelayan butik langsung menjelaskan kelebihan dari gaun itu, jelas semua pedagang juga akan menjelaskan kelebihan dagangannya daripada kekurangannya.


Akhirnya Vania memilih untuk mencoba gaun itu. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di ruang ganti itu dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana dirinya saat ini benar-benar memakai gaun pengantin. Seolah mimpi yang sudah lama terkubur, kini bangkit kembali ke permukaan. Tentang mimpinya bersama Gara.


Pernikahan adalah tujuan dan mimpi semua orang. Namun mimpi itu sudah Vania kubur dalam-dalam sejak dirinya harus berpisah dengan Gara. Karena bagian dari mimpi dan tujuan hidupnya itu, adalah Gara. Namun ketika merka berpisah 5 tahun yang lalu. Maka semua mimpi itu hanya akan sia-sia. Mimpi yang Vania kubur sejak saat itu. Tapi sekarang, mimpi itu telah hadir kembali dengan sendirinya.


Vania keluar dari ruang ganti, menghampiri Gara yang sedang duduk di sofa bersama Gevin yang tidak lagi tertidur.


"Nona memilih yang ini, Tuan"


Gara langsung menoleh dan seketika dia merasa sangat kagum dengan kecantikan Vania yang sedang memakai gaun pengantin itu. Bahkan Gara sampai tidak bisa mengatakan apapun lagi.


"Ba-bagaimana?"


Vania tersenyum malu, dia tidak menyangka jika Gara akan mengatakan hal seperti itu. "Jadi apa aku memilih gaun ini saja?"


Gara mengangguk, Vanianya sudah terihat sangat cantik dan begitu cocok ketika menggunakan gaun itu. Jadi Gara tidak perlu berpikir lagi, karena rasanya Vania memang gadis yang paling cantik yang dia temui.


"Jadi berapa harga gaun ini?" tanya Gara pada si pelayan butik.


Dan Vania benar-benar terkejut ketika mendengar nominal yang disebutkan pelayan itu untuk sebuah gaun yang saat ini sedang Vania pakai"


"Kalau begitu tidak jadi saja Mbak, saya membeli  yang lain saja"


Gara langsung menatap Vania dengan tatapan bingung. "Kenapa tidak jadi? Apa kau tidak suka dengan gaunnya?"


"Tidak, bukan begitu. Tapi aku...."

__ADS_1


"Yasudah, kalau kau suka jangan banyak berpikir lagi. Beli saja gaunnya"


Vania berjalan mendekati Gara yang sedang duduk di sofa dan berbisik padanya. "Gaun ini harganya terlalu mahal"


Gara tersenyum mendengar itu, dia meraih lengan Vania dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Tidak peduli soal itu, jika kau suka, maka beli saja. Asalkan kau suka dan bahagia"


Kenapa aku yang merasa malu? Si pelayan butik membatin  sendiri melihat adegan romantis di depannya. Tidak tahu saja dia jika keduanya ini sedang mencoba melawan takdir hanya untuk bisa bersama kembali setelah 5 tahun berpisah.


"Ibu cantik sekali"


Vania menoleh pada Gevin yang sedari tadi hanya memperhatikan Vania yang tampil berbeda dengan gaun yang dipakainya itu.


"Tuh, kata Gevin saja kamu sangat cantik. Apalagi kata aku? Memang kamu yang tercantik dimataku"


Bukan wajah Vania yang memerah, tapi malah wajah si pelayan butik ini.  Merasa jika adegan di depannya ini mirip dengan drama yang dia tonton semalam.


Ya Tuhan, kenapa aku yang jomblo ini harus melihat adegan menggemaskan seperti ini.


"Mbak, kami jadi beli gaun yang ini"


Si Mbak pelayan langsung mengerjap dan menganggukan kepalanya. "Baik Tuan"


Gara segera melakukan transaksi pembayaran untuk gaun pengantin itu. Sementara Vania masih merasa belum rela ketika uang yang mungkin harus dia kumpulkan selama puluhan tahun saat bekerja di toko bunga, hanya terbuang begitu saja demi satu gaun.


Gara yang melihat wajah tidak rela istrinya itu ketika dia melakukan transaksi pembayaran, membuat Gara menahan tawa. Dia berjalan ke arah Vania dan menggandeng tangan gadis itu. Membawanya keluar butik.


"Sudah, kau tidak perlu merasa cemas begitu. Uang aku tidak habis kok"


Vania mendengus kesal mendengar ucapan Gara. "Tapi sayang sekali uang sebanyak itu hanya untuk sebuah gaun yang hanya akan di pakai sekali saja"


"Memang hanya di pakai sekali, tapi kenangannya akan bertahan seumur hidup"


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2