Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 25 #Tetap Disampingku Apapun Yang Terjadi#


__ADS_3

Vania menarik lengan suaminya yang menggandengnya dan menariknya keluar dari rumah kedua orang tuanya. Vania menatap Gara dengan lekat, meski Gara terlihat baik-baik saja, namun jelas Vania tahu jika pria itu juga terluka dengan keadaan saat ini. Tanpa berkata-kata, Vania hanya memeluk Gara dan menenangkan pria itu. Vania hanya ingin membuat Gara tidak merasa jika dirinya hanya sendiri saat ini. Karena kenyataannya masih ada Vania yang hadir dalam hidupnya ini.


"Sayang, are you okay?"


Gara mengangguk pelan, dia akan baik-baik saja jika Vania tetap berada di sampingnya. Meski hatinya tetap terluka ketika Gara mengingat kejadian barusan. Dimana dirinya sudah benar-benar mengambil keputusan yang mungkin akan merubah hidupnya ke depan.


"Yasudah, kita pulang sekarang. Eh, tapi bukannya kunci mobilnya sudah di berikan pada Papa kamu ya? Apa kita pulang naik kereta saja?"


Gara tersenyum, dia menatap istrinya dengan gemas. "Yang aku serahkan bukan kunci mobil yang ini, karena ini hanya mobil sewaan ketika aku berada di luar kota. Tapi jika kedepannya kita tidak mempunyai mobil bagaimana?"


Vania menipiskan bibirnya dengan santai. "Emm. Tidak masalah, taxi online juga banyak. Lagian aku juga sudah biasa naik angkutan umum, jadi tidak jadi masalah untukku"


Gara tersenyum mendengar itu, jelas dia tidak alah lagi memilih pendamping hidup. Karena Vania tetap menerima Gara meski dalam keadaan yang susah sekalipun.


"Yaudah, sekarang ayo kita pulang. Kasihan jika Gevin ditinggal terlalu lama"


Vania mengangguk, dia segera masuk ke dalam mobil ketika Gara membukakan pintu mobil untuknya. Di dalam perjalanan, Vania terus menatap Gara yang terlihat biasa saja namun lebih menjadi sosok yang pendiam. Dan Vania tahu jika Gara hanya sedang berpura-pura tegar saja. Jauh di lubuk hatinya, jelas jika Gara sedang sangat rapuh saat ini.


Vania mengelus pipi Gara dengan tersenyum lembut padanya. "Sayang, maaf ya jika aku telah membuat hubungan kamu dan kedua orang tua kamu jadi renggang kayak gini"


Gara mengehentikan mobilnya di lampu merah. Dia menoleh dan menatap Vania, meraih tangan istrinya itu dan menggenggamnya dengan lembut. Memberikan kecupan di punggung tangan Vania dengan penuh kasih Sayang.


"Tidak ada yang menjadi sebab aku renggang dengan kedua orang tuaku. Apalagi kamu yang sudah banyak berkorban selama ini hanya demi hubungan baik diantara aku dan kedua orang tuaku. Dan saat ini sudah saatnya untuk aku yang membuat kamu bahagia dan memberikan yang terbaik untuk kamu dan Gevin"


Vania tesenyum mendengar itu, betapa saat ini dia sedang merasa jika dirinya begitu berharga untuk Gara. "Terima kasih untuk semuanya, aku mencintaimu"


Gara tersenyum mendengar itu, dia melajukan kembali mobilnya ketika lampu lalu lintas telah berubah menjadi hijau. Mengemudi dengan satu tangannya masih menggenggam tangan Vania dan sesekali mengecupnya dengan lembut.

__ADS_1


"Sayang, lepasin ihh. Kamu lagi nyetir juga, harus fokus"


"Aku fokus menyetir kok"


Vania hanya menghela nafas pelan, memang seperti inilah Gara. Dia selalu mengatakan jika dirinya fokus mengemudi di saat sebelah tangannya malah menggenggam tangan Vania.


Aku jadi ingat dengan kejadian dulu.


Tiba-tiba saja Vania mengingat tentang kejadian di masa lalu. Dimana Gara yang mengemudikan mobilnya, namun dengan satu tangan yang menggenggam tangan Vania seperti saat ini. Dan pada akhirnya Gara tidak sengaja menyerempet gerobak milik pedagang pinggir jalan. Beruntung karena tidak si penjualnya yang terserempet mobil Gara. Tapi tetap saja karena dia yang harus mengganti rugi semuanya.


"Kamu kenapa? Senyum-senyum gak jelas kayak gitu?" Gara merasa heran ketika melihat istrinya yang tersenyum sendiri tanpa sebab.


"Tidak papa, aku hanya sedang mengingat kejadian masa lalu. Saat kamu menyerempet gerobak cendol di pinggir jalan"


"Apasi kamu ini, yang diingat malah kejadian itu. Bukan tentang keromantisan kita di masa lalu"


"Ish kamu ini"


Vania hanya terkekeh melihat wajah kesal dan malu Gara. Mungkin kejadian itu membuat Gara malu, tapi kejadian itu justru membuat Vania tertawa bahagia. Merasa jika saat itu dirinya dan Gara tidak pernah berfikir akan sampai berpisah seperti ini. Mereka adalah pasangan kekasih yang bahagia dan saling mencintai selama ini. Jadi tidak pernah terfikirkan sedikit pun jika pada akhirnya mereka akan berpisah selama 5 tahun terakhir, dan baru kembali dipertemukan saat ini.


"Sayang, mau makan dulu? Perjalanan masih cukup panjang, sudah waktunya jam makan siang juga"


Vania melirik jam tangan kecil yang mingkar di lengan mungilnya. "Emm. Boleh, lagian aku juga sudah lapar"


Gara mengangguk, dia mencari tempat makan di sekitar jalanan yang dilewatinya. Lalu menghentikan mobilnya di depan Restaurant itu dan turun dari dalam mobil.


"Sayang, ayo turun" Gara membukakan pintu mobil untuk istrinya ini. Vania tersenyum dan segera turun dari dalam mobil.

__ADS_1


Masuk ke dalam Restaurant dengan bergandengan tangan. Vania dan Gara memilih untuk duduk di meja dekat jendela. Mereka juga telah memesan makanan dan tinggal menunggu pesanan mereka datang.


"Sayang sepertinya kita harus buka usaha di sana. Aku tidak bisa kalau bekerja di perusahaan orang lain dan hanya menerima gaji saja. Bagaimana jika kita membuka usaha saja?"


Vania tersenyum mendengar suaminya yang mulai membicarakan tujuan hidup mereka kedepannya. "Aku menurut saja pada kamu. Terserah kamu mau membuka usaha apa, aku siap membantu kamu. Tapi kalau misalkan aku kembali bekerja di toko bunga bagaimana?"


Gara langsung menggeleng mendengar pertanyaan dari istrinya itu. "Aku rasa sebaiknya tidak usah, kamu harus fokus mengurus Gevin di rumah. Apalagi sebentar lagi Gevin juga masuk sekolah 'kan. Jadi kamu di rumah saja, hanya perlu mendukung aku dan selalu ada disampingku"


Vania meraih tangan Gara yang berada di atas meja. Menggenggamnya dengan lembut. "Sayang, aku akan selalu mendukung kamu dan selalu ada di samping kamu apapun yang terjadi"


Gara tersenyum, dia begitu bersyukur karena disaat dia susah pun, Vania tetap ada disampingnya dan mendukungnya.


"Terima kasih untuk semuanya, kamu memang wanita paling hebat. Bahkan kamu bisa membesarkan Gevin seorang diri tanpa ada aku disamping kamu"


"Tidak papa, aku sudah menerima semua takdir yang sedang aku jalani dan yang telah aku jalani. Sekarang adalah saatnya kita untuk bahagia bersama"


Ya, semuanya sudah terjadi dan tidak akan bisa diubah apapun lagi. Vania hanya perlu menerima apa yang telah terjadi dan menjalani apa yang sedang terjadi saat ini.


Pesanan mereka datang, dan mereka pun langsung memakannya dengan tenang. Hingga suara seseorang yang memanggil Vania membuat dia menghentikan sejenak makannya itu.


"Vania"


Vania menoleh dan terdiam ketika melihat seorang wanita paruh baya yang berjalan ke arahnya. Sebenarnya Vania sangat tidak ingin bertemu dengan wanita ini. Namun entah kenapa mereka malah di pertemukan di tempat ini sekarang.


"Tante"


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2