Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 31 #Salah Sendiri Tidak Memakai Baju?!#


__ADS_3

Gara menghela nafas pelan ketika dia masuk ke dalam kamar. Dia baru saja menyelesaikan makan siang bersama anak dan istrinya. Gara sedikit kefikiran tentang berita yang sedang menyebar saat ini. Mungkin Vania memang sudah mengetahuinya sejak awal. Tapi dia selalu mencoba untuk terlihat baik-baik saja.


Beruntung karena Vania yang selalu mengerti hingga Gevin pun tidak banyak lagi bertanya padanya ketika Vania sudah menjelaskan semuanya dengan cerita yang dia karang sendiri. Tentu bukan seperti cerita yang sebenarnya terjadi.


"Sayang, kamu gak pergi lagi?" Vania merasa heran ketika melihat Gara yang masuk ke dalam kamar dan tidak kembali bekerja. Karena biasanya Gara akan langsung kembali bekerja setelah makan siang.


Gara menghampiri Vania yang sedang melipat pakaian kering di atas tempat tidur. Gara duduk di pinggir tempat tidur dan tiba-tiba memeluk Vania dengan erat.


"Sayang, aku minta maaf karena tidak tahu soal kabar berita itu. Pasti kamu sangat kepikiran selama ini"


Vania tersenyum, dia mengelus kepala Gara yang berada di bahunya. "Tidak Sayang, kamu tidak salah apapun. Aku tidak papa"


"Maaf ya, karena aku belum bisa membuatmu bahagia?" Gara meraih tangan Vania yang sedikit kasar, mengecupnya dengan lembut.


"Apa maksudmu? Aku jelas sangar bahagia bersamamu"


"Tapi, tanganmu ini bahkan sudah banyak mengerjakan banyak pekerjaan rumah. Maaf karena aku belum bisa membuat kamu bahagia"


"Sayang, apaan si? Aku bahagia bersama kamu. Kalau soal membereskan pekerjaan rumah, memang sudah menjadi tugas aku sebagai istri. Lagian aku juga sudah terbiasa"


Gara memeluk Vania dengan erat, mengecup pipinya dengan lembut. "Terima kasih Sayang, karena sudah memberikan aku yang terbaik"


Vania hanya tersenyum mendengar itu, melanjutkan pekerjaannya yang sedang melipat pakaian. Mengerutkan keningnya ketika tangan Gara yang mengelus perutnya dengan lembut. "Sayang ngapain si? Geli tahu"


"Sayang, kapan kamu hamil lagi? Aku ingin mengganti masa-masa ketika Gevin berada dalam kandunaganmu. Aku ingin menemani masa kehamilanmu"


Vania terdiam mendengar ucapan suaminya itu, menghela nafas pelan lalu dia memegang tangan Gara yang berada di perutnya. "Mungkin jika Tuhan sudah memberikan, aku pasti hamil kok"


Gara mengangguk pelan, dia melepaskan pelukannya dengan memberikan kecupan di pipi istrinya itu. "Aku kembali bekerja ya"


"Iya Sayang, semangat bekerjanya"


Gara tersenyum dan mengangguk, dan dia kembali ke tempat kerjanya. Memeriksa apa sudah ada yang berlangganan pada jasa delivery miliknya ini atau belum. Padahal Gara sudah memberikan banyak diskon. Tapi ternyata masih belum ada yang mempercayai jasa delivery miliknya ini. Membuat Gara menjadi frustasi sendiri.

__ADS_1


Gara semakin merasa bingung dan selalu ingin menyerah dengan usaha yang sedang dia mulai ini. Tapi mengingat perjuangannya untuk sampai disini hanya agar bisa bersama dengan Vania dan anaknya adalah suatu hal yang tidak mudah.


Vania tersenyum hangat ketika suaminya kembali dengan wajah lelah. Mengalungkan tangannya di leher Gara dengan manja. "Sayang, mau mandi dulu atau mandi dulu?"


Vania sengaja tidak menanyakan tentang keadaan pekerjaan Gara, karena dengan melihat wajah Gara yang lelah saja sudah sangat jelas bagi Vania jika suaminya itu sedang tidakbaik-baik saja dalam pekerjaannya saat ini.


Namun Vania sengaja tidak mengungkitnya karena memang dia tidak mau suaminya semakin pusing dan merasa terbebani dengan semua ini. Vania hanya mencoba untuk menjadi istri yang mendukung penuh apa yang dilakukan suaminya,  selagi dalam hal yang baik.


Cup..


Gara mengecup bibi istrinya, merasa rasa lelahnya langsung hilang ketika dia melihat senyum manja istrinya itu. "Aku akan mandi dulu, kau tunggu saja  disini. Tidak perlu menyiapkan air untuk aku mandi. Aku bisa sendiri"


"Baiklah, kalau begitu biar aku menyiapkan makan malam saja untuk kita"


######


Malam ini Gara terlihat lebih murung dari biasanya. Vania menghampirinya, dia naik ke atas tempat tidur dan memijat kaki suaminya itu.


"Sayang.." Gara yang sedang fokus pada layar laptop di depannya langsung terkejut ketika merasakan pijatan di kakinya itu.


Gara menutup layar laptop dan menyimpannya diatas nakas samping tempat tidur. "Sayang, kenapa kamu selalu  bersikap seolah aku adalah suami yang terbaik untuk kamu"


"Ya karena memang kamu adalah suami terbaik"


Karena bagi Vania bukan hanya tentang harta dan kekayaan yang berlimpah. Tapi juga kasih sayang dan ketulusan yang Vania inginkan ketika dia menjalin sebuah hubungan yang lebih serius.


Entah sejak kapan posisi keduanya malah terbalik sekarang, Gara meminta Vania untuk tiduran dan dia yang akan memijatnya. Dan Vania hanya menurut saja, dia tidur tengkurap di samping Gara.


"Kamu juga pasti lelah seharian ini mengerjakan banyak tugas rumah. Jadi sekarang biar aku yang memijatmu"


"Sayang, tidak usah. Aku tidak sakit badan kok, jadi tidak perlu di pijat segala"


"Sudah diam saja, sekarang buka bajumu!"

__ADS_1


Hah.. Apa maksudnya meminta membuka baju? Ini hanya pijat biasa bukan spa.


"Tidak usah Sayang, pijat pundak aku saja"


Vania mulai merasakan sinyal bahaya yang lebih dari pijat memijat.


"Buka!"


Dan Gara yang tidak mau menyerah membuat Vania akhirnya tidak bisa menolak. Dia membuka baju tidurnya. Awalnya benar-benar hanya sebuah pijatan biasa. Tidak ada hal yang aneh dan mencurigakan.


Namun ketika Gara meminta Vania untuk berbalik semuanya benar-benar  berbeda. Meski Vania sempat menolak ketika Gara yang memintanya untuk berbalik sementara dirinya sedang dalam keadaan polos tanpa busana.


"Sayang kau mau apa?"


"Salah sendiri karena kamu tidak memakai baju"


Dan pada akhirnya semuanya dimulai dari kecupan di bibir.Berlanjut pada hal lain yang memang sudah biasa mereka lakukan hampir setiap malam.


######


"Pokoknya aku masih tidak rela Gara menceraikan aku"


Di tempat yang berbeda ada Yunita yang sedang merasa sangat kecewa dan marah ketika Gara yang menceraikannya dan memilih wanita bernama Vania.


"Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu bahagia begitu saja diatas penderitaanku!"


Entah apa yang direncanakan oleh Yunita. Namun dia merasa sangat dikhianati dan kecewa pada Gara. Yunita benar-benar tidak bisa membiarkan Gara hidup dengan tenang. Sementara dirinya sedang terluka dan sangat tersakiti dengan semua ini.


Yunita mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Temui aku di Restaurant xx, ada yang ingin  aku bicarakan"


Yunita langsung memutuskan sambungan teleponnya. Dia tersenyum melihat layar ponselnya sendiri yang masih terpasang foto dirinya da Gara disana.

__ADS_1


"Lihatlah, aku yakin kamu tidak akan bertahan lama dengan kondisi ini Gara. Kamu akan kembali padaku dan meninggalkan wanita itu"


Bersambung


__ADS_2