
Vania tidak bisa menahan tangisnya ketika dia mengantar Gevin ke ruang operasi. Gara terus merangkul istrinya yang terlihat sangat lemah. Gara terus mencoba untuk menguatkan Vania agar tidak terlalu lemah.
"Sayang tenang ya, Gevin pasti akan baik-baik saja"
Lampu diatas pintu ruangan operasi menyala, tanda operasi sudah di mulai. Vania hanya bisa berdo'a agar semuanya berjalan lancar. Gara hanya bisa menenangkan istrinya yang sedang dipenuhi kekhawatiran dan cemas. Sebenarnya Gara juga merasakan hal yang sama. Tapi dai hanya berpura-pura tegar agar istrinya juga bisa lebih tegar.
"Kita berdo'a saja agar Gevin sembuh dan operasinya berjalan dengan lancar"
Vania hanya mengangguk dengan mengusap sisa air mata yang ada di ujung matanya. "Mama kemana Sayang?"
"Mama harus pulang lebih dulu, dia tidak bisa terus berada disini. Sementara Papa akan curiga jika Mama lama tidak pulang"
Vania mengangguk mengerti mendengar itu.
Dan di tempat yang berbeda, Mama baru saja masuk ke dalam rumah. Dia langsung disambut oleh tatapan tajam suaminya. Mama hanya mampu menghela nafas pelan melihat tatapan tajam suaminya itu.
"Darimana kamu?"
"Menemui anakku"
Kening Papa langsung berkerut tajam ketika dia mendengar jawaban Mama barusan. "Berani sekali kau menemui anak yang tidak mau menurut pada orang tua itu"
"Jelas Gara tidak akan menuruti perkataan Papa. Karena dia tahu mana yang harus dia perjuangkan saat ini"
Papa berdiri dari duduknya, menatap tajam pada istrinys itu. "Apa menikah secara diam-diam disaat dia mempunyai istri adalah hal yang patut untuk diperjuangkan?"
Mama tersenyum tipis, sedikit pun dia tidak merasa takut dengan tatapan suaminya itu. Karena Mama hidup dengannya bukan hanya baru satu tahun, tapi sudah puluhan tahun. Mama jelas tahu bagaimana sikap keras kepala suaminya ini. Jadi saat ini Mama hanya ingin sedikit saja meluluhkan sifat keras kepala suaminya itu.
"Asal Papa tahu, saat ini Gara sedang berjuang menjadi suami yang bertanggung jawab. Dia sedang berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk anak dan istrinya"
Deg..
Seketika tubuh Papa mematung mendengar ucapan istrinya itu. "Anak dan istrinya? Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Ya, Gara telah mempunyai anak dari Vania. Gadis itu pergi meninggalkan Gara disaat dia sedang mengandung anaknya Gara, cucu kita"
Semakin terkejut Papa menengar itu, dia tidak bisa memikirkan hal yang telah dia lakukan selama ini pada gadis yang dicintai anaknya itu.
"Dan sekarang cucu kita itu sedang sakit parah, mungkin pagi ini dia sudah menjalani operasi"
"Bawa aku menemuinya sekarang!"
Mama hanya tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi wajah suaminya itu.
#####
Operasi berjalan lancar, Vania dan Gara bisa lebih tenang ketika Dokter sudah menjelaskan jika keadaan Gevin sudah baik-baik saja. Hanya tinggal masa pemulihan saja.
"Sayang, kamu makan dulu ya. Sejak tadi belum makan. Bahkan sejak kemarin tidak benar makan"
"Iya Va, itu Ibu membawa makanan kesukaan kamu dan Gevin" kata Ibu yang baru saja datang bersama Jenny untuk menjenguk Gevin.
"Aku belum ingin makan Bu, biar nanti saja"
"Kamu juga harus menjaga kesehatan kamu. Kalau sampai kamu sakit, nanti siapa yang akan merawat Gevin sampai sembuh. Kamu tahu sendiri bagaimana keadaan Gevin saat ini. Jadi kamu tidak perlu terlalu khawatir lagi, Gevin pasti akan baik-baik saja"
Vania memeluk pinggang suaminya yang berdiri di depannya itu. Wajahnya mendongak untuk menatap wajah suaminya. "Sayang, aku benar-benar belum ingin makan. Nanti saja ya"
Gara mengelus kepala Vania, sedikit merapikan anak rambut Vania yang menghalangi wajahnya. "Makan sedikit saja, biar aku yang suapi ya"
"Udah nurut aja Va, kamu itu sudah punya suami yang sayang banget sama kamu. Bahkan sepertinya lebih sayang sama kamu daripada dirinya sendiri"
Vania tersenyum ke arah Jenny yang sedang mengoceh itu. Gadis dengan usia yang sudah matang untuk menikah. Tapi entah kenapa Jenny seolah belum memikirkan tentang hal pernikahan. Entah apa yang dia takuti dengan pernikahan.
"Iya Kak"
Akhirnya dengan lembut dan penuh kasih sayang, Gara menyuapi Vania makan dengan segala bujukan agar istrinya itu mau makan. Hingga sepiring makanan sudah habis dimakan oleh Vania, meski dengan sedikit banyak drama.
__ADS_1
"Minum dulu" Gara menyodorkan segelas air pada Vania yang langsung menerimanya dan meminumnya.
"Pintar, nanti makan lagi ya. Ingat Sayang, kamu juga harus menjaga kesehatan agar bisa terus menjaga Gevin hingga dia sembuh"
Vania hanya mengangguk kecil, dia beralih menatap kembali anaknya yang masih belum sadarkan diri. Vania menghembuskan nafas pelan, dia meraih tangan mungil Gevin dan menciumnya dengan lembut.
"Cepat sembuh ya Nak, Ibu ingin melihat lagi keceriaan kamu"
Hidupnya selama ini hanya bersama Gevin, dan sumber semangatnya adalah Gevin. Hingga Vania kembali bertemu dengan Gara dan menikah dengannya. Yang jelas hanya Gevin yang menjadi penyemangat hidupnya selama dia hidup tanpa Gara selama ini.
Gara merangkul bahu istrinya, dia juga berharap anaknya akan segera sadar dan dia dalam keadaan yang baik-baik saja.
"Va, Ibu dan Jenny akan pulang dulu. Mungkin akan kesini lagi nanti kalau Gevin sudah sadar"
"Iya Va, aku juga harus mengantar pesanan bunga dulu"
Vania mengangguk, dia sudah sangat bersyukur dengan adanya Jenny dan Ibu. Maka Vania tidak pernah merasa sendiri. Vania merasa mempunyai keluarga lagi sekarang.
"Iya Bu, Kak. Lebih baik kalian pulang dulu saja. Tidak papa karena aku juga ada Gara yang menemani disini"
"Iya Va"
Dan setelah kepergian Ibu dan Jenny, beberapa saat kemudian pintu ruangan kembali terbuka. Vania dan Gara mengira jika itu adalah perawat yang memang ingin mengecek keadaan Gevin. Namu ketika mereka menoleh dan melihat siapa yang masuk, keduanya langsung terdiam.
"Mau apa Papa datang kesini? Ingat ya Pa, jangan membuat istriku terluka lagi. Dia sudah banyak melewati banyak hal sulit selama ini"
Vania langsung berdiri dan menggenggam tangan Gara yang langsung emosi ketika dia melihat Ayahnya datang kesini. "Sayang tenang, kamu jangan marah-marah begitu sama Papa kamu"
"Gara, Papa kamu datang kesini bukan untuk mencari masalah lagi denganmu" Mama mencoba untuk meredam emosi anaknya yang pasti akan merasa jika Ayahnya datang hanya untuk memisahkan Gara dan Vania, seperti yang dilakukannya beberapa tahun lalu.
"Papa datang kesini karena Papa ingin melihat cucu Papa ini"
Deg..
__ADS_1
Gara dan Vania mematung seketika mendengar ucapan Papa. Merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.
Bersambung