
Vania dibuat terkejut pagi ini dengan Gevin yang tiba-tiba muntah. Lalu dia melihat ada sedikit darah yang mengalir dari hidung Gevin. Vania semakin panik saja, dia membersihkan hidung Gevin yang sedikit berdarah itu.
"Nak, kamu kenapa bisa seperti ini? Ya ampun kamu demam ya"
"Kepala Gevin pusing Bu" lirih Gevin dengan mata yang mulai terpejam dan akhirnya tidak sadarkan diri.
"Sayang, bangun Nak. Gevin bangun"
Vania benar-benar panik melihat anaknya yang sampai tidak sadarkan diri. Vania tidak pernah melihat Gevin yang seperti ini sekarang. Vania mengendong Gevin dan membawanya keluar dari apartemen dengan tangan yang sibuk menelepon taksi.
Vania sampai di lobby Apartemen, dia menghela nafas lega ketika melihat taksi yang da hubungi juga baru sampai di depan Apartemen ini. Vania segera naik ke dalam taksi dengan memangku Gevin yang sangat lemah.
"Nak, apa yang sakit Nak?"
"Perut Gevin sakit Bu, kepala Gevin juga sangat pusing"
"Sabar ya, kita akan segera sampai di rumah sakit. Gevin akan segera di periksa oleh Dokter"
Vania benar-benar panik dan bingung dengan keadaan ini. Dia sangat takut jika anaknya akan kenapa-napa. Vania hanya bisa berharap agar anaknya tidak mempunyai penyakit yang serius saat ini.
Sampai di rumah sakit, Vania segera membawa Gevin ke ruang pemeriksaan. Vania hanya bisa menunggu diluar ruangan ketika Gevin yang sedang di periksa di dalam ruangan.
Ya Tuhan, tolong sembuhkan anakku. Jangan biarkan dia menderita sakit yang parah diusianya yang masih sangat kecil ini.
Vania merogoh ponselnya dari dalam tas selempang yang dia bawa. Dia lupa jika dirinya belum menghubungi suaminya tentang kejadian hari ini. Tadi pagi Gara sudah pergi bekerja sebelum Gevin bangun.
"Hallo Sayang..Hiks.." Vania benar-benar tidak bisa lagi menahan tangisannya, Membuat dia malah sedikit sulit untuk menceritakan tentang Gevin pada Gara. Vania benar-benar dibuat panik dan bingung.
"Sayang kenapa? Ada apa?"
Vania mengusap kasar air mata yang menetes di pipinya. "Gevin sakit, sekarang dia sedang berada di rumah sakit"
Gara tentu saja terkejut mendengar ucapan istrinya itu. "Kamu tenang ya, aku akan segera kesana"
Vania mengangguk, meski dia sadar jika suaminya tidak akan melihatnya. Vania kembali memasukan ponselnya ke dalam tas. Menatap pintu ruangan yang masih belum juga terbuka sampai saat ini. Membuat Vania semakin panik saja. "Kenapa lama sekali? Ya Tuhan semoga Gevin tidak kenapa-napa"
Vania hanya berjalan mondar-mandir di depan ruangan itu. Menunggu Dokter segera keluar dari dalam ruangan dan mengatakan jika Gevin baik-baik saja.
__ADS_1
"Ibunya Gevin"
Vania langsung berbalik ketika mendengar panggilan itu. Dia menatap Dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan itu.
"Saya Dok, bagaimana keadaan anak saya?"
"Mari ikut ke ruangan saya"
Vania merasa bingung dan cemas ketika Dokter malah meminta dirinya untuk ikut ke ruangannya. Meski sebenarnya Vania tidak tahu apa yang akan Dokter jelaskan padanya.
Duduk berhadapan di meja kerja Dokter, Vania mulai merasa jika ada yang tidak beres dengan keadaan Gevin saat ini.
"Saya masih belum bisa memastikan, tapi menurut perkiraan sementara jika Gevin mengalami kerusakan pada ginjalnya"
Deg..
Seketika tubuh Vania bergetar dan terasa sangat lemas ketika dia mendengar ucapan Dokter barusan. "Lalu apa yang bisa saya lakukan Dok?"
"Kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut agar kami bisa benr-benar memastikan sampai mana kerusakan yang dialami oleh anak Ibu"
"Kami akan melakukan yang terbaik"
Vania berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan tatapan kosong. Mengingat kembali perkataan Dokter, benar-benar membuat dirinya lemas.
Ya Tuhan, kenapa semua cobaan terus datang pada keluarga kami.
Terkadang Vania ingin sekali menyalahkan takdir Tuhan. Karena rasanya cobaan dan masalah yang terus datang menghampirinya.
"Sayang.."
Vania mengerjap kaget ketika diam mendengar suara suaminya itu. Vania langsung berlari ke arah Gara dan memeluknya dengan tangisannya yang kembali pecah.
"Sayang, bagaimana keadaan Gevin? Dia tidak papa 'kan?"
Tangisan Vania malah semakin menjadi ketika mendengar pertanyaan Gara barusan.
"Sayang ada apa? Gevin baik-baik saja 'kan?"
__ADS_1
Entah kenapa perasaan Gara menjadi tidak tenang. Merasa jika ada hal yang tidak baik yang akan dia dengar saat ini.
"Ge-gevin.. Hiks.. Gevin mengalami kerusakan ginjal Sayang.. Hiks..Hiks.."
Tubuh Gara mematung mendengarnya, dia tidak menyangka jika anaknya akan mengalami penyakit parah seperti itu diusianya yang masih kecil.
"Sayang tenang ya, Gevin pasti akan sembuh. Aku akan berusaha untuk kesembuhan Gevin"
Meski Gara bingung dan cemas dengan keadaan anaknya saat ini. Tapi dia tetap harus terlihat tegar di depan istrinya yang sudah sangat rapuh ini.
Vania mendongak dan menatap suaminya dengan tangan yang masih memeluk pinggang suaminya itu. "Kalau Gevn tidak bisa bertahan bagaimana?"
Gara menggeleng pelan, dia mengecup kening istrinya dengan lembut. "Gevin anak yang kuat, dan dia pasti akan bisa melewati semua ini. Kamu tenang saja, aku akan menemui Dokter dan menanyakan pengobatan terbaik untuk Gevin"
Vania mengangguk, dia mencoba untuk percaya pada suaminya itu. Vania masuk ke dalam ruangan Gevin, dan Gara pergi menuju ruangan Dokter untuk menanyakan lebih lanjut tentang kesehatan anaknya itu.
Duduk di depan meja kerja Dokter dan menjelaskan apa tujuannya datangg kesini. Dan Dokter juga memberikan penjelasan yang sama seperti ketika dia menjelaskan pada Vania.
"Lalu jika memang kerusakannya parah, tindakan apa yang harus diambil?" tanya Gara
"Jalan terbaik adalah mendapatkan donor ginjal dan melakukan transplantasi ginjal"
Gara terdiam mendengar itu, jelas dia sudah mengira jika melakukan operasi itu pasti akan membutuhkan banyak biaya. Sementara keadaan Gara saat ini benar-benar tidak mempunyai cukup banyak uang untuk biaya operasi Gevin nantinya.
Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini.
Gara mulai merasa bingung sendiri dengan semua ini. Pengobatan Gevin ke depannya sudah pasti akan membutuhkan cukup biaya yang besar. Sementara keuangan Gara sedang sangat menipis saat ini. Entah apa yang akan Gara lakukan selanjutnya.
Gara kembali ke ruangan Gevin, dan melihat anak itu sudah sadarkan diri. Gevin sedang disuapi makan oleh Vania. Gara menghampirinya dan duduk di kursi samping ranjang pasien.
"Bagaimana keadaan Gevin sekarang?"
"Gevin baik Pa, lagian kan Gevin emang anak kuat"
Gara tersenyum, namun dengan air matanya yang berkaca-kaca. Dia menatap Vania yang terlihat sedih dengan keadaan anaknya. Gara meraih tangan Vania dan menggenggamnya. Tersenyum pada istrinya untuk mencoba menguatkan Vania dari segala cobaan yang sedang menimpa mereka saat ini.
Bersambung
__ADS_1