
Gara langdung terdiam mendengar ucapan istrinya itu. "Apa maksudmu? Pembawa sial apanya?"
"Enggak, aku hanya bertanya saja. Soalnya semenjak sama aku, kamu jadi banyak masalah"
"Sayang, semua masalah yang datang bukan karena kamu bersama aku. Tapi memang sudah ada yang mengaturnya, lagian siapa yang berpikir kamu adalah pembawa sial? Jangan aneh-aneh deh Sayang"
Vania terdiam mendengar ucapan suaminya itu. Dia mneghembuskan nafas pelan. "Sayang, aku hanya takut jika kamu akan semakin kesusahan ketika kamu bersamaku"
"Aku tidak pernah susah meski sebesar apapun masalah yang akan menimpaku. Asalkan kau tetap bersamaku dan berada disampngku. Faham?!"
Vania hanya mengangguk, meski hatinya masih memikirkan tentang kejadian tadi. Perkataan Yunita juga masih jelas terdengar di telinganya. Vania benar-benar takut jika memang benar dirinya yang membuat Gara jadi mendapatkan banyak masalah dalam hidupnya ini.
"Sudahlah, jangan memikirkan apapun. Kamu hanya perlu tetap bersamaku dan mendukung aku. Jangan pernah berfikir hal yang aneh-aneh seperti itu"
Vania mengangguk, dia keluar dari dalam bak mandi diikuti suaminya. Membersihkan sisa busa di tubuhnya di bawah guyuran air shower.
Selesai mandi, Vania segera membuat makan malam untuk mereka berdua. Gara yang baru saja datang ke dapur langsung memeluk istrinya itu, mengecup pipinya dengan lembut.
"Mau makan apa nanti malam?"
"Apa saja, selama yang kamu buat pasti aku suka dan akan memakannya"
Vania tersenyum mendengar itu, karena memang terbukti bagaimana Gara yang selalu menghabiskan setiap makanan yang dia masak.
"Sayang, kapan-kapan kita berkunjung ke rumah Mama dan bawa Gevin. Dia 'kan belum pernah di bawa ke rumah Omanya"
Vania terdiam mendengar itu, ya memang Gevin belum pernah dibawa ke rumah orang tua Gara. Tapi untuk pergi ke rumah itu lagi apa Vania akan siap? Sementara dia saja tahu bagaimana Papa yang tidak menyukainya.
"Ya terserah kamu saja"
__ADS_1
Meski Vania tidak ingin, tapi rasanya tidak mungkin jika dia harus menolak ajakan suaminya yang ingin menemui orang tuanya. Vania juga tidak mau merusak hubungan anak dan kedua orang tuanya.
Selesai makan malam, mereka sempatkan untuk bersantai sejenak di ruang tengah dengan televisi yang menyala. Gara memeluk istrinya dari belakang dengan duduk bersandar di sofa bed.
"Sayang, nanti kalau kita ke iBu kota aku ingin ke makam kedua orang tuaku ya"
"Iya Sayang, aku juga tidak tahu dimana makam kedua orang tuamu itu. Memangnya mereka meninggal karena apa?"
Vania terdiam, dia bahkan tidak mampu mengingat kejadian yang hampir membuatnya gila karena rasa bersalah. Tidak. Sebenarnya Vania tidak perlu merasa bersalah karena dirinya juga tidak melakukan kesalahan apa-apa. Vania hanya mencoba menyelamatkan diri, apa itu salah?
Gara menyadari perubahan Vania pada saat dia menanyakan penyebab orang tuanya meninggal. Hal itu membuat Gara merasa bersalah. Dia mengeratkan pelukannya dengan mengecup lama puncak kepala istrinya.
"Sudah tidak perlu di ingat-ingat lagi jika memang semua itu hanya akan membuat kamu terluka dan bersedih"
Vania menghembuskan nafas kasar, dia memegang lengan Gara yang ada di perutnya. "Sebenarnya kedua orang tuaku memang meninggal karena seorang perampok yang datang ke rumah kami dan membantai habis Ayah dan Ibu. Dan aku bisa melarikan diri pada saat itu, bukan karena aku tidak peduli pada kedua orang tuaku. Tapi aku hanya berusaha untuk menyelamatkan diri saja. Apa aku salah?"
Gara benar-benar tidak tahu soal cerita ini, dia bisa merasakan bagaimana tubuh istrinya bergetar hebat ketika dia menceritakan hal itu. Gara tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Vania ketika dia harus mengalami hal yang begitu menyakitkan dalam hidupnya.
"Sudah Sayang, jangan diteruskan ceritanya lagi. Aku tahu kamu tidak salah"
Gara memeluk erat istrinya yang menangis begitu memilukan. Gara tahu jika Vania memang serapuh ini. Selama ini dia hanya menunjukan ketegarannya pada semua orang hanya karena dia tidak mau dianggap lemah oleh orang-orang.
"Sudah ya, jangan menangis terus. Kamu hanya perlu banyak mendo'akan kedua orang tua kamu. Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri karena kedua orang tua kamu juga tidak akan senang melihat kamu yang terus bersedih seperti ini"
######
Pagi ini Vania terbangun dengan perutnya yang terasa sakit. Dia merasakan sesuatu mengalir di bagian kakinya. Vania segera bangun dan menyingkap selimutnya. Benar saja ada bercak merah di sprei putih itu.
Vania menghela nafas pelan, dia segera turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke ruang ganti. Mandi dan membersihkan tubuhnya dari kotoran darah menstruasi. Selesai mandi, Vania segera mengambil sprei dan selimut yang terkena darah itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu sudah bangun" Gara muncul di balik pintu ruang ganti. Melihat Vania yang sedang memasukan seprei dan selimut kotor ke keranjang pakaian kotor.
"Lagi mau nyuci, aku datang bulan dan kena sprei dan selimut"
Gara langsung menghampiri istrinya, sejak dulu dia tahu jika Vania sedang datang bulan maka Vania akan merasakan sakit di bagian perutnya. "Sayang apa perutmu sakit? Sudah tidak perlu nyuci, laundry saja"
Vania tersenyum, dia tidak menyangka jika suaminya masih seperhatian dulu ketika dia mengalami datang bulan. Bahkan ketika dulu masih pacaran, Gara rela datang malam-malam ke kosan Vania hanya untuk mengantarkan obat pereda nyeri saat datang bulan.
"Tidak papa Sayang, cuma sedikit nyeri saja"
"Tuhkan, sudah tidak perlu mencuci pkaian. Biar di laundry saja"
Gara langsung menggiring Vania keluar dari ruang ganti dan membawanya ke kamar. "Mau aku belikan obat pereda nyeri?"
"Tidak usah, lagian tidak terlalu sakit juga"
"Sayang, jangan pernah menahan sakit. Aku tahu jika kamu kesakitan tapi mencoba menahannya. Kalau sakit bilang saja sakit."
Vania meraih tangan suaminya dan mengecup pungung tangan suaminya itu. Sikap Gara masih sama, dai selalu khawatir ketika melihat Vania yang kesakitan. Dan Vania selalu merasa menjadi wanita yang paling beruntung karena bisa merasakan kasih sayang dari Gara yang begitu tulus.
"Aku tidak papa, jadi kamu tidak perlu sepanik ini"
"Yaudah kamu istirahat saja, biar nanti aku yang menjemput Gevin di rumah Ibu. Kamu jangan kemana-mana"
"Iya Sayang"
DIsaat suaminya ini sednag panik dan khawatir seperti ini. Tentu saja Vania tidak akan berani membantah ucapannya. Karena Gara pasti akan marah jika Vania melawannya ketika yang Gara pikirkan saat ini jika istrinya memang sedang sakit dan tidak boleh melakukan banyak hal yang akan membuat lelah.
Aku benar-benar merasa menjadi seorang Ratu ketika suamiku memperlakukan aku seperti ini. Terima kasih Ya Tuhan, karena sudah mempersatukan kami.
__ADS_1
Bersambung