Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 42 #Pergilah Dan Bantu Perusahaan Papa#


__ADS_3

Bisnis yang dilakukan Gara dan Jayden sudah lebih baik sekarang. Gara msih tidak mau menerima tawaran Papa yang menginginkan dia untuk kembali ke peusahaannya di Ibu kota. Gara kembali ke rumah setelah dia berada di tempat kerja seharian ini.


"Sayang, sudah pulang ya. Ayo sekalian makan malam"


Vania yang sedang menyiapkan masakannya untuk nanti malam langsung tersenyum melihat suaminya yang baru saja pulang bekerja. Gara langsung menghampiri Vania dan memeluk istrinya itu dari belakang.


"Kok sudah masak, bukannya kamu sedang sakit perut ya karena datang bulan?"


Vania tersenyum mendengar suaminya yang selalu perhatian padanya hingga Vania merasa jika dirinya adalah pria yang paling beruntung di dunia ini.


"Aku 'kan cuma datang bulan Sayang, bukan orang sakit yang kayak gimana. Kamu gak perlu terlalu khawatir sama aku"


"Ya, karena aku sangat mencintaimu sampai aku tidak bisa melihat kamu sakit sedikit saja"


Vania memegang tangan Gara yang berada diperutnya. "Terima kasih karena kamu sudah begitu mencintaiku"


"Ibu, aku lapar"


Vania langsung ingin melepaskan tangan Gara yang berada di perutnya ketika dia mendengar suara Gevin. Tapi Gara malah semakin mengeratkan pelukannya pada Vania, Gara merasa biasa saja ketika anaknya datang dan mungkin akan melihat orang tuanya sedang bermesraan. Sementara Vania merasa malu dan tidak enak jika anaknya melihat kemesraan orang tuanya.


"Kenapa memangnya? BIarkan saja Gevin melihat kemesraan kita, selagi masih dalam batas wajar"


"Ibu aku ingin makan"


"Iya Nak, sebentar ya biar Ibu ambilkan maka untuk kamu"


Vania melepaskan tangan Gara yang melingkar di perutnya itu. Dan sekarang dia duduk di kursi meja makan dan mengambilkan makanan untuk anaknya.


"Makan sendiri ya"


Gara ikut duduk disamping istrinya, menatap Vania yang selalu memanjakan Gevin dalam hal apapun. "Iya dong, kan Gevin sudah besar. Masa masih disuapi sama Ibu. Makan sendiri ya, kan nanti Gevin akan mempunyai adik. Masa masih makan disuapi sama Ibu"


Vania langsung menatap ke arah Gara, lalu kembali menatap pada Gevin yang juga terlihat antusias saat Gara mengatakan itu.

__ADS_1


"Beneran Pa? Gevin juga ingin mempunyai adik, Gevin bosan sendirian terus"


Vania mneghela nafas pelan, Ayah dan anak memang selalu mempunyai keinginan yang sama. Makanan kesukaannya pun hampir sama semua.


"Tuh Ibu, dengar kata anak kamu. Dia juga menginginkan seorang adik"


Vania hanya mencebikan bibirnya, dia tahu keinginan suaminya dan anaknya. Tapi rasanya Vania masih belum siap untuk mempunyai anak lagi. Dia mengingat perjuangannya saat dia hamil Gevin saja sudah segitu repotnya.


"Udah ayo makan dulu, bahas itu nanti saja. Lagian seorang anak itu dikasih dari Tuhan, jadi kita tidak bisa memaksakan diri"


Gara hanya tersenyum mendengar jawaban istrinya itu. Entah kenapa Gara masih merasa jika Vania masih ragu padanya dan belum benar-benar percaya padanya. Tapi apa yang sebenarnya membuat Vania merasa ragu, padahal Gara jelas sudah memberikan cintanya dan sayangnya hanya untuk Vania seorang.


Selesai makan malam, Vania menemani Gevin untuk nonton acara kartun kesukaannya. Dengan Gevin yang tiduran diatas sofa bed dengan paha Ibunya sebagai bantalan. Vania terus mengelus kepala anaknya dengan lembut.


"Gevin, Ibu mau tanya sama Gevin"


"Tanya apa Bu?"


"Kenapa Gevin ingin mempunyai adik?"


Jawaban Gevin sudah cukup jelas bagi Vania. Anaknya mungkin merasa bosan dan kesepian selama ini karena tidak mempunyai teman. Ya, meski selama berada di rumah Jenny pun, Vania tahu bagaimana Gevin tidak mempunyai teman. Dia tidak pernah mau bermain dengan siapapun, karena Gevin adalah sosok anak yang introvert sejak dini.


"Sayang, kalian disini ternyata. Apa Gevin belum tidur?"


Vania menoleh pada suaminya yang baru saja datang menghampiri mereka. "Udah selesai kerjaannya?"


Gara duduk disamping istrinya, dia memang sempat mengerjakan pekerjaan barusaan. "Sudah selesai, hanya mengecek email yang di kirim sama Papa saja"


Vania menoleh dan menatap suaminya itu dengan kening berkerut. "Kamu udah mutusin untuk kembali bekerja dengan Papa kamu?"


Gara menyandarkan kepalanya di bahu Vania, tangannya ikut mengelus kepala Gevin yang berada di atas pangkuan ibunya. "Sebenarnya aku masih ragu, karena kalau aku kembali bekerja dengan Papa, itu artinya kita harus kembali ke Ibu kota. Saat ini aku hanya membantu Papa untuk memeriksa beberapa laporan dari beberapa tander yang perusahaan Papa ikuti"


Vania mengangguk mengerti, dia memang tidak mempunyai hak untuk melarang Gara kembali pada keluarganya. Meski mungkin Vania tidak siap untuk tinggal kembali di Ibu kota.

__ADS_1


"Sayang tolong angkat Gevin dan bawa ke kamarnya, dia sudah tertidur ternyata"


Gara mengangguk, dia berdiri dan segera menggendong anaknya it. "Kamu duluan saja ke kamar, Gevin biar aku saja yang tidurkan"


"Baiklah"


Vania kembali ke dalam kamar, ketika ponselnya terdengar berdering begitu nyaring. Vania segera mengambil ponselnya yang terletak diatas tempat tidur. Menatap nomor ponsel yang menghubunginya itu.


"Hallo"


"Aku Yunita, kau jangan terus melarang Gara untuk kembali kesini. Apa kau tidak tahu jika perusahaan Ayahnya sekarang sedang kacau dan mungkin sedang diambang kahancuran. Vania,  aku melihat kamu adalah gadis yang polos, tapi ternyata kau sangat licik dan tidak mempunyai hati nurani"


Vania menatap layar ponselnya ketika sambungan telepon langsung terputus setelah Yunita mengatakan itu. Vania duduk dipinggir tempat tidur dengan helaan nafas panjang.


"Apa semuanya salah aku lagi? Semuanya karena aku? Mungkin benar jika aku hanya pembawa sial untuk Gara dan keluarganya juga"


"Tidak ada yang menganggap kamu adalah pembawa sial!"


Vania langsung menoleh ke arah suaminya yang berjalan menghampirinya. Gara duduk diatas lantai tepat di depan Vania yang sedang duduk di pinggir tempat tidur. Meraih tangan Vania dan mengecupnya dengan lembut.


"Sayang, kenapa kamu harus berfikir seperti itu? Siapa yang bilang kalau kamu adalah pembawa sial? Kamu itu adalah anugerah yang diberikan Tuhan untuk aku"


"Perusahaan Papa kamu sedang dalam masalah? Dan seharusnya kamu yang ada disana untuk menyelesaikan semuanya. Iyakan?"


Gara menghela nafas pelan, dia menatap Vania dengan lembut. "Aku bisa membantunya dari sini saja, jadi tidak perlu harus langsung datang kesana"


"Sayang..." Vania menatap Gara dengan lekat, dia tahu jika suaminya itu sedang menyimpan banyak beban dalam hidupnya ini. "...Kamu boleh pergi ke Ibu kota untuk menemui Papa kamu dan memabantunya menyelesaikan masalah di perusahaannya, Aku tidak papa"


"Benarkah? Apa kamu yakin, aku disan juga tidak mungkin hanya satu hari atau dua hari saja"


Sebenarnya Gara masih merasa tidak yakin jika dia harus meningalkan Vania dan Gevin. Tapi ketika semalam Gara mendengar suara tangisan Mama yang memohon untuk dirinya membantu Papa yang sedang ada masalah di perusahaanya. Tentu saja Gara juga tidak tega menolaknya.


"Iya Sayang aku tidak papa. Pergilah dan bantu Papa kamu"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2