Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 45 #Kenapa Bohongi Aku?#


__ADS_3

Akhirnya setelah beberapa minggu berada di Ibu kota dan menyelesaikan masalah yang menimpa Ayahnya. Hari ini Gara bisa kembali lagi ke kota tempat tinggal dirinya dan Vania. Semuanya terselesaikan, meski mungkin saat ini Papa hanya pemegang perusahaan cabang saja karena perusahaan utama sudah di beli oleh Yunita dan telah resmi menjadi milik keluarga Yunita.


Ketika Gara kembali ke Apartemennya, dia melihat istri dan anaknya yang sedang menonton televisi. Gara segera menghampiri mereka dan memeluk istrinya dari belakang sofa. Tangannya melingkar di dada Vania.


"Sayang aku pulang"


"Papa sudah pulang ya, yeayy.." Gevin langsung berjingkrak senang melihat Ayahnya yang sudah kembali.


Gara tertawa melihat itu, dia berjalan mengitari sofa dan memeluk anaknya. "Gevin senang Papa telah kembali, hmm?"


"Iya, Gevin sangat senang Pa"


Gara duduk disamping Vania dengan memangku Gevin. Tapi dia merasa ada yang aneh dengan istrnya. Ya, memang Vania suah terlihat aneh beberapa hari terakhir. Dia kalau Gara telepon hanya menjawab dengan singkat dan begitu dingin. Gara berpikir mungkin hanya karena Vania kesal ditinggalkan Gara terlalu lama.


"Sayang, kamu kenapa diam saja? Apa kamu tidak senang aku pulang? Padahal aku sangat merindukan kamu"


"Aku lelah dan ingin istirahat" Vania berdiri dan berlalu ke kamarnya.


Dia kenapa? Gumam Gara, merasa bingung dengan sikap istrinya ini. "Emm.Gevin, Ibu kenapa? Sepertinya sedang kesal ya?"


Gevin menggeleng pelan, dia memang tidak tahu apa-apa. Gara hanya menghela nafas pelan, merasa bodoh karena dirinya yang bertanya pada anak seusia Gevin.


"Kamu tunggu disini dulu ya Nak, Papa mau melihat Ibu dulu di kamar"


"Iya Pa"


Gara segera menyusul istrinya ke dalam kamar, masih dengan pemikiran yang bingung kenapa Vania bersikap seperti itu padanya. Ketika Gara masuk ke dalam kamar, dia melihat Vania yang duduk diatas sofa sambil bermain ponsel di tangannya.

__ADS_1


"Sayang, kamu kenapa? Suami pulang kok malah di diemin kayak gini si"


Vania mendongak, menatap suaminya yang berdiri di depannya itu. Helaan nafas panjang terdengar. "Memangnya aku harus melakukan apa? Kamu sudah sampai dengan selamat dan dalam keadaan yang utuh. Jadi apa yang harus aku lakukan"


"Tapi kenapa sikap kamu dingin sekali sama aku.Sebenarnya kamu ini kenapa?"


"Tidak papa, aku hanya sedang lelah saja.Lebih baik kamu segera mandi"


Gara menatap tidak percaya pada istrinya itu. Bahkan Vania menyuruhnya untuk mandi, tapi dia tidak berniat menyiapkan peralatan mandi untuknya, seperti yang selalu dia lakukan selama ini. Jelas Gara sadar jika memang ada yang tidak beres dengan istrinya ini.


"Kamu gak mau siapin airnya untuk aku mandi? Siapin baju ganti juga"


"Kamu bisa sendiri 'kan, aku lagi males"


Gara benar-benar terkejut mendengar jawaban istrinya yang sangat dingin itu. Bahkan Vania berbicara seperti itu tanpa mngalihkan fokusnya pada layar ponsel yang ada ditangannya itu.


Gara berlalu ke ruang ganti dengan sedikit kesal karena sikap istrinya itu. Mengguyur tubuhnya dibawah shower, Gara masih merasa tidak menyangka jika istrinya bersikap seperti itu padanya.


Gara masih merasa heran dengan sikap istrinya yang tidak seperti biasanya. Gara merasa jika Vania marah padanya, tapi karena apa? Mungkinkah karena Gara terlalu lama berada di Ibu kota? Entahlah..


#####


Makan malam kali ini terasa sangat hening, meski yang sedang makan di meja makan ini adalah satu keluarga. Tapi entah kenapa mereka semua malah saling diam. Sepasang suami istri yang tidak bertegur sapa ketika makan malam.


Selesai makan malam, Vania membawa Gevin ke kamarnya, menemani anaknya hingga benar-benar terlelap.Barulah setelah Gevin terlelap, Vania akan pindah ke kamarnya. Tapi sepertinya malam ini dia tidak berniat kembali ke kamarnya. Vania malah ikut tidur bersama anaknya ini.


Di dalam kamar, Gara mulai gelisah saat istrinya tidak kunjung kembali. Gara bangun dan menyusul Vania yang berada di kamar Gevin. Benar saja, ketika dia masuk ke dalam kamar anaknya ini dia melihat Vania yang sudah terlelap dengan memeluk Gevin. Entah itu sengaja atau tidak, tapi Gara tetap tidak tega untuk membangunkan istrinya yang sedang terlelap itu.

__ADS_1


Gara duduk di pinggir tempat tidur, mengelus kepala istrinya dengan lembut. "Sebenarnya kamu kenapa? Apa yang membuat kamu marah sama aku. Gak biasanya juga kamu tidur di kamar Gevin.Biasanya semalam apapun kamu dikamar Gevin, tidak pernah sampai tidak kembali ke kamar kita. Ada masalah apasi sebenarnya"


Tidak mau menghilangkan kesempatan saat Gara baru saja sampai di rApartemen dan tidak bisa tidur bersama istrinya dan memeluknya. Tentu saja sangat tidak mungkin. Jadi Gara ikut naik ke atas tempat tidur, memposisikan dirinya di belakang Vania dan memeluknya dengan lembut,


"Tidurlah, aku akan selalu bersamamu dan menjagamu"


Dan entah pukul berapa sekarang, tapi Vania merasa bagian perutnya sangat berat, seolah ada benda yang menimpanya. Dan ketika Vania membuka mata, dia melihat suaminya yang memeluknya dengan erat, seolah tidak mau Vania pergi dari pelukannya ini.


Vania menatap langit-langit kamar, menghela nafas pelan. Sebenarnya Vania tidak ingin percaya dengan apa yang dia dengar. Tapi Vania jelas melihat suaminya sendiri yang mengiyakan kabar itu. Entahlah, Vania bingung harus melakukan apa saat ini.


Gara mengerjap, dia mengucek matanya yang terasa perih. Menyadari jika istrinya telah bangun. "Sayang, ayo kita pindah ke kamar. Ini masih dini hari"


Vania menoleh dan menatap suaminya itu dengan tatapan yang berkaca-kaca. "Kenapa harus berbohong padaku?"


Gara mengerutkan keningnya bingung, dia tidak mengerti dengan apa yang Vania ucapkan. Membohongi apanya? Gara tidak merasa telah membohongi istrinya itu.


"Aku tidak berbohong apapun padamu"


Vania tersenyum tipis, dia memalingkan wajahnya, kembali menatap langit-langit kamar. "Kamu sudah berbohong padaku, kenapa masih tidak mau mengaku juga. Apa memang kamu sudah merasa nyaman dengan kebohongan kamu ini"


Gara bangun dan terduduk diatas tempat tidur, menatap wajah istrinya yang terlihat begitu sedih dan kecewa. "Sayang, aku benar-benar tidak membohongi kamu. Memangnya apa yang aku bohongi kamu? Aku selalu berkata jujur sama kamu. Sebenarnya kamu ini kenapa?"


Vania tidak menjawab, dia bangun dan segera turun dari atas tempat tidur. Takut jika pertengkaran yang baru saja di mulai ini akan membangunkan anaknya yang sedang tidur. Vania berlalu keluar kamar anaknya dan Gara pun langsung menyusulnya.


"Sayang tunggu aku, kamu ini kenapa? Jelasin sama aku apa kesalahan aku yang sebenarnya?" Gara menahan lengan Vania yang terus berjalan meninggalkannya.


Vania menghempaskan tangan Gara yang berada di lengannya itu. "Lepasin! Kamu sudah membohongi aku, kamu bilang bercerai dengan Nona Yunita, tapi nyatanya kalian belum bercerai. Kenapa kamu tega sekali membohongi aku. Kalau memang kamu masih ingin bersamanya, ceraikan saja aku"

__ADS_1


Deg..


Bersambung


__ADS_2