Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 53 #Pil Kontrasepsi#


__ADS_3

Vania memeluk istrinya, dia menyandarkan kepalanya di dada suaminya itu. "Sayang, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu jika bukan kamu yang meminta untuk aku pergi dan menjauh dari kehidupan kamu. Kejadian dulu juga karena aku menerima pesan dari nomor ponsel kamu dan aku kira itu beneran kamu. Jadi ketika kamu sendiri yang menginginkan aku pergi dan tidak mau aku berada di kehidupan kamu lagi, maka aku tidak akan berpikir dua kali untuk pergi meninggalkan kamu"


"Jangan pernah berpikir jika aku akan melakukan itu. Karena sampai kapan pun aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu"


Vania melerai pelukannya dan menatap suaminya dengan tersenyum. "Iya Sayang, aku percaya sama kamu kalau kamu bisa melakukan membuat aku dan Gevin bahagia. Yaudah sekarang ayo kita pergi keluar. Masa ada Mama dan Papa kita malah berada di kamar"


Gara menghela nafas pelan, sebenarnya dia malas menemui Papa lagi. Karena istrinya yang tidak bilang appaun, tentu Gara tahu jika Papa telah membicarakan sesuatu hal yang membuat istrinya terluka.


"Ma, maaf ya karena aku malah diam di kamar"


"TIdak papa Sayang, kamu kenapa?"


Vania duduk disamping mertuanya itu. "Tidak papa Ma, aku hanya ingin tidur sebentar. Kepala aku agak pusing"


"Tapi kamu tidak papa 'kan? TIdak mau di periksa saja?'


Vania menggeleng pelan dan tersenyum pada Mama. "Tidak perlu Ma, sudah sembuh kok setelah aku tidur sebentar"


Vania menatap Gara dan Papa yang saling diam. Sebenarnya tidak mau Vania melihat keadaan anak dan Ayah yang seperti itu.


Maafkan aku karena aku telah membuat hubungan Ayah dan anak ini renggang. Tapi, aku tidak bisa meninggalkan Gara. Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?


"Emm. Kita makan siang disini ya, biar Vania memasak dulu"


"Biar Mama bantu Nak"


Vania dan Mama berlalu ke dapur,  meninggalkan Gara dan Papa yang masih saling diam itu.


"Cukup ikut campur  urusan pernikahan aku dan Vania Pa"


Papa menoleh pada anaknya itu, dia meghela nafas pelan. "Papa hanya tidak suka kamu bersama dia. Papa rasa dia bukan wanita yang baik untuk kamu"

__ADS_1


"Terus yang terbaik untuk aku siapa Pa? Yunita? Papa akan terus memaksa aku untuk menikah dengan wanita yang tidak aku cintai. Apa juga akan sanggup hidup selamanya dengan orang yang tidak Papa cintai?"


"Papa tahu Gara pasti sulit, tapi kenapa harus Vania?"


"Memangnya kenapa dengan Vania? Papa belum mengenal dia lebih dekat lagi, dan Papa tidak tahu bagaimana Vania yang sangat baik dan tulus"


Papa tidak menjawab lagi, dia hanya diam dan tidak menanggapi lagi ucapan anaknya itu.


Di dalam dapur, Vania sedang memotong-motong sayuran di bantu oleh Mama mertuanya. Mama duduk di depan Vania di meja makan itu. Menatap menantunya dengan rasa bersalah.


"Va, maaf ya kalau Papanya Gara masih belum bisa menerima kamu. Sebenarnya Mama juga tidak tahu kenapa Papa bisa begitu tidak setuju kamu bersama Gara. Intinya Papa masih terobsesi agar anaknya bisa bersama dengan Yunita"


Vania mendongak dan menatap Mama dengan tersenyum. "Tidak papa Ma, mungkin memang belum waktunya saja Papa menerima aku"


Mama menghela nafa pelan, dia meraih tangan menantunya yang sedang memegang sayuran itu. "Seandainya Papanya Gara melihat ketulusan kamu dan kesabaran kamu ini. Mungkin dia tidak akan langsung menerima kamu sebagai menantunya"


Di balik dinding dapur, Papa berdiri dengan helaan nafas panjang. "Seandainya kamu bukan Vania, mungkin aku juga akan menyukaimu"


Malam ini setelah  Gevin tidur, Vania kembali ke kamarnya. Berpelukan dengan suaminya diatas tempat tidur dengan nyaman. Gara terus mengelus kepala istrinya dan mengecup puncak kepalanya.


"Kamu benar-benar tidak mau bilang apa yang Papa bicarakan padamu tadi siang?"


Vania mendongak dan menatap wajah suaminya dengan tersenyum. "Memang tidak ada yang dibicarakan diantara kami"


Cup..


Gara mengecup bibir istrinya dengan lembut. Mengelus pipi Vania dengan lembut. "Aku tahu jika pasti ada yang dibicarakan oleh Papa padamu.Tapi kalau kamu memang tidak mau bilang. Yang terpenting kamu harus ingat jika aku sangat mencintaimu dan tidak akan bisa jika kamu pergi meninggalkan aku. Jadi apapun yang terjadi, tolong tetap disampingku dan jangan mendengarkan ucapan Papa"


Vania hanya tersenyum dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Gara. Sebenarnya apapun yang Papa ucapkan pada Vania, dia tidak akan meninggalkan suaminya tanpa alasan. Karena pernikahan ini hanya diantara mereka berdua, biarkan jika orang lain tidak suka. Termasuk Papa. Vania tidak peduli.


"Udahlah, sekarang kita tidur saja"

__ADS_1


Vania memejamkan matanya dengan memeluk suaminya. Meski banyak hal yang dia pikirkan, tapi jika terus bersama Gara dia tidak pernah merasa gelisah. Vania selalu merasa nyaman dalam pelukan suaminya ini.


Dan ketika pagi ini Gara terbangun lebih dulu dari istrinya, Tersenyum ketika melihat wajah istrinya yang terlelap dengan tenang.  Gara mengelus pipi Vania dengan lembut.


"Kau adalah gadis yang baik dan selalu kuat. Semoga kau akan selalu kuat untuk tetap bersamaku"


Gara mencium kening Vania sebelum dia bangun. Menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Lalu dia turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah ruang ganti.


Gara selesai mandi dan mengambil pakaian dari dalam lemari. Mungkin istrinya masih tidur karena belum ada pakaian yang tersedia untuknya.


Gara mengambil baju dan memakainya,  tapi tiba-tiba dia merasa penasaran dengan isi lemari istrinya. Iseng Gara membuka lemari istrinya dan disana banyak deretan baju yang Gara belikan juga milik Vania sebelum bersama Gara. Termasuk gaun tidur yang dia belikan kemarin. Jika mengingat hal itu membuat Gara tersenyum sendiri.


Dia iseng membuka laci dan ingin melihat ada apa di dalam laci itu. Namun Gara terdiam saat dia melihat sebuah benda kecil di dalam laci itu. Gara mengambilnya dan melihatnya dengan seksama.


"Pil kontrasepsi?"


"Sayang kamu lagi apa"


Vania langsung mengambil obat itu dan menyembunyikan di belakang tubuhnya. Dia menatap suaminya dengan wajah tegang.


"Jelaskan tentang itu? Jadi selama ini kau menggunakan itu untuk mencegah kehamilan? Kenapa? Apa kamu tidak mau mempunyai anak lagi denganku?"


Vania menunduk dengan bingung harus menjawab apa. Dia menggigit bibir bawahnya. "Bukan begitu, tapi...?"


Brak..


Gara menutup pintu lemari milik Vania dengan keras, membuat  Vania terlonjak kaget sampai memejamkan matanya.


"Kau benar-benar ya? Berani menyembunyikan hal sebesar ini dariku. Memangnya kenapa kau sampai tidak mau mengandung anakku lagi? Hah?"


Vania tidak bisa menjawab, karena dia juga bingung harus menjelaskan apa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2