
Pemeriksaan selanjutnya yang di lakukan oleh Dokter sudah dilakukan. Dan sudah seperti dugaan awal jika memang Gevin mengalami gagal ginjal pada sebelah ginjalnya.
"Sebaiknya segera mengambil tindakan karena memang kerusakannya sudah cukup parah"
Gara terdiam sambil merangkul bahu istrinya yang sedang menangis itu. "Berapa biayanya Dok?"
Dan Dokter pun menyebutkan nominal yang harus di bayar oleh Gara ketika dia akan melakukan transplantasi ginjal untuk anaknya.
Gara dan Vania duduk berdampingan di atas sofa dengan fikiran yang kacau dan melayang memikirkan tentang keadaan Gevin. Gara juga bingung dengan apa yang akan dia terjadi saat ini.
"Apa yang harus kita lakukan saat ini?"
Gara merangkul bahu istrinya dan mengecup pipinya dengan lembut. "Tenang saja, aku akan berusaha mencari tambahan uang untuk operasi Gevin"
"Sayang, aku bisa bekerja lagi, aku akan mengambil beberapa pekerjaan untuk bisa membantu kamu mengumpulkan uang"
"Kamu mau kerja dimana? Sudah kamu hanya perlu menjaga Gevin saja"
"Aku bisa kerja di toko Kak Jenny, terus malemnya bisa cari kerjaan lain"'
Gara menggeleng pelan, dia tidak akan membiarkan istrinya melakukan itu. Dia mengecup pipi Vania dengan lembut. "Tidak perlu, aku akan berusaha untuk mendapatkan biaya operasinya Gevin"
Vania bukannya tidak percaya pada suaminya, tapi dia juga harus membantu perekonomian suaminya saat ini. Apalagi dengan keadaan Gevin saat ini.
"Ibu.."
"Iya Nak?" Vania langsung menghampiri Gevin yang berada diatas ranjang pasien.
"Ada apa?"
"Gevin ingin pulang, kenapa Gevin masih berada di rumah sakit? Gevin sudah sembuh Ibu"
Vania tersenyum dengan matanya yang mulai berkaca-kaca. Mengelus kepala Gevin dan mengecupnya dengan penuh kasih sayang. "Sebentar lagi kalau Gevin sudah benar-benar sembuh, Dokter juga pasti akan mengizinkan Gevin pulang"
Vania hanya bisa menjelaskan seadanya saja, tentu dia tidak mungkin memberi tahu Gevin tentang keadaan dia yang sebenarnya.
__ADS_1
"Sayang, aku pergi keluar sebentar ya"
Vania langsung menoleh pada Gara, dia mengangguk saja. Dia tahu jika Gara sedang membutuhkan ketenangan saat ini. Mungkin Gara ingin menenangkan dirinya dulu.
Gara duduk di bangku taman rumah sakit, dia mengeluarkan rokok dari saku celananya. Gara memang bukan seorang pecandu rokok,tapi jika sedang ada masalah yang mengganggu pikirannya ini merokok adalah solusinya untuk menenangkan pikirannya sejenak.
"Mungkin memang sebaiknya aku meminta bantuan pada Papa"
######
Gara kembali ke ruangan Gevin dan melihat Vania yang sedang tidur dengan duduk dikursi ranjang pasien dengan kepala bersandar diatas ranjang pasien dengan kedua tangan menjadi bantalannya.
Gara mengelus kepala istrinya dengan lembut, merasa kasihan dengan istrinya yang beberapa hari ini sangat tidak banyak mempunyai waktu istirahat. "Sayang, pindah ke sofa yuk tidurnya"
Vania menggeliat pelan, dia bangun dan sedikit memijat belakang lehernya yang terasa pegal karena posisi tidur yang salah.
"Kamu abis dari mana barusan?"
"Aku hanya sedang tidur dan menenangkan diri saja di taman rumah sakit"
Vania mengangguk, dia berdiri dan berjalan ke arah sofa. Gara langsung merapikan sofa sebelum Vania tidur diatas sofa. "Sayang tidur saja, biar aku yang menjaga Gevin malam ini"
"Tunggu dulu!" Vania menahan tangan Gara saat suaminya itu akan pergi, Vania bengun kembali dari tidurnya dan mengendus tubuh suaminya. "...Sayang, kamu merokok?"
Gara terdiam beberapa saat, tentu saat dulu dia masih berpacaran dengan Vania, Gara belum menjadi perokok seperti sekarang. Ketika Gara berbalik dan menatap Vania yang sedang menatapnya dengan tajam. Tatapan yang entah kenapa selalu membuat Gara merasa takut.
"Sejak kapan kamu suka merokok?"
Gara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil tersenyum tipis pada istrinya itu. "Sayang, aku 'kan sedang tidak baik-baik saja saat kamu pergi dulu. Jadi aku melampiaskannya dengan merokok. Tapi aku merokok hanya kalau sedang banyak fikiran saja. Selebihnya aku tidak merokok. Aku bukan seorang yang pecandu rokok Sayang"
Vania mendengus kesal, dia memalingkan wajahnya yang cemberut kesal itu. "Tetap saja kamu tidak boleh merokok. Sayang, aku merasa heran karena kamu yang sekarang menjadi perokok. Padahal dulu kamu sangat takut mencoba rokok"
"Aku takut jika umurku tidak panjang jika aku menjadi seorang perokok. Karena aku ingin bersama kamu lebih lama"
Vania jelas masih mengingat ucapan suaminya pada saat mereka masih berpacaran dulu. Ya, Gara memang pemuda baik yang tidak banyak tingkah. Dia selalu menjadi mahasiswa yang berprestasi ketika kuliah. Selain dari wajahnya yang tampan, Gara juga memiliki otak yang cerdas. Semua itu yang membuat dirinya menjadi incaran banyak wanita. Termasuk dirinya.
__ADS_1
"Iya Sayang iya, tapi aku benar-benar hanya merokok di waktu dan keadaan menentu saja"
"Terserah kamu deh"
Gara yang melihat istrinya merajuk langsung duduk disampingnya dan memeluk Vania dengan erat. Menyandarkan dagunya di bahu Vania.
"Jangan terus merajuk dong Sayang"
"Lepas ih, kamu lebih baik pulang saja. Kamu juga membutuhkan istirahat. Biar aku saja yang menjaga Gevin disini"
Gara menggeleng pelan, dia tidak mungkin meninggalkan istrinya hanya seorang diri ketika dia sedang menjaga anaknya yang sakit.
"Kita tidur disini saja berdua sambil menjaga Gevin. Lagian besok pagi aku sudah harus pergi untuk mencari tambahan biaya untuk operasi Gevin. Agar dia bisa segera pulang dari rumah sakit"
Gara membenarkan posisinya diatas sofa dan Vania tidur dengan setengah tubuhnya berada diatas dada Gara. Menyandar dengan nyaman, ketika suaminya yang juga memeluknya dengan erat.
"Tidurlah kesayangan aku"
Vania tersenyum mendengar itu, dia mengecup dagu suaminya sebagai balasan ungkapan kata sayang dari suaminya itu.
"Sayang jangan mulai deh, aku tidak mungkin melakukannya di rumah sakit"
Plak..
Vania langsung memukul dada suaminya mendengar ucapan suaminya yang jelas menjurus pada hal mesum. "Sudah tidur saja, jangan berfikir aneh-aneh kamu"
Gara terkekeh, dia semakin mengeratkan pelukannya pada Vania. Mengecup kening istrinya dengan penuh cinta. "Abisnya kamu yang membuat aku tergoda duluan"
"Apaan si, dasar kamu ini"
Gara tersenyum, semakin mengeratkan pelukannya dan terlelap dengan nyaman. Vania juga mulai terlelap dalam pelukan suaminya itu. Berharap jika esok pagi akan ada kabar yang lebih baik dari pada hari ini.
Berharap jika Gevin akan segera mendapatkan donor dan Gara juga bisa segera melunasi biaya operasi untuk anaknya itu.
Besok aku harus sudah mendapatkan uang untuk biaya operasi Gevin.
__ADS_1
Meski matanya terpejam, tapi ingatan Gara benar-benar melayang memikirkan tentang keadaan anaknya saat ini. Gara tidak bisa benar-benar tidur ketika keadaan anaknya masih dalam ambang kematian.
Bersambung