Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Bab 15 #Ancaman Papa#


__ADS_3

Gara baru saja sampai di rumah kedua orang tuanya, dia langsung menghampiri Papa dan Mama yang sedang menyantap sarapan mereka pagi ini.


"Gara, kamu sudah pulang Nak?" tanya Mama dengan lembut


"Pa,  apa  yang Papa lakukan pada 5 tahun lalu? Apa Papa sengaja membuat Vania pergi dari hidupku?"


Suasana ruang makan yang awalnya tenang, kini berubah menjadi terasa mencekam. Beberapa pelayan yang ada disana dan melihat jelas kemarahan Gara, membuat mereka ketakutan dan langsung pergi dari sana. Tidak mau ikut campur atas pertengkaran keluarga ini.


"Apa maksdumu? Papa tidak melakukan apa-apa. Jelas gadis itu sendiri yang meninggalkan kamu tanpa memberikan alasan yang jelas. Kenapa sekarang kamu malam menyalahkan Papa"


"Pa, Gara tidak tahu kenapa Papa tidak setuju dengan hubungan Gara dan Vania. Tapi kenapa Papa harus melakukan hal itu? Papa 'kan yang telah mengirim pesan pada Vania dengan ponselku? Karena saat aku pergi ke luar kota untuk mengurus pekerjaan yang kata Papa penting itu, Papa tidak mengizinkan aku untuk membawa ponsel dengan alasan jika itu akan mengganggu pekerjaanku. Dan bodohnya aku percaya dan menuruti perkataan Papa itu"


Mama yang melihat kemarahan anaknya yang meluap-luap itu membuat dia segera berdiri dan menghampiri Gara. Memegang lengan anaknya itu dengan pelan. "Gara, tenang Nak. Kamu jangan termakan emosi, dengarkan penjelasan Papa kamu dulu"


Gara menatap Mama dengan tidak percaya, dari perkataan Mama barusan benar-benar menunjukan jika Mama mengetahui tentang ini semua dan dia  juga mendukung apa yang Papa lakuka.


"Apa Mama juga mengetahui tentang semua ini dan Mama juga mendukung keputusan Papa?" Gara melepaskan dengan perlahan tangan Mama yang ada di lengannya. "...Aku benar-bena tidak menyangka Mama akan seperti ini dan mendukung keputusan Papa. Memangnya kenapa si kalian begitu tidak suka dengan Vania?"


Mama hanya diam, dia sebenarnya tidak terlalu mendukung keputusan suaminya saat itu. Namun, Mama juga tidak bisa melakukan apapun ketika Papa sudah mengambil keputusan.


"Aku akan menikahi Vania, dengan atau tanpa restu kalian"


Brakk..


Papa langsung berdiri dengan menggebrak meja makan, dia berbalik dan menatap Gara dengan tajam. "Berani kau melakukan itu, maka hidup Vania tidak akan baik-baik saja. Lihat saja! Papa bisa membuat Vania pergi dari hidupmu selama bertahun-tahun, maka saat ini Papa bisa membuat lebih dari itu. Mungkin Vania  akan pergi dari hidupmu untuk selamanya"


Deg..


Gara terdiam mendengar itu, jelas ucapan Papa bukan sekedar ancaman semata. Dan  tentu saja  Gara tidak akan pernah membiarkan Vania kembali terluka. Sudah cukup penderitaan yang gadis itu lewati selama ini. Gara benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.Dia hanya tidak mau jika Vania akan kembali menjadi korban jika  dirinya tidak menuruti perkataan Papa.

__ADS_1


Gara berlalu dari ruang makan dan masuk ke dalam kamarnya. Mengabaikan teriakan Mama yang memanggilnya. Gara mengunci pintu kamar, dia duduk di pnggir tempat tidur dengan mengusap wajah kasar.


"Ya Tuhan, aku harus bagaimana sekarang. Aku hanya ingin melindungi Vania dari Papa, aku juga harus menyembunyikan tentang keberadaan Gevin, takutnya Papa akan semakin menekan aku dengan ancaman akan melukai Gevin juga"


######


Tok..tok..


"Be, ini aku. Kenapa kamu pulang tidak langsung menemuiku?"


Gara masih tidur terlentang diatas tempat tidur ketika suara ketukan di pintu kamarnya terdengar. Dan dia tetap di posisinya, tidak berniat sedikit pun untuk membukakan pintu untuk istrinya itu.


Vania, aku mencintaimu.


Hanya kalimat itu yang terus terucap dalam hati dan pikiran Gara. Dia tidak bisa melepaskan Vania begitu saja, setelah selama 5 tahun ini dia telah berusaha sebiasa mungkin untuk menemukan Vania. Namun, gadis itu tidak Gara temui di man pun, hingga pada akhirnya takdir kembali mempertemukan mereka saat ini.


Tidak peduli apapun yang terjadi, aku akan tetap mempertahankan Vania. Meski harus bersembunyi dari Papa.


Tok..tok..


"Be, buka pintunya? Apa kamu sedang tidur?"


Kembali terdengar suara Yunita diiringi dengan ketukan di pintu kamar. Gara menghembuskan nafas kasar, dia bangun dan berjalan ke arah pintu kamar. Sudah saatnya bersandiwara. Gumamnya.


Ceklek..


Gara membuka pintu kamar, dan tersenyum pada Yunita. Meski senyuman itu jelas sekali terlihat sangat dipaksakan. "Maaf Yu, aku langsung kesini karena ada perlu dulu sama Papa. Kamu kapan datang? Dan darimana kamu tahu aku ada disini?"


Yunita tersenyum miris dengan pertanyaan Gara itu. Bahkan dia tidak berniat mengabari Yunita sebagai istrinya, ketika dia sampai ke Ibu kota. Dia juga tidak langsung menemuinya saat sudah sampai.

__ADS_1


Aku akan tetap mempertahankanmu hingga kamu benar-benar akan mencintaiku.


"Aku di telepon Mama tadi, dan memberi tahu jika kamu sudah berada disini"


Gara mengangguk mengerti, dia menutup pintu kamar dan mengajak Yunita untuk duduk di sofa ruang tengah. Yunita dengan manjanya menyandarkan kepalanya di bahu Gara, meski suaminya itu tidak balas merangkulnya atau memeluknya. Hanya diam, tapi tetap membiarkan Yunita melakukan apa yang dia ingin lakukan.


"Bagaimana kabar kamu disana? Apa semua pekerjaan kamu sudah selesai semua?"


"Tentu saja belum, aku sengaja pulang dulu kesini untuk melihat keadaan kamu"


Mendengar itu, Yunita benar-benar tersenyum senang. Dia tidak menyangka jika suaminya itu juga mempunyai sedikit saja perhatian padanya. "Makasih karena sudah peduli sama keadaan aku. Jadi, kapan kamu akan kembali ke kota itu?"


"Aku akan berada disini beberapa hari untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantorku"


Yunita mengangguk mengerti, dia merasa tidak masalah jika Gara banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan diluar kota. Karena dirinya juga memliki pekerjaan yang hampir setiap minggunya pasti ada bepergian ke luar kota, meski hanya satu malam saja.


"Baiklah, kamu  baik-baik ya disana"


Gara mengangguk, suasana berubah menjadi hening ketika tidak ada lagi pembahasan diantara keduanya. Wajah Gara langsung berubah menjadi sangat dingin ketika dia melihat kedatangan kedua orang tuanya itu.


"Ya ampun Yu, benar ya jika sama istrinya baru Gara mau keluar kamar. Padahal sejak tadi Mama sudah mencoba menyuruhnya keluar kamar, tapi tidak di dengar oleh Gara"


Yunita tersenyum mendengar itu, dia merasa jika Gara memang sudah mulai mebuka hati untuknya. "Iya Ma, mungkin memang Gara maunya aku samperin. Soalnya dia pulang,  kok tidak langsung menemuiku"


"Ya, memang begitu Gara. Dia selalu merasa gengsi jika harus menemui lebih dulu" kata Papa dengan senyuman tipis pada Yunita. Seolah tidak sadar dengan apa yang telah dia lakukan tadi.


Gara benar-benar bungkam dan tidak bicara apapun sejak orang tuanya datang dan ikut bergabung dengan dirinya dan Yunita. Melihat dan mendengarkan obrolan yang penuh dengan kemunafikan ini.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2