Noda Dan Luka

Noda Dan Luka
Ban 28 #Tidak Mudah Memulai Usaha Baru#


__ADS_3

"Sayang, makasih ya.  Berkat kamu, sekarang sudah ada beberapa orang yang mendaptar untuk menjadi jasa gofood"


Vania tersenyum mendengarnya, dia merasa senang melihat wajah bahagia suaminya. Vania mengelus rambut Gara, merapikan rambut suaminya yang belum tersisir karena baru selesai mandi.


"Sayang, aku senang melihat kamu bahagia. Semoga usaha kamu semakin maju ya"


Gara mengangguk dengan senyuman bahagia. Jelas dia merasa lebih bahagia karena selalu mendapat dukungan penuh dari istrinya itu. Gara mengecup kening istrunya dengan lembut.


"Sayang, aku tidak tahu bagaimana aku bisa hidup tanpa kamu. Emm. Oh ya besok aku akan ke kota untuk menghadiri sidang perceraian. Apa kamu mau ikut?"


Vania sedikit berpikir, jika dia ikut bagaimana dengan Gevin. "Tidak usah, aku menunggu kamu saja disini"


Gara mengelus pipi istrinya dengan lembut. "Yaudah, aku tidak akan lama. Sampai sidangnya selesai maka aku akan segera kembali"


Vania tersenyum dan mengangguk, dia mengalungkan tangannya di leher suaminya. Dia tersenyum menggoda pada suaminya. Cup.. Vania mengecup bibir Gara sekilas sebelum dia langsung pergi keluar dari ruang ganti itu. Hanya sengaja untuk menggoda suaminya saja.


"Sayang, awas kamu ya!" Teriak Gara dengan senyuman tipis. Dia memegang bibirnya sendiri, bekas bibir Vania masih terasa hangat di bibirnya. Meski ini bukan yang pertama untuk mereka. Tapi entah kenapa setiap kali Vania memberikan ciuman kejutan seperti ini, selalu membuat Gara merasa senang. Hatinya berdebar saat itu juga.


Gara keluar dari kamar dan menuju dapur, disana dia melihat Vania yang sedang menyuapi Gevin yang sedang fokus pada game di tangannya. Gara menarik kursi di samping istrinya dan duduk disana.


"Gevin, makan sendiri. Jangan main gime disaat makan. Kasihan Ibu kalau harus nyuapin kamu juga"


Gevin langsung mendongak dan menatap pada Ayahnya. Gevin selalu merasa taku ketika melihat Ayahnya yang sedang bersikap tegas seperti ini. Gevin segera mematikan game ditangannya dan menyimpannya di atas meja.


"Iya Pa"


Vania mengelus kepala anaknya ketika melihat Gevin yang seperti ketakutan melihat Ayahnya. "Tidak papa Nak, Ibu senang masih bisa menyuapi Gevin. Nanti kalau Gevin sudah besar, sudah pasti tidak akan mau disuapi oleh Ibu lagi"


"Sayang, kamu terlalu memanjakan dia, nanti Gevin akan terbiasa manja sama kamu"

__ADS_1


Vania langsung menoleh pada Gara yang duduk di sampingnya. Dia meraih tangan Gara yang berada di atas meja, menggenggamnya dengan lembut. "Sayang, kamu yang terlalu keras. Gevin masih anak di bawah umur, jadi wajar kalau dia masih ingin bermanja pada Ibunya. Kamu saja masih suka manja sama aku"


Gara bungkam seketika, ucapan istrinya membuat Gara terdiam, karena memang dirinya juga tidak bisa jika berhenti bermanja pada istrinya. Vania hanya menahan tawanya ketika melihat suaminya yang langsung bungkam ketika dia berbicara seperti itu.


"Sudah sekarang ayo makan"


"Gevin makan sendiri saja Bu"


"Yaudah, anak pinter"


Pagi ini keluarga kecil ini sarapan bersama dengan perasaan bahagia. Gara tidak pernah menyangka jika dirinya akan mengalami hal seperti ini. Makan bersama wanita yang di cintainya dan anaknya.


Kebahagiaan itu memang sederhana, asalkan kita tetap bersama dengan orang yang tepat.


######


Membuka usaha baru memang bukan hal mudah untuk semua orang. Meski Gara sudah berpengalaman menjadi seorang pemimpin di perusahaan yang cukup besar milik kedua orang tuanya. Tapi, memulai usaha yang benar-benar dari awal tidak semudah itu. Meski sudah ada beberapa karyawan yang siap bekerja dengan Gara dan Jayden. Namun, tetap saja masih belum ada yang percaya untuk mengorderkan makanan atau barang dengan jasa kurir ini.


Jayden masuk ke dalam ruang kerja Gara, dia melihat wajah Gara yang frustasi itu. Jayden menghampiri Gara dan duduk di kursi depan Gara, hanya terhalang meja kerja saja.


"Sabar Ga, ini masih permulaan. Belum satu bulan buka usaha kita ini. Tentu masih banyak yang belum mengetahuinya"


Gara mengusap wajah kasar, dia cukup bingung dan hampir putus asa dengan semua ini. Tapi, beruntung karena Gara masih memiliki Jayden. Orang yang benar-benar setia padanya meski dalam keadazn susah seperti ini.


"Aku takut jika apa yang kita lakukan akan sia-sia"


"Tidak akan, karena tidak ada perjuangan dan pengorbanan yang sia-sia"


Gara hanya takut jika dia tidak bisa memenuhi kebutuhan anak dan istrinya. Merasa jika dirinya memang tidak mempunyai apa-apa yang bisa dibanggakan saat ini. Namun Gara tidak tahu jika yang Vania selalu banggakan dari dirinya adalah ketulusan Gara dan kasih sayangnya. Setianya Gara selama ini. Bukan sebuah harta yang mungkin akan hilang kapan saja.

__ADS_1


Dan malam ini Gara pulang ke Apartemen dengan keadaan yang lesu. Seharian dia bilang bekerja pada istrinya, tapi benar-benar tidak menghasilkan apapun.


"Sayang, sudah pulang ya" Vania langsung menghampiri suaminya dengan tersenyum.


"Iya, aku mau mandi dulu"


Vania terdiam ketika melihat sikap Gara, yang langsung berlalu begitu saja ke arah kamar. "Ada apa dengannya? Apa dia marah padaku?"


Vania langsung menyusul suaminya ke arah kamar. Masuk ke dalam kamar, Vania tidak menemukan Gara. Dia berfikir jika Gara pasti sedang mandi. Jadi Vania lebih memilih menyiapkan pakaian ganti untuknya dan menunggu Gara selesai mandi.


Vania menghela nafas pelan, dia tahu jika suaminya itu sedang bingung dengan keadaan saat ini. Usahanya yang baru dimulai dan belum menghasilkan apa-apa. Sementara uang tabungannya sudah hampir habis untuk modal. Vania bisa mengerti keadaan Gara saat ini.


"Sayang, ini bajunya" kata Vania ketika melihat Gara yang sudah keluar dari ruang ganti. Dia menyodorkan baju ganti untuk Gara yang sudah dia pegang.


"Iya"


Vania menghela nafas, melihat sikap Gara. Suaminya itu mengambil pakaian dari tangan Vania dan langsung memakainya tanpa memperdulikan Vania yang masih berada disana. Tidak bisa terus menerus melihat sikap suaminya yang seperti ini, Vania berjalan menghampirinya dan memeluk tubuh Gara dari belakang.


"Sayang, kamu kenapa si? Apa aku punya salah padamu?"


Gara menghela nafas pelan, tidak seharusnya dia mendiamkan istrinya disaat pekerjaannya yang sedang bermasalah. Karena Vania tidak tahu apa-apa tentang itu. Gara berbalik dan menatap Vania dengan lekat.


"Maaf ya, aku tidak bermaksud mendiamkanmu. Aku hanya sedang pusing dengan pekerjaan saja"


Vania mengelus dada Gara dengan lembut, sedikit merapikan baju yang di pakainya. "Semuanya akan baik-baik saja. Kamu sudah berusaha sekeras ini, dan pasti suatu saat nanti kamu akan bisa berdiri diatas kakimu sendiri. Membangun usaha tanpa bantuan orang tuamu"


Gara hanya tersenyum, dia juga berharap begitu suatu saat nanti.


Bersambung

__ADS_1



__ADS_2