
Pagi ini Vania terbangun dengBab 23an tubuh yang terasa sangat remuk. Bangun terduduk dengan menarik selimut sampai ke dadanya untuk menutupi tubuhnya yang polos. Melirik ke sampingnya dimana Gara masih terlelap dengan nyaman. Vania mengelus lembut kepala suaminya itu.
"Gara, ayo bangun"
"Emmhh" Gara hanya bergumam pelan, malah semakin mendekatkan tubuhnya pada Vania. Memeluk kaki Vania yang berselonjor dengan erat. "...Bisa gak mulai sekarang manggilnya seperti dulu lagi, jangan Gara, Gara... Aku gak suka dengarnya"
Vania terkekeh mendengar itu, dia jelas tahu apa yang diinginkan Gara. Ketika dulu mereka masih berpacaran, maka Vania dan Gara selalu memanggil sayang. "Yaudah, iya Sayang"
Gara tersenyum meski masih dengan matanya yang terpejam. Dia senang mendengar panggilan itu lagi dari Vania. Rasanya sudah sangat lama dia tidak mendengarkan panggilan itu, hingga membuatnya rindu sekarang.
Vania mengelus kepala Gara yang berada di atas pahanya. "Ayo bangun, sudah pagi"
"Sebentar lagi, aku masih sangat merindukan pelukanmu ini"
Vania tersenyum, dia terus mengelus kepala suaminya dengan lembut. Merasa jika saat ini mereka memang sangat bahagia dengan keadaan ini. Bisa bersama kembali dengan Gara adalah satu mimpinya yang terwujud.
"Sayang, terima kasih untuk semalam ya. Aku benar-benar merindukan kenikmatan itu bersamamu"
Vania terdiam, dia mengingat kembali kejadian tadi malam. Merasa jika dirinya adalah hal yang sangat dirindukan Gara ketika melakukan hal itu. Namun, bagaimana dengan Gara dan Yunita selama ini? Jelas mereka telah menikah dan pasti akan melakukan hal itu.
"Bukannya kamu bersama dengan Nona Yunita, kalian juga sudah menikah. Seharusnya..." Vania sedikit ragu untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Gara sadar apa yang ingin dibicarakan oleh istrinya. Dia langsung bangun dan menatap istrinya dengan lembut. "Sayang, aku tidak pernah melakukannya selain denganmu"
Vania terkejut mendengarnya, menatap Gara dengan tatapan bingung dan penuh tanya. "Sayang, kamu gak bercanda 'kan? Kalian sudah menikah, dan aku melihat kalian juga harmonis ketika membeli bunga di toko. Kenapa kamu bilang jika tidak pernah melakukannya dengan Nona Yunita. Aku tidak percaya itu"
"Hei, dengar aku!" Gara memegang bahu Vania dan menatapnya dengan lekat. "...Aku tidak akan pernah melakukannya dengan siapapun selain dengan wanita yang aku cintai"
__ADS_1
Deg..
Vania jelas melihat ketulusan dan kejujuran dibalik mata Gara. Dan Vania benar-benar tidak menyangka jika Gara sesetia itu padanya, hingga tidak mengkhiabatinya. Kekecewaan Vania benar-benar tidak berdasar. Karena ternyata bukan Gara yang menyuruhnya pergi, bahkan dia masih begitu menjaga hatinya hanya untuk Vania. Meski dia telah menikahi wanita lain sebelum Vania.
"Sayang, apa aku memang seberharga itu"
Gara mengecup kening istrinya dengan lembut. "Tentu saja, kamu dan Gevin adalah yang paling berharga untuk aku"
Tidak bisa berkata-kata lagi, Vania langsung memeluk Gara dengan erat. Merasa sangat bersyukur karena kembali bisa bersama Gara setelah selama ini mereka berpisah.
"Terima kasih untuk semuanya"
######
Pagi ini Gara meminta izin pada Vania untuk pergi karena ada urusan sebentar. Sebenarnya Vania juga penasaran kemana perginya Gara. Namun, suaminya itu tidak menjelaskan apa tujuannya pergi. Jadi, Vania hanya mengiyakan meski dengan rasa penasaran yang cukup tinggi dalam pikirannya.
Gara telah sampai di sebuah Restaurant. Dia masuk ke dalam ruangan VVIP. Menemui seseorang yang sudah berada disana. "Bagaimana?"
"Ya aku tahu itu, tapi aku tidak peduli dengan itu. Aku hanya ingin hidup tenang bersama Vania dan anakku"
Di apartemen, Vania baru saja selesai memasak makan siang. Gara bilang dia akan pulang untuk makan siang bersama. Vania menata makanan di atas meja makan ketika suara bell pintu terdengar begitu nyaring. Vania segera mencuci tangan dan membuka apron, lalu berjalan ke arah pintu. Vania terdiam ketika pintu terbuka dan melihat orang yang sekarang berdiri di depannya.
"Kau benar-benar tidak mendengar ucapanku ya. Berani sekali kau menghancurkan keluarga anakku"
Vania terdiam melihat Papa yang sekarang berdiri di depannya. Dia melirik ke belakang, takut jika Gevin akan mendengar pertengkaran ini. Vania segera keluar dan menutup pintu apartemen. Mencegah Gevin mendengar perdebatan yang akan terjadi. Vania hanya tidak mau jika anaknya sampai menilai tidak baik pada Kakeknya ini.
"Tuan, saya bisa jelaskan semuanya. Saya tidak bisa terus menghindar dari Gara.karena aku sangat mencintainya, dan Gara juga mencintaiku. Maaf kalau aku tidak bisa menuruti keinginan Tuan. Karena memang saya menginginkan Gara dalam hidup saya"
__ADS_1
"Kau!" Papa sudah mengangkat tangan dan siap menampar wajah Vania, sebelum ada sebuah tangan yang menahannya dengan kuat.
"Jangan pernah menyakiti istriku!"
Gara menghentakan tangan Papa yang hampir saja melukai istrinya. Melihat wajah merah Vania saat terkena tamparan dari Yunita saja sudah membuatnya sangat marah. Apalagi jika pipi Vania akan kembali terkena tamparan dari Ayahnya sendiri.
"Kau hanya dibutakan oleh cinta, bahkan apa yang kau banggakan dari wanita ini? Jelas dia bukan seorang wanita yang baik. Karena dia tega merusak pernikahan kamu dan Yunita yang baru saja dimulai itu"
"Papa jangan pura-pura tidak tahu atau lupa dengan semuanya. Jelas Papa tahu jika aku hanya mencintai Vania. Pernikahanku dengan Yunita hanya sebuah paksaan dari Papa untuk kemajuan perusahaan Papa itu. Iya 'kan?"
Papa terdiam dengan mengepalkan tangan erat. Merasa jika semuanya sudah tidak bisa dia atur lagi. Gara sudah menemukan Vania, gadis yang dicintainya yang pernah pergi karena perbuatan Papa saat itu.
"Jika kamu masih mempertahankan wanita ini. Maka kau bukan keluarga kami lagi. Jangan pernah memakai semua kekayaan keluarga kami lagi"
Vania tentu terkejut mendengar ucapan itu, dia langsung meraih tangan Gara dan menggenggamnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika akan ada ucapan seperti itu dari Ayahnya Gara ini, hanya karena dia tidak setuju Gara bersamanya. Vania mulai merasa jika dirinya memang menjadi sumber kesulitan di kehidupan Gara.
"Baik, aku akan pergi dan meninggalkan perusahaan Papa dan melepaskan semua fasilitas dari Papa"
Deg..
Papa terdiam mendengar ucapan Gara barusan. Dia tidak menyangka jika putra satu-satunya itu akan melawan dirinya, bahkan Gara rela melepaskan semua fasilitas yang ada hanya demi seorang gadis sederhana seperti Vania.
"Sayang..." Vania juga sam terkejutnya, bahkan dia tidak bisa berkata-kata lagi saat ini. Vania juga tidak menyangka jika Gara akan melakukan ini.
"Kita masuk sekarang"
Gara menarik tangan Vania untuk masuk ke dalam Apartemen, meninggalkan Papa yang masih diam mematung ditempatnya.
__ADS_1
Bersambug