
Vania duduk menyandar diatas tempat tidurnya, dengan tangan yang terus mengelus kepala anaknya yang sudah terlelap. Sudah tiga hari berlalu sejak kepergian Gara ke ibu kota, dan anaknya itu selalu rewel sejak kepergian Ayahnya itu. Selalu menanyakan kemana Ayahnya pergi dan kapan akan kembali.
"Dia bilang akan menghubungiku jika dia sedang merindukan aku atau mungkin merindukan anaknya. Tapi, mana mungkin dia merindukan kita disaat disana juga ada istri sahnya"
Vania menghela nafas pelan ketika mengingat tentang itu. Hatinya mulai tidak bisa dia kendalikan lagi. Apalagi ketika Gara telah menjelaskan semuanya malam itu. Dimana saat Gara mulai mengetahui tentang pesan yang ternyata memang tidak di kirim olehnya. Rasanya Vania mulai menyadari jika Gara memang masih mempunyai perasaan yang sama dengannya sampai saat ini.
Vania menggeleng cepat, dia tidak boleh sampai berpikir terlalu jauh sekarang. Karena menunda harapan terlalu tinggi pada seseorang akan membuat dirinya kembali kecewa. Karena Vania juga sudah pernah kecewa dengan Gara, meski dia tahu saat ini jika bukan Gara yang memintanya pergi saat itu.
Drett..Drett..
Vania melirik ke arah nakas, dimana ponselnya yang bergetar disana. Dia segera mengambil ponselnya itu dan melihat siapa yang menelepon. Dan ternyata memang penelepon itu adalah sosok yang baru saja di pikirkan dalam ingatannya.
"Hallo"
Di kota yang berbeda, Gara tersenyum dengan perasaan bahagia ketika dia mendengar suara Vania. Wanita yang dia rindukan selama ini. Gara hanya sedang mengerjakan banyak hal hingga dia tidak sempat menghubungi Vania.
"Sayang, apa kabarmu? Dimana Gevin? Aku sangat merindukanmu"
Vania tersenyum tipis, merasa tidak yakin dengan ucapan Gara itu. "Kemana saja selama tiga hari ini tidak menghubungiku? Padahal Gevin sudah rewel sejak kamu pergi"
"Maaf ya, aku banyak pekerjaan disini. Besok aku pulang, aku akan langsung menemui Gevin dan kamu"
"Emm. Baiklah"
Gara tersenyum tipis saat dia merasa jika Vania sudah mulai memberikan kesempatan lagi padanya. Terdengar dari nadanya yang hangat, membuat Gara ingin segera menemuinya.
"Tunggu aku ya, besok aku akan pulang"
Vania hanya bergumam pelan, sebenarnya entah kenapa hatinya merasa senang ketika mendengar Gara akan segera pulang. Meski Vania terus mencoba untuk tidak terjerumus pada hati yang sama.
__ADS_1
Seharusnya aku tidak boleh jatuh cinta lagi padanya. Ingat Vania, Gara sudah mempunyai istri.
Pagi ini Vania kembali dibingungkan dengan Gevin yang kembali tantrum, dia terus memanggil Ayahnya dan ingin bertemu dengan Gara.
"Ibu jahat, kenapa Ibu tidak mau tinggal bersama Papa? Kenapa Ibu yang ingin berpisah dari Papa. Ibu, Gevin mau Papa. Gevin ingin Ibu dan Papa tinggal bersama Gevin"
Vania hanya mampu menghela nafas pelan dengan sikap anaknya itu. Vania memeluk Gevin yang terus memukulnya dengan tangisan yang kencang. "Gevin, Nak kamu harus mengerti jika Ibu dan Papa tidak bisa bersama"
Tangisan Gevin malah semakin jadi dan semakin kencang. Jenny dan Ibu juga ikut menenangkan Gevin. Mereka juga bingung bagaimana caranya menenangkan Gevin.
"Va, sepertinya lebih baik kamu mengalah dengan keegoisan kamu ini. Kasihan Gevin jika terus seperti ini"
"Iya Nak, mengalah untuk anakmu"
Dan Vania terdiam mendengar ucapan Jenny dan Ibu. Apa mungkin saat ini adalah waktunya untuk Vania mengalah dan menyudahi keegoisannya ini. Vania benar-benar bingung dengan semua ini. Jelas Vania merasa sangat kasihan pada anaknya yang setiap hari harus seperti ini sejak dia bertemu dengan Ayahnya.
######
Malam ini Gara baru sampai di kota ini, dia tidak bisa menemui Vania langsung malam ini karena terlalu larut. Tapi bersyukurnya karena dia bisa segera sampai di kota ini. Meski tidak bisa langsung menemui Vania dan Gevin.
Gara merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur di apartemennya ini. Mentap langit-langit kamar dengan tatapannya yang menerawang. "Seandainya saat itu aku tidak percaya dengan Papa. Mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Tapi menyesal pun hanya percuma karena semuanya sudah terjadi. Saat ini aku hanya ingin membuat Vania bahagia, meski aku harus berkorban banyak demi dia"
Gara menghembuskan nafas kasar ketika dia mengingat lika-liku hidup dan perjalanan cintanya dengan Vania. Rasanya, Gara tidak bisa menjadikan semuanya baik-baik saja saat ini. Namun dia hanya akan mempertahankan Vania.
Dan pagi ini Gara sudah siap untuk pergi menemui anaknya dan Vania. Gara melirik paper bag di atas tempat tidur dengan senyuman tipis. Membayangkan senyum anaknya yang bahagia ketika mendapatkan mainan baru dari Gara.
Gara menenteng paper bag itu dan keluar dari apartemennya. Turun ke lobby dengan lift, Gara sapai di parkiran dan mulai melajukan mobilnya menuju rumah Jenny. Dimana Vania dan anaknya tinggal.
Sampai disana, Gara melihat pemandangan yang menyayat hatinya. Dimana Gevin yang sedang mengamuk pada Vania dengan terus memanggil Gara. Vania yang memeluk dan mencoba menenangkan anak itu, malah terus terkena pukul dari tangan mungil itu.
__ADS_1
"Gevin, Papa pulang Nak"
Mendengar suara Ayahnya itu, Gevin langsung berhenti memukuli Ibunya. Dia tersenyum saat melihat Gara yang berjalan ke arahnya. Gevin langsung berlari pada Ayahnya itu.
Gara langsung menggendong Gevin dan mengecup pipi anak itu. "Kenapa Gevin memukul Ibu? Kasihan Ibu, Nak. Gevin tidak boleh begitu lagi ya"
Gevin mengangguk, dia melingkarkan tangan mungilnya di leher Gara.
"Bangun Sayang" kata Gara ketika dia melewati Vania yang masih terduduk di lantai.
Vania menghembuskan nafas lega, karena anaknya sudah bisa lebih tenang saat Ayahnya datang. Vania bangun dan duduk di kursi yang ada di teras, di sebelah kursi yang di duduki oleh Gara yang sedang memangku Gevin. Hanya terhalang satu meja kecil saja.
"Gevin, kamu gak boleh kayak gitu lagi sama Ibu ya. Kasihan Ibu kesakitan saat Gevin pukul seperti tadi. Oh ya, Papa membawakan hadiah untuk Gevin"
Gara memberikan paper bag yang dibawanya pada Gevin. Anak itu langsung antusias dan membuka paper bag itu. Turun dari pangkuan Gara dan mulai membuka mainan yang dibawakan oleh Ayahnya itu. Namun wajah cerianya itu hanya sekejap saja. Gevin menunduk dengan wajah ssedih, membuat Gara dan Vania saling menatap bingung dengan anaknya itu.
"Sebenarnya yang Gevin inginkan bukan hanya sebuah mainan saja. Tidak papa jika Gevin tidak membeli mainan lagi asalkan Papa dan Ibu bisa tinggal bersama Gevin seperti orang tua teman Gevin yang lainnya"
Deg..
Vania langsung menatap Gara dengan mata yang berkaca-kaca. Merasa jika selama ini dirinya sudah menjadi sosok yang baik hingga menganggap jika Gevin akan cukup tinggal hanya bersamanya saja. Tanpa sosok seorang Ayah pun. Namun ternyata Vania salah, anaknya tetap membutuhkan orang tua yang lengkap.
Vania turun dan duduk disamping Gevin, mengelus lembut kepala anaknya itu. "Ibu dan Papa akan kembali bersama dan tinggal bersama seperti yang diinginkan Gevin"
Deg...
Gara menatap Vania dengan tatapan penuh tanda tanya.
Bersambung
__ADS_1